{"id":138067,"date":"2021-09-04T06:00:53","date_gmt":"2021-09-03T23:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=138067"},"modified":"2021-09-03T21:00:28","modified_gmt":"2021-09-03T14:00:28","slug":"putusan-sidang-kode-etik-wakil-ketua-kpk-mengharap-rasa-malu-dalam-drama-yang-belum-berlalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/putusan-sidang-kode-etik-wakil-ketua-kpk-mengharap-rasa-malu-dalam-drama-yang-belum-berlalu\/","title":{"rendered":"Putusan Sidang Kode Etik Wakil Ketua KPK: Mengharap Rasa Malu dalam Drama yang Belum Berlalu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em>KPK lama-lama turun pamor akibat kinerja yang menurun. Tapi, memangnya selama ini kerja mereka sudah cukup baik?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa seh yang ndak wajar, Kin?\u201d tanya Pardi datar. Solikin yang umak-umik mecucu menyeret layar gawai terkesiap. Ia tak sadar sejak tadi meracau, menggeleng sambil mendesiskan kata-kata semacam: nggak wajar ini, benar-benar aneh, sungguh absurd.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni lho, Mas, keputusan sidang Dewan Pengawas KPK. Masak kasus seberat ini cuma <a href=\"https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1501209\/wakil-ketua-kpk-dihukum-potong-gaji-berapa-total-pendapatan-pimpinan-kpk\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">diganjar<\/a> hukuman potong 40 persen gaji selama setahun. Kan ndak wajar. Harusnya bisa lebih berat hukumannya, Mas!\u201d jelas Solikin bersungut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbok jangan gampang heran, jangan kagetan gitu, Kin. Berat atau ringan, wajar atau tidak itu kan pasti sudah dipertimbangkan oleh mereka, jajaran Dewan Pengawas KPK itu.\u201d Pardi terdengar bestari kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian biasanya kalau baca berita begini kamu langsung baca peraturannya, terus kamu bacakan buat kita-kita, Kin. Ya nggak, Cak?\u201d Pardi tersenyum meminta afirmasi. \u201cHmmmm..\u201d Cak Narto yang sedang khusyuk memandangi papan catur hanya melenguh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar itu Solikin kembali membenamkan dirinya ke dalam dunia virtual. Kali ini terlihat lebih khusyuk. Alisnya tampak naik turun, dahinya mengernyit sesekali. Suasana teras warung Yu Marmi kembali sunyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, makin ke sini institusi satu itu malah kelihatan menurun pamornya ya, Cak. Kelihatan lebih banyak dramanya ketimbang kinerja dan prestasinya.\u201d Kanapi memecah keheningan, semacam tak sabar menunggu Cak Narto menggeser bidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa kerja lah, Pi. Wong baru saja mereka OTT Bupati Probolinggo gitu, kok.\u201d Tukas Pardi yang sedang asyik melukis batang kreteknya dengan ampas kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo\u2026 kalau banyak nangkap koruptor berarti menurutmu mereka sudah bekerja dan berprestasi gitu, Di?\u201d Cak Narto bertanya setengah beretorika. Jemarinya dengan tangkas memungut kuda putih. Kanapi tersudut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa jelas, wong namanya aja Komisi Pemberantasan Korupsi, Cak. Banyak nangkap ya berarti banyak kerja. Berprestasi memberantasss.\u201d Kanapi menjawab mantap, memakan benteng Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau begitu ya tidak akan habis kasus korupsi di sini\u2026\u201d pion Cak Narto mendekat ke petak pertahanan Kanapi, \u201c\u2026karena menurutku, Ndes, harusnya kinerja KPK itu dinilai dari pencegahannya saja, jangan dari banyaknya penindakannya. Nyatanya semenjak berdiri sampai sekarang, dengan menggunakan paradigma pemberantasan, kasus korupsi makin banyak to? Ndak habis-habis diberantas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto tersenyum simpul. Di kepalanya sudah ada skenario menaklukan Kanapi di pertandingan catur babak keempat malam ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau begitu namanya diganti aja, Cak. Komisi Pencegahan Korupsi. Ha diberantas nggak habis-habis je. Hehehe.\u201d Benteng Kanapi diarahkan lurus, mengancam menteri Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana kembali hening. Deru mesin truk pengangkut jerami yang melintas di jalanan desa terdengar ritmis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brak!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetemu, Mas Di\u2026\u201d Solikin menggebrak dipan, bidak catur nyaris berjatuhan dari papan, \u201c\u2026ini kalau di peraturannya, Sanksi Berat bagi pejabat selevel pimpinan KPK gitu, selain dipotong 40% gaji pokoknya selama 12 bulan, orangnya juga harus diminta untuk mengajukan pengunduran diri sebagai pimpinan KPK, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLhaaa, kalau ini baru menarik, Kin&#8230;\u201d Pardi menyela dengan girang, \u201c\u2026itu beneran bunyi pasalnya \u2018diminta mengajukan pengunduran diri\u201d, kan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Mas\u201d Solikin mencubit layar gawainya, membesarkan tulisan di sana, dan memampangnya di hadapan forum itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau gitu tinggal nunggu beliau itu mengundurkan diri tho, Kin? Semoga saja pengunduran diri beliau tidak lama-lama banget, ndak selama orang ini nggeser menterinya.