{"id":13714,"date":"2019-09-17T10:45:45","date_gmt":"2019-09-17T03:45:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=13714"},"modified":"2019-09-17T11:38:45","modified_gmt":"2019-09-17T04:38:45","slug":"memakai-kobokan-pas-mencuci-tangan-bersih-atau-tidak-ya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memakai-kobokan-pas-mencuci-tangan-bersih-atau-tidak-ya\/","title":{"rendered":"Memakai Kobokan Pas Mencuci Tangan: Bersih atau Tidak Ya?"},"content":{"rendered":"<p>Cara mencuci tangan itu sebenarnya bebas-bebas aja tetapi yang penting kesehatannya selalu terjaga serta aman dari penyakit.<\/p>\n<p>Sejak kecil, kita sudah diajarkan mencuci tangan dengan benar. \u00a0Meski prosesnya terdengar sulit tetapi lama-kelamaan akan terbiasa dengan sendirinya. Sebagai ilustrasi, cara mencuci tangan adalah hal kecil yaitu tinggal membersihkan sehelai kuku hingga telapak tangan dan biasanya dilakukan berjam-jam untuk mencegah kulit dari iritasi. \u00a0Sebagai pelengkap, jangan lupa tambahkan sabun biar tangan anda semakin wangi dan enak dipandang. Hasilnya bisa lihat sendiri yatu anda langsung menuai pujian dari orang yang menyalami tangan Anda berkat menegakkan kebersihan.<\/p>\n<p>Bagi Anda yang sering plesir ke Rumah Makan Padang, Warteg, atau Warung Lesehan, Anda pasti familiar dengan kobokan yang identik dengan serpihan jeruk nipis yang menyegarkan. Sajian yang diberikan oleh Pelayan akan menyambut anda ketika anda mulai duduk di Meja Makan sambil menunggu\u00a0 antrian.\u00a0 Tidak hanya satu, dua kobokan pun siap pesan antar apabila masih kurang puas dengan kobokan\u00a0 sehingga kita tinggal duduk manis saja.\u00a0 Jadi, menyentuh kobokan saja sudah terasa adem seperti berendam di kolam renang.<\/p>\n<p>Di sisi lain, memakai kobokan ada keuntungannya yaitu kotoran yang melekat di tangan mudah terangkat dengan sendirinya serta menghasilkan lautan air yang tercampur oleh bekas tangan Anda. Walaupun kelihatannya menarik, aroma bekas tangan kotor anda akan terus tercium hingga ke akar-akarnya. Yang jelas, mencuci Tangan dengan kobokan saja sudah bersyukur banget apalagi kalau ditambah dengan sabun dari rumah supaya makin nikmat mencuci tangannya tanpa ketergantungan pada pembersih otomatis. Satu lagi, menikmati kobokan bisa berulangkali dengan sesuka hati tanpa harus memutar keran.<\/p>\n<p>Sayangnya, ada yang berpendapat bahwa mencuci tangan dengan kobokan sangat jorok dan tidak higienis. Alasan utamanya adalah bakteri masih menempel di tangan dan sulit dibersihkan karena bakteri memang lebih menyukai genangan air kotor. Secara aturan, memakai kobokan hanya dalam keadaan darurat saja dan tidak perlu dipakai setiap hari. Yang lebih jengkel lagi, sebuah\u00a0 papan peringatan yang berbunyi \u201cMohon Maaf Pelayanan Terganggu Karena Sedang Ada Perbaikan Pada Wastafel.\u201c<\/p>\n<p>Sebaik-baik wastafel, kobokan juga pun tidak kalah menariknya walaupun berbeda kasta. Sebagai perbandingan, wastafel mewakili unsur modern sedangkan kobokan menggambarkan cara tradisional secara turun-temurun.<\/p>\n<p>Tanpa menggunakan Wastafel ataupun kobokan, kita sebenarnya sudah menemukan solusi jitu yang tidak perlu sampai pergi ke mall segala hanya demi setetes air. \u00a0Memakai Aqua atau air bening adalah hal yang paling mudah dilakukan karena bisa digunakan kapan saja dan di mana saja. Mengenai prakteknya, tinggal tumpahkan air ke tanah lalu kita masukkan tangan ke air yang mengalir seperti orang mau <a href=\"https:\/\/tirto.id\/dinas-pemadam-kebakaran-memodifikasi-mobil-jadi-tempat-wudhu-b6xy\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">berwudhu<\/a>. Walaupun masih diragukan kebersihannya, yang penting tangan tetap bebas dari kuman dan tidak memerlukan banyak sabun di dalamnya.