{"id":138677,"date":"2021-09-07T11:30:42","date_gmt":"2021-09-07T04:30:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=138677"},"modified":"2021-09-07T00:13:52","modified_gmt":"2021-09-06T17:13:52","slug":"masjid-ahmadiyah-dibakar-prosesi-ibadah-agama-lain-dihina-selanjutnya-apa-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/masjid-ahmadiyah-dibakar-prosesi-ibadah-agama-lain-dihina-selanjutnya-apa-lagi\/","title":{"rendered":"Masjid Ahmadiyah Dibakar, Prosesi Ibadah Agama Lain Dihina, Selanjutnya Apa Lagi?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em>Masjid Ahmadiyah dirusak, ibadah orang lain diganggu, orang-orang berotak kacang pilus emang sebaiknya dimasukkan ke lubang tikus.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi rakyat Indonesia rasanya memang seperti dua sisi mata uang. Terkadang, kita bersyukur setiap hari selalu saja ada hal lucu yang bisa ditertawakan. Namun, tak jarang juga kita dibikin geram setengah mati oleh kelakuan segelintir sperma yang sebenarnya tidak layak untuk tumbuh dan berkembang, tapi tetap hidup karena sudah takdir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari ke belakang, kita bisa menemukan kelakuan sperma-sperma berkualitas rendah yang dibiarkan untuk tumbuh dan berkembang itu melakukan tindakan yang sangat memalukan. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sekelompok manusia berotak seukuran kacang polong yang merasa dirinya \u201csi paling benar\u201d<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/AlissaWahid\/status\/1433691302617440258?s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">merusak rumah ibadah umat Ahmadiyah<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di Sintang, Kalimantan Barat. <\/span><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sekelompok manusia berotak kresek yang menganggap selain ajarannya sebagai \u201csi paling sesat\u201d<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/mistersenpaikw\/status\/1434485449595097095?s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">melontarkan ucapan yang menyakiti hati<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> penganut agama minoritas.<\/span><\/p>\n<p>Lagi-lagi kasus Ahmadiyah, lagi-lagi kasus penistaan agama.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasa ada pemahaman yang harus diluruskan dalam konteks kehidupan beragama di negara kita. <\/span><b>Dalam perspektif konstitusional<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, pasal 29 UUD 1945 sudah jelas menjamin setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agama\/kepercayaan yang dianggapnya benar, tanpa paksaan dan tanpa larangan dari pihak manapun. Kesimpulannya, tak peduli Anda seorang penganut Syiah, Ahmadiyah, Sunda Wiwitan, Yahudi, bahkan pemuja kerang ajaib, selama ajaran yang Anda yakini tersebut tidak menimbulkan ancaman untuk persatuan dan kesatuan RI maka Anda memiliki hak untuk meyakininya dan negara memiliki kewajiban menjaga agar tidak ada yang bisa mencederai hak Anda tersebut.<\/span><\/p>\n<p><b>Dalam perspektif keagamaan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, saya sebagai seorang Muslim merasa wajib untuk memberi bimbingan kepada saudara-saudara seiman saya walau hanya sedikit. Saya juga tidak setuju terhadap ajaran kepercayaan lain, tapi selama mereka tidak mengusik saya, apa masalahnya? Apakah dengan mendiskriminasi penganut agama lain akan membuat Anda secara otomatis mendapat pahala? Tidak! Kelakuan norak seperti itu malah akan membuat nama Islam sendiri menjadi jelek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mengolok-olok agama lain, sebenarnya Anda sedang mengolok-olok agama Anda sendiri. Lucunya lagi, mayoritas kakek moyang orang Indonesia pada zaman dulu beragama Hindu-Buddha. Jadi, secara tidak langsung sebenarnya bigot-bigot agama tersebut juga sedang merendahkan leluhur mereka sendiri. Saya sangat suka kutipan perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, \u201cDia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan.\u201d Jika Anda tak bisa menerima perbedaan keimanan, pakailah variabel sesama \u201cmanusia\u201d sebagai alat yang akan menghapus rasa benci Anda terhadap keberagaman. Jika Anda benar-benar peduli terhadap saudara yang berbeda kepercayaan, cukup doakan\u2014tentunya secara tulus dan sopan tanpa perlu diumbar ke sosmed\u2014serta tidak mencaci apa yang mereka yakini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Indonesia memiliki gelar sebagai negara dengan penganut agama Islam terbanyak, bukan berarti secara otomatis negara kita menjadi \u201cNegara Islam\u201d. Negara kita memiliki ratusan agama\/kepercayaan yang telah ada sejak dulu. Itulah mengapa Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling berhasil soal penyebaran agama Islam karena bisa berakulturasi dengan budaya lokal seperti wayang, kentongan, dan lain sebagainya. Semenjak muncul paham fanatik kolot yang datang entah dari mana, akhirnya Islam mulai mendapatkan stigma negatif karena perilaku umatnya sendiri. Sialnya, kemajuan teknologi dibarengi dengan kualitas literasi yang rendah mempercepat proses polarisasi tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bisa kita perbaiki dimulai dengan pendidikan keagamaan yang benar. Para guru agama di sekolah dan ulama-ulama harus terus memupuk semangat toleransi dan menghapus perasaan paling benar sendiri. Saya juga menyarankan agar kalian menambah teman yang berbeda keyakinan dan bertukar pikiran dengan mereka karena saya merasakan sendiri manfaatnya. Saya tidak akan tega mendiskriminasi agama lain karena saya merasa tindakan itu seperti sedang menyakiti teman baik yang saya kenal sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, sebagai seorang Muslim saya ingin meminta maaf kepada umat minoritas yang pernah merasakan tindakan diskriminasi atas nama Islam. Percayalah, mereka aslinya hanya sedikit tapi paling berisik (noisy minority). Agama kami tidak pernah sekalipun mengajarkan tindakan semena-mena terhadap sesama makhluk Tuhan. Sebab, rahmat-Nya selalu meliputi segala sesuatu, menembus sekat-sekat perbedaan.<\/span><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kapan konflik ini usai?<\/p>\n","protected":false},"author":1526,"featured_media":138702,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[78,5549,3952,2104,5131],"class_list":["post-138677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-agama","tag-ahmadiyah","tag-islam","tag-konflik","tag-minoritas"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1526"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138677"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138677\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/138702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}