{"id":136848,"date":"2021-08-26T13:00:37","date_gmt":"2021-08-26T06:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=136848"},"modified":"2021-08-30T11:11:30","modified_gmt":"2021-08-30T04:11:30","slug":"yang-harus-kamu-pertimbangkan-saat-kebelet-resign-sebelum-dapat-kerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-harus-kamu-pertimbangkan-saat-kebelet-resign-sebelum-dapat-kerjaan\/","title":{"rendered":"Yang Harus Kamu Pertimbangkan Saat Kebelet Resign Sebelum Dapat Kerjaan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu klik artikel ini, saya ramalkan bahwa kamu sedang kebelet resign, entah karena muak sama kerjaan di kantor, kesal sama bos yang nggak pengertian, atau yaaa\u2026 malas saja bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian karyawan menganggap resign seperti suatu kelulusan, wisuda kampus, yang sejak lama diidam-idamkan karena akhirnya bisa lulus juga dari kantor tempat kita bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ucapan selamat pun datang berduyun-duyun ketika seorang karyawan memutuskan untuk resign. \u201cSemoga di tempat kerja baru lebih sukses ya\u201d, kata teman-teman sejawat yang mengaku iri karena belum bisa \u201clulus\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resign terdengar baik, namun sejatinya sulit untuk diraih. Normalnya, karyawan berani memutuskan resign di saat Ia sudah mendapat pekerjaan baru di perusahaan lain. Baik karena melamar pekerjaan atau yang lebih hoki, ditawarkan oleh headhunter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, siapa sih yang nggak kepengen resign karena dapat tawaran yang jauh lebih baik? Inilah sebaik-baiknya prestasi, ibaratnya lulus dengan nilai cum laude.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi gimana dong, kalau udah kebelet resign dan lamaran kerjaan kita belum ada yang menyambut dengan baik? Apakah tetap gas pol saja atau bagaimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebelum kamu terburu-buru memutuskan untuk resign padahal belum dapat kerjaan di tempat lain, coba pertimbangkan beberapa skenario di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenario pertama, kamu resign dalam kondisi sudah punya dana darurat hingga enam bulan ke depan. Anggaplah kamu belum berkeluarga, dan punya dana darurat sebesar enam bulan pengeluaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya dalam sebulan pengeluaran bulanan kamu sebesar tujuh juta rupiah, berarti kalau kamu punya dana darurat minimal 42 juta rupiah, keputusan resign bisa kamu ambil meskipun belum diterima kerja di perusahaan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapannya, walaupun kamu nggak nerima gaji sampai enam bulan ke depan, kamu akan tetap hidup normal. Dan semestinya, dalam waktu enam bulan menganggur, kamu bisa melakukan banyak perubahan. Baik itu menjalankan bisnis, mengambil kerja sebagai freelancer, atau bahkan sudah keburu dapat kerja sebelum dana darurat enam bulan itu habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hitungannya jadi berbeda kalau kamu sudah berkeluarga ya. Biasanya financial planner menyarankan agar kamu punya dana darurat sebesar 12 kali pengeluaran bulanan supaya lebih aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenario kedua, kamu resign karena kamu hanya penyangga sekunder ekonomi rumah tangga. Misalnya istri atau suami punya penghasilan yang jauh lebih besar. Atau bisa juga kamu seorang anak di saat orang tua kamu tetap produktif mengelola bisnis keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kamu bekerja, gajimu kemungkinan besar hanya dipakai untuk keperluanmu sendiri. Kamu tidak menyangga ekonomi keluarga seperti generasi sandwich atau tulang punggung keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kamu dalam kondisi ini, kamu boleh saja berani resign meskipun belum dapat pekerjaan. Sebab, uangmu ibaratnya suplemen vitamin saja, bukan makanan pokok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, pertimbangkan juga dampak psikologis yang mungkin kamu alami. Pasti beda banget rasanya megang uang sendiri sama minta uang orang lain saat ingin membeli sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah kamu siap dengan kondisi itu? Apakah kamu siap melepas jabatan di kantor? Apakah suami dan keluargamu bersedia memenuhi kebutuhan hidupmu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran terbaik