{"id":138005,"date":"2021-09-03T14:00:36","date_gmt":"2021-09-03T07:00:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=138005"},"modified":"2021-09-03T13:16:26","modified_gmt":"2021-09-03T06:16:26","slug":"angkringan-the-series-serial-yang-sering-dibilang-mirip-midnight-diner-padahal-nggak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkringan-the-series-serial-yang-sering-dibilang-mirip-midnight-diner-padahal-nggak\/","title":{"rendered":"Angkringan the Series: Serial yang Sering Dibilang Mirip Midnight Diner, padahal Nggak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Sing wis lungo lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono.&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pitutur dalam bahasa Jawa yang diucapkan oleh Dedi (Dwi Sasono) pada Tono (Teuku Rifnu Wikana) di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi bagian dari dialog yang paling nyanthel dalam pikiran saya. Pada episode kedua (Campur Aduk STMJ) ini ekspektasi saya soal obrolan santai dan cair khas angkringan sungguhan lumayan terpenuhi. Saya rasa adegan ngobrol di episode tersebut terlihat cair dan luwes berkat masuknya dialog-dialog dengan logat medok khas Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebihnya, saya memandang serial produksi Lifelike Pictures yang secara eksklusif tayang di Mola TV ini sebagai serial slice of life yang punya visi idealis. Serial ini secara gamblang menunjukkan kisah-kisah minor yang ada di sekitar kita. Sayangnya, di beberapa episode suasana hangat yang dibangun lewat pencahayaan dan tampilan bijaksana Dedi, sang tokoh utama, terasa sia-sia karena cerita yang disajikan terasa berkejaran dengan durasi. Jadinya ya hangat, tapi kesusu, gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam serial tersebut dikisahkan bahwa Dedi adalah pria pengangguran yang ditinggalkan oleh istri yang tak tahan dengan kondisi serba kurang. Dedi hidup dalam penyesalan selama dua belas tahun sejak istrinya minggat. Ia digambarkan berubah menjadi sosok yang sangat bijaksana. Konflik yang pecah sebelum istrinya pergi menjadi adegan yang sering diulang sebagai lesatan ingatan di kepala Dedi, saat ia merasa relate dengan curhatan pelanggan angkringan atau peristiwa yang terjadi di angkringan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki enam episode, berdurasi antara 18 hingga 25 menit. Sangat singkat dan cocok sebagai serial yang penghangat hati. Namun, saking singkatnya, untuk episode pertama dengan pesan penting soal KDRT malah jadi blas ra mashok. Ibu Ratih (Dayu Wijanto) yang suaminya baru saja meninggal mampir untuk jajan kopi panas pertama kali sejak suaminya meninggal. Penonton seperti dipaksa untuk terkejut melihat perubahan ekspresi Ibu Ratih dari suasana berduka, loncat ke ekspresi marah, lalu dengan cepat loncat lagi ke ekspresi bahagia. Mekso banget, pikir saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tidak suka dengan sajian pada episode pertama, saya tetap meneruskan menonton hingga episode keenam. Bukan karena ngefans dengan Dwi Sasono yang buat saya imejnya kadung melekat sebagai aktor komedi, namun karena saya ingin melihat seberapa mirip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang tayang di Netflix. Rasa penasaran untuk membandingkan keduanya ini tak lepas hasil kekepoan saya saat pertama kali melihat trailer <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di channel YouTube milik Lifelike Pictures.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kolom komentar di trailernya, saya perhatikan setiap komentar yang menanyakan tentang kemiripan antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> selalu di-skip. Tidak dibalas. Padahal komentar yang lain dibalas dengan ramah. Entah maksudnya untuk menghindari tubir atau memang sengaja memberi kesan misterius supaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditonton oleh para penggemar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, persis seperti yang saya lakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak bisa ditampik bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seolah mengusung konsep yang sama dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Keduanya jelas punya kesamaan berupa tokoh utama yang berkarakter kuat. Ditambah lagi kesamaan dalam hal romantisme hidangan, pesan moral, hingga detail tampilan seperti warna yang hangat hingga detail suara saat wajan bertemu dengan spatula dan saat air panas dituangkan dari ceret ke gelas. Namun, ternyata kesamaannya ya hanya sebatas itu, tidak lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari enam episode, ada dua episode yang membuat saya harus meraih tisu untuk menghapus air mata. Adegan saat Budi (Morgan Oey) dipanggil dengan sebutan Bunda oleh Alya (Alleyra Fakhira) dan adegan saat Dedi bicara pada David bahwa setiap orang sebrengsek apa pun masa lalunya, berhak punya kesempatan kedua. Dua episode tersebut membuat saya berpikir bahwa memang sebaiknya tak membandingkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, keduanya punya keunggulan masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Angkringan the Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ada hal yang bikin saya berkernyit. Perkakas yang dipakai Dedi, nggak cocok dengan narasi bahwa Angkringan Arum Dalu sudah berdiri selama 12 tahun. Meski sepele, soal kekinclongan perkakas ini susah dilupakan, karena terlihat jelas di episode terakhir. Nasi goreng untuk David (Zack Lee) dibuat dengan spatula dan wajan silver yang kinclong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekinclongan wajan, membuat saya memaklumi kalau dalam serial ini, perkara kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja, perkara hidup sebagai transpuan, dan perkara kekerasan dalam rumah tangga ditampilkan dengan seadanya. Andai serial ini diperpanjang, dimantapkan lagi naskahnya, dan kisah-kisah minor ditampilkan lagi dalam beberapa episode singkat mungkin apa yang ingin disampaikan sebagai pesan moral bisa lebih mengena bagi penonton. Yang jelas, serial ini jauh lebih baik dari sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ikatan Cinta <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kesukaan ibu saya. Fix, no debat.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=wcUPcFz9yTQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lifelike Pictures<\/a><\/em><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak bisa ditampik bahwa Angkringan the Series seolah mengusung konsep yang sama dengan Midnight Diner. Padahal ya nggak juga.<\/p>\n","protected":false},"author":1139,"featured_media":138027,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[13161,9761,13162,6500],"class_list":["post-138005","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-angkringan-the-series","tag-midnight-diner","tag-mola","tag-serial"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138005","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138005"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138005\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/138027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138005"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138005"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138005"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}