{"id":137170,"date":"2021-08-29T12:30:59","date_gmt":"2021-08-29T05:30:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=137170"},"modified":"2021-08-29T11:07:11","modified_gmt":"2021-08-29T04:07:11","slug":"larva-kartun-tanpa-kata-kata-asal-korea-yang-selalu-bikin-ketawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/larva-kartun-tanpa-kata-kata-asal-korea-yang-selalu-bikin-ketawa\/","title":{"rendered":"Larva, Kartun Tanpa Kata-kata Asal Korea yang Selalu Bikin Ketawa"},"content":{"rendered":"<p>Bukan hanya KPOP dan drama saja yang sukses menebar Korean wave, industri film Korea Selatan pun tak kalah serius dalam menghasilkan karya yang mendunia. Salah satunya adalah kartun <em>Larva<\/em> yang dibuat oleh Tuba Entertainment.<\/p>\n<p><em>Larva<\/em> adalah kartun tanpa dialog dengan genre komedi (slapstick). Oleh karena itu, ia bisa ditonton segala usia, tapi disarankan didampingi orang tua untuk penonton anak-anak. Mulai tayang 21 Maret 2011 di KBS, kartun ini sangat populer di YouTube. Di Indonesia, ia bisa ditonton di RCTI sejak 2018 dan MNC TV mulai tahun ini.<\/p>\n<p>Tokoh-tokoh dalam kartun <em>Larva<\/em> adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Red (terinspirasi dari Red Caterpillar) yang berwatak tak sabaran dan sering tertimpa sial.<\/li>\n<li>Yellow (terinpirasi dari Spicebush Swallowtail Caterpillar) yang jorok dan tidak bisa mengontrol diri tiap kali berurusan dengan makanan.<\/li>\n<li>Pink (terinspirasi White Blotched Heterocampa) yang manis dan menjadi rebutan.<\/li>\n<li>Black (terinspirasi dari Kumbang Tanduk) yang perkasa dan suka olahraga.<\/li>\n<li>Brown (terinspirasi dari Kumbang Kotoran) yang sangat jorok dan terobsesi dengan kotoran.<\/li>\n<li>Rainbow (terinspirasi dari siput) yang bisa bergerak cepat asal lepas dari cangkangnya.<\/li>\n<li>Violet (terinpirasi dari Stenoma Catenifer) yang sering nampak mungil karena hanya menampakkan kepalanya saja padahal berukuran besar dengan gigi-gigi tajam yang menakutkan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain mereka, juga ada tokoh pendukung seperti manusia, burung merpati, tikus, dan lainnya.<\/p>\n<p>Cerita di kartun <em>Larva<\/em> ada pola tertentu. Slapstick pula, jadi, ya, selalu ada yang menderita dan dianiaya di tiap episodenya. Red yang selalu kalah saat berebut makanan dengan Yellow, sering sial akibat punya watak serakah dan pemarah. Ingus Yellow yang mana tahan sering bikin Red makan hati, belum lagi kentutnya, tapi Yellow sangat peduli dan selalu mendengarkan kemauan Red. Black yang selalu tertarik membanting siapa pun yang ada di dekatnya, selalu bisa diandalkan teman-temannya jika mereka sering terancam bahaya. Pink si larva idaman yang menjadi rebutan Red dan Yellow, tapi Pink lebih memilih Yellow meski Red tak pernah lelah berusaha), bahkan kentut Yellow pun bisa membuat Pink tertawa geli. Dan, seterusnya.<\/p>\n<p>Pola cerita tersebut bikin ending di tiap episode\u00a0<em>Larva<\/em> menjadi mudah ditebak. Anehnya, setelah bisa menebak ending sebelum cerita berakhir bahkan sampai menonton berkali-kali pun, saya tak pernah bosan. Kelucuan kartun <em>Larva<\/em> ini sangat kaya dan sederhana sekaligus.<\/p>\n<p>Kartun <em>Larva<\/em> sudah ada empat season. Tiap season dibedakan berdasar lokasi yang menjadi tempat Red dan Yellow tinggal:<\/p>\n<h4>Season 1 Storm Drain (2011)<\/h4>\n<p>Terdiri dari 104 episode menceritakan keseharian Red dan Yellow yang tinggal di saluran air bawah tanah. Di season 1 cerita yang ditampilkan seputar apa-apa yang jatuh ke saluran air dan bagaimana sudut pandang makhluk kecil seperti Red dan Yellow ketika melihat dunia luar (di atas permukaan tanah) yang luas dan serba raksasa.<\/p>\n<h4>Season 2 House (2012)<\/h4>\n<p>Terdiri atas 54 episode yang menceritakan keberanian Red dan Yellow hidup di dalam rumah tua setelah keluar dari saluran air bawah tanah. Di season 2 ini Red dan Yellow mengalami banyak kesulitan ketika beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mereka juga bertemu dengan makhluk-makhluk\u00a0lain yang lebih besar, membuat keseharian mereka menjadi penuh tantangan meski berlimpah makanan.<\/p>\n<h4>Season 3 New York (2014-2015)<\/h4>\n<p>Terlempar dari rumah, Red dan Yellow memutuskan menjelajahi kota New York. Mereka ke taman, makan mie panas di bangku taman. Bertemu tikus yang usil dan jahat. Bahkan ikut merasakan suasana Natal. Ada 104 episode yang menceritakan petualangan Red dan Yellow di kota New York.<\/p>\n<h4>Season 4 (1&amp;2) Larva Island (2018-2019)<\/h4>\n<p>Menonton Larva sejak season 1, saya tidak pernah terpikir Larva akan hidup di pulau terpencil. Red dan Yellow adalah larva yang hidup dalam budaya urban, mereka berburu makanan matang sisa-sisa manusia. Tidak pernah terpikir Red dan Yellow akan mencari bahan makanan mentah kemudian memasak sendiri, membangun tempat berlindung dari panas dan hujan, dan hidup di pantai! Semuanya diceritakan dalam 26 episode. Penyebab Red dan Yellow bisa terdampar di pulau terpencil ini sangat istimewa, mereka terbawa pesawat yang kebetulan lewat di atas kota New York.<\/p>\n<p>Kalau dipikir-pikir, humor slapstick ala <em>Larva<\/em> tak pernah gagal, meski sering diceritakan para tokohnya saling berkelahi dan berkhianat. Sepertinya, ini karena perspektif para tokohnya yang berukuran serba mini selalu menarik. Setiap tokoh membawa karakter dan cara berpikir yang khas di tubuhnya yang mini. Menyimak mereka menjalani hari-harinya, memecahkan masalah, dan berinteraksi dengan dunia dengan tubuh mini tersebut berhasil menghadirkan komedi dengan rasa yang campur aduk.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=S4OjORmcSNU\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">YouTube Larva TUBA<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-nussa-serial-animasi-dalam-negeri-terbaik-adalah-keluarga-somat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bukan \u2018Nussa\u2019, Serial Animasi dalam Negeri Terbaik Adalah \u2018Keluarga Somat\u2019 <\/a>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aminah-sri-prabasari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aminah Sri Prabasari<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pola cerita tersebut bikin ending di tiap episode\u00a0Larva menjadi mudah ditebak. Anehnya, meski bisa menebak, saya tidak pernah bosan untuk menontonnya.<\/p>\n","protected":false},"author":582,"featured_media":137289,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12908],"tags":[13106],"class_list":["post-137170","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-anime","tag-kartun-larva"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/582"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=137170"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/137170\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/137289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=137170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=137170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=137170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}