adalah, tetap menjadi produktif di luar kegiatan kantormu sekalipun sudah resign. Cari aktivitas yang menyibukkan dan tetap menghasilkan sesuatu, boleh berupa uang maupun kebaikan. Misalnya dengan menjadi guru bagi anak jalanan, atau menjadi volunteer di sebuah organisasi non profit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skenario ketiga, kamu resign dalam kondisi terlilit utang PayLater dan kartu kredit, tidak punya tabungan, orang tua sakit-sakitan, generasi sandwich pula. Pol, lengkap sudah penderitaan hidupmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu sisi, kamu sudah luar biasa lelah dengan kondisi kerjaanmu di kantor. Bos yang suka marah-marah, kerjaan yang nggak bisa selesai meskipun sudah lembur, gaji yang dipotong gara-gara pandemi, target yang terlampau sulit dicapai, membuat kepalamu mau pecah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu-satunya yang kamu impikan saat ini adalah resign, tapi kok belum ada perusahaan lain yang mau meng-hire kamu? Duh, nggak bisa nih ambil keputusan resign.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai saja perut manusia bisa mencerna aspal jalanan, rasanya rela deh makan aspal jalanan daripada lanjut kerja di kantor ini. Begitu pikirmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu ada di skenario ketiga, percayalah kawan, tidak ada financial planner yang berani meng-encourage kamu buat resign. Efeknya bisa ditebak, kamu akan cari pinjaman dari pinjol ilegal, atau masuk berita karena mati makan aspal jalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus gimana dong baiknya? Sebenarnya masih banyak yang bisa kamu usahakan sembari bertahan di kantor hingga titik darah penghabisan (re: dipecat kantor).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, tetaplah apply kerja sana-sini. Cek lagi CV kamu, udah oke belom? Udah sesuai standar HR belom? Kalau update CV aja males, jangan ngimpi bisa resign dalam waktu dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, perkaya ilmu kamu. WFH justru peluang buat kita untuk bisa mengikuti berbagai kegiatan online yang bermanfaat. Ada banyak webinar gratis yang bisa kamu ikuti. Lumayan, sertifikat dan ilmunya bisa kamu taro di CV.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, ini yang paling mutakhir. Rayulah Tuhanmu, dengan cara-cara yang Ia suka. Banyakin sedekah, banyakin berbuat baik, mohon ampun sama Tuhan dan orang tuamu, pokoknya semua deh hal-hal baik yang bisa mendekatkan kamu sama Sang Pencipta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu muslim, coba lakukan sedekah subuh, via aplikasi juga boleh. Jadi sehabis solat subuh, donasi 10 ribu rupiah aja deh, tapi konsisten. Terus, baca surat Al-Waqiah setiap hari. Ini cara-cara mustajab buat ngundang rezeki loh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lakukan tiga hal di atas dengan tekun. Percaya deh! Meskipun ketiganya melelahkan dan kadang membuatmu semakin putus asa, semua langkah di atas justru membantu kamu lebih dekat dengan impianmu, yaitu resign karena sudah dapat pekerjaan baru yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selamat mencoba ya!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-resign-yang-sebaiknya-dihindari-oleh-para-karyawan-di-setiap-perusahaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Alasan Resign yang Sebaiknya Dihindari oleh Para Karyawan di Setiap Perusaha<\/a> d<\/strong><strong>an tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/shiva-vinneza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Shiva Vinneza<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>GAS ORA IKI?<\/p>\n","protected":false},"author":949,"featured_media":33027,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[838,72,13053,13052,4404],"class_list":["post-136848","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-karyawan","tag-pekerjaan","tag-pendapatan","tag-reisgn","tag-tabungan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136848","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/949"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=136848"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136848\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=136848"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=136848"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=136848"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}