<\/p>\n<p>Seakan tidak mau kalah, penggunaan <em>hand sanitizer<\/em> muncul sebagai solusi alternatif pengganti kobokan. Berbeda dari biasanya, cara menggunakannya tidak perlu memakai air dan langsung dioles ke tangan biar aroma wanginya terasa segar. Meski kemasannya praktis, <em>hand sanitizer<\/em><em>\u00a0<\/em>mudah tumpah apabila menaruhnya di sembarang tempat dan sebaiknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Karena bisa saja anak kecil akan tertarik untuk mencicipinya dan berujung dirawat di Rumah Sakit. Sekedar mengingatkan, memakai <em>hand sanitizer<\/em><em>\u00a0<\/em>hanya secukupnya saja dan tidak usah banyak-banyak apalagi sampai dimainkan segala.<\/p>\n<p>Dari berbagai metode cuci tangan yang ada, apakah semua cara tersebut akan selamanya bersih? Belum tentu, \u00a0mencuci tangan saja bukan hanya sekedar dibilas oleh air lalu dikeringkan dengan lap sampai kering. \u00a0Menurut WHO, solusi terbaik adalah menggunakan wastafel karena diklaim sebagai metode yang paling bersih dan modern. \u00a0Di samping itu, penggunaan <em>hand dryer <\/em>atau pembersih tangan yang sangat membantu dalam mengeringkan tangan secara praktis sehingga tidak perlu bolak-balik untuk mengambil tisu.<\/p>\n<p>Mengenai pepatah, \u201ckebersihan adalah sebagian dari iman\u201d adalah kata-kata yang selalu hadir semasa sekolah. Perkataan tersebut seakan mengingatkan pentingnya kebersihan sejak dini. Kalau tidak, berarti anda dulunya senang memelihara tangan kotor. Bahkan sialnya, anda mulai dihadapkan razia oleh Guru di mana mereka malah memukuli tangan anda dengan penggaris karena anda terbukti malas mencuci tangan. Hukumannya adalah anda disuruh membersihkan tangan secara berulang-ulang walaupun di hati kita sebenarnya malas untuk membersihkannya. Lihat saja, kita malah\u00a0 main \u201ckucing-kucingan\u201d supaya mangkir dari razia kebersihan lalu nongkrong di kantin. Pokoknya momen ini tidak akan terlupakan deh!<\/p>\n<p>Sebagai ciptaan Tuhan, tangan kita memang dianjurkan untuk bersih supaya menarik perhatian orang-orang. Biar lebih perfeksionis, menyiapkan alat pembersih lainnya adalah hal yang wajib untuk dibawa selama menghadiri acara. Misalnya saja Anda tidak sengaja terkena \u00a0tumpahan makanan oleh sang pelayan saat anda sedang menikmati momen kebahagiaan. \u00a0Lain lagi jika anda tidak sengaja mencelupkan tangan ke air kotor walaupun tidak ada setetes air yang jatuh.\u00a0 Mau bagaimana lagi, yang namanya musibah memang tidak bisa diprediksi tetapi alangkah baiknya anda membiasakan diri dalam menjaga kebersihan. Satu hal lagi, lebih baik mana antara mencuci tangan pakai wastafel atau kobokan? (*)<\/p>\n<p>BACA JUGA <a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-paling-nyesek-dari-harusnya-aku-yang-di-sana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Yang Paling Nyesek Dari \u201cHarusnya Aku yang di Sana\u201d<\/a>\u00a0atau tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aditya-mahyudi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0Aditya Mahyudi<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi Anda yang sering ke Rumah Makan Padang, Warteg, atau Warung Lesehan, Anda pasti familiar dengan kobokan yang identik dengan campuran jeruk nipis.<\/p>\n","protected":false},"author":173,"featured_media":13774,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3382,234,256,3381,3383,3343],"class_list":["post-13714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-cuci-tangan","tag-kebersihan","tag-kesehatan","tag-kobokan","tag-rumah-makan-padang","tag-warteg"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/173"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13714"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13714\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}