{"id":136655,"date":"2021-08-26T07:00:44","date_gmt":"2021-08-26T00:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=136655"},"modified":"2021-08-29T20:30:15","modified_gmt":"2021-08-29T13:30:15","slug":"patehan-pembuat-teh-yang-punya-peran-penting-dalam-hajatan-manten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/patehan-pembuat-teh-yang-punya-peran-penting-dalam-hajatan-manten\/","title":{"rendered":"Patehan, Pembuat Teh yang Punya Peran Penting dalam Hajatan Manten"},"content":{"rendered":"<p>Tahukah kamu, sajian minuman yang berupa teh panas yang kita sruput dengan nikmatnya saat menghadiri kondangan hajatan manten (pesta pernikahan) di rumah shohibul hajat (yang punya hajat) itu dibuat oleh siapa? Ya, minuman teh hangat itu dibuat oleh bapak-bapak yang lihai dalam meracik berbagai merek teh yang ada di pasaran.<\/p>\n<p>Bapak-bapak pembuat minuman teh itu di masyarakat Jawa dikenal dengan nama patehan. Dilansir dari laman kratonjogja.id, nama patehan sendiri berasal dari kata \u201cteh\u201d. Sesuai maknanya, patehan menjadi bagian keraton yang bertugas menyiapkan minuman, terutama teh, beserta seluruh perlengkapannya untuk kebutuhan Keraton Yogyakarta. Baik untuk upacara-upacara adat, maupun untuk kebutuhan rutin sehari-hari.<\/p>\n<p>Patehan termasuk bagian dari dapur istana. Pada masa silam, patehan bertugas menyiapkan kebutuhan minuman yang sifatnya tidak terjadwal. Oleh karena itu, abdi dalem patehan harus siap sepanjang hari jika sewaktu-waktu Sultan dan keluarga menghendaki. Saat ini, semenjak Sultan dan keluarga tinggal di Keraton Kilen, peran ini sudah tidak dilakukan lagi.<\/p>\n<p>Masyarakat umum sering menyebut pembuat teh untuk hajatan dengan nama patehan juga. Patehan ini terdiri dari beberapa orang yang kebanyakan bapak-bapak. Ada yang berperan merebus air, meracik berbagai merek teh, dan ada yang berperan menyajikan teh kepada para tamu. Masing-masing orang memiliki peran dan keahlian yang berbeda.<\/p>\n<p>Bapak-bapak yang berperan merebus air biasanya tidak mau menggunakan kompor gas. Biasanya mereka mengggunakan tungku dengan kayu bakar sebagai sumber apinya. Konon katanya, rasa air panasnya berbeda ketika dimasak dengan kayu bakar. Kalau menurut saya, sih, mungkin karena sugesti atau kebiasaan saja. Sedangkan alat untuk merebus air biasanya menggunakan ceret besar atau dandang, kalau untuk hajatan manten yang membutuhkan air matang banyak.<\/p>\n<p>Nah, peran yang paling sentral dalam patehan ini adalah peracik teh. Orang ini harus lihai dalam meracik berbagai jenis teh dan merek. Jadi, teh yang diracik tidak hanya satu jenis dan merek saja, melainkan biasanya minimal dua merek teh. Saat ini di pasaran banyak tersedia merek teh, misalnya Tjatoet, Tang, Sosro, Bendera, Gopek, Botol, Poci, Tong Tji, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Pernah saya ngobrol dengan salah seorang patehan saat ada hajatan manten di kampung. Kebetulan saya juga menjadi salah satu panitianya. Saat istirahat di sela-sela tugas hajatan manten, saya datangi patehan. Kemudian saya ambil satu gelas teh hangat. Kesan pertama teh panas saat saya sruput adalah ada kombinasi rasa teh yang sangat enak. \u201cIni merek tehnya apa, Pak? kok enak banget,\u201d tanya saya kepada si pembuat minuman. \u201cIni gabungan merek A dengan merek B, Mas. Masing-masing merek punya karakter rasa sendiri. Nah, kalau digabungkan akan menjadi teh yang enak,\u201d jawab si Bapak.<\/p>\n<p>Jadi, si peracik teh ini selevel perannya dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-syarat-utama-yang-harus-dimiliki-jika-ingin-menjadi-barista\/\">barista<\/a> di coffee shop. Cuma bedanya, peracik teh ini masih kerap dipandang sebelah mata. Selain kerja di coffee shop dengan berbagai macam kebonafidannya, barista juga bisa dibilang sebagai profesi profesional. Sedangkan peracik teh masih berkutat di level hajatan manten. Tentu saja dengan bayaran yang tidak ada patokannya bahkan tidak dibayar tetapi kebutuhan makanan di rumahnya dicukupi shohibul hajat.<\/p>\n<p>Peran patehan dalam hajatan manten ini tentu saja sangat penting. Minuman teh yang disajikan kalau tidak pas racikannya atau gulanya kurang pas, akan membuat rasan-rasan tamu. Pernah ada tamu yang mengomentari teh yang diminumnya. \u201cIni teh