\u201d Kanapi mengangguk dengan mecucu ke arah Cak Narto yang terlihat tidak menghiraukan ejekan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau aku jadi Bu Wakil Ketua itu, Kin\u2026\u201d Cak Narto menggeser menterinya satu petak, mengancam raja Kanapi, \u201c\u2026aku ya milih ndak mau mengundurkan diri. Wong diminta je. Itu kan semacam \u2018diharap\u2019 atau \u2018diimbau\u2019, masih memberikan peluang yang bersangkutan untuk tidak nuruti permintaan itu.\u201d Ia terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWoooo, ya itu namanya rai gedheg, Cak, alias ra ndue isin, alias muka tebal, alias nggapleki!!\u201d seperti tersulut, Pardi berkomentar lantang dari balik punggung Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSkakmat\u2026\u201d raja Kanapi dihimpit oleh kuda, benteng dan menteri Cak Narto, Ia lantas berdiri menarik pinggang, \u201c\u2026emangnya ada orang-orang di atas sana yang punya rasa malu, nDes? Lha wong pakek rompi tersangka saja masih dadah-dadah sambil ngumbar senyum begitu?. Sekarang aparat pemberantasnya malah bikin ulah begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRasa malu adalah barang langka bagi politisi kita, nDes!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau langka berarti harus dilindungi dong, Cak?\u201d Tukas Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya\u2026kayak raimu itu, langka, harus dilindungi!!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seisi teras terbahak, tapi Solikin kembali menggunting suasana riang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, Cak, vonisnya ini tetap tidak wajar, untuk tidak menyebut ndak adil, ya\u2026\u201d Solikin melemparkan korek ke arah Cak Narto yang tolah-toleh mencari, \u201c\u2026karena kalau untuk pelanggaran kode etik yang levelnya seberat itu, dengan hukuman sesepele ini, di masa depan kemungkinan kasus serupa akan terulang lagi sangat besar, Cak. Sebab, hukumannya tidak membuat jera para pelakunya. Dan itu mengkhawatirkan bagi masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia, Cak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha terus kamu mau apa kalau sudah diputuskan hukumannya seperti itu, Kin? Kita ini bisa apa, sih? Paling banter ngomel-ngomel begini, to?\u201d tiba-tiba Cak Narto sudah berada di atas motornya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita bisa apa, Kin?\u201d Cak Narto menyelipkan rokok di sudut bibir, menggenjot tuas starter. Mesin motor meraung. \u201cMenggugat di pengadilan? Jelas ndak mungkin. Nulis opini di media? yaaa paling jadi angin lalu. Bikin mural kritik? Mau kamu diburu aparat?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin tercekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah lah, Kin. Ndak usah khawatir. Dramanya kan belum selesai. Tunggu saja. Paling bentar lagi kegaduhan semacam ini akan diganti dengan riak-riak berita receh lainnya. Dan lambat laun kita akan lupa.\u201d Cak Narto memacu motornya dengan kretek masih terselip di sudut bibir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana malam kembali syahdu. Tapi tiba-tiba, \u201cWoooo, Bedhesss\u2026 korekku dikantongi lagi sama Cak Narto\u201d. Solikin memaki pelan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendung berarak di jingga mega. Warnanya berpadu antara temaram rembulan dan pendar cahaya aneh yang sulit dijelaskan. Entah dari arah mana, lamat terdengar <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">John<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Mayer<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> melantunkan &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Waiting On the World to Change&#8221;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Me and all my friends<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">We&#8217;re all misunderstood<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">They say we stand for nothing and<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">There&#8217;s no way we ever could<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Now we see everything that&#8217;s going wrong<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">With the world and those who lead it<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">We just feel like we don&#8217;t have the means<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">To rise above and beat it<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">So we keep waiting (waiting)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Waiting on the world to change<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">We keep on waiting (waiting)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Waiting on the world to change<\/span><\/i><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_top\" rel=\"noopener\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memangnya kita bisa apa?<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":94038,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5273,4555,13164,3193,13163,1285],"class_list":["post-138067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-dewan-pengawas","tag-keadilan","tag-kode-etik","tag-kpk","tag-potong-gaji","tag-sidang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138067"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138067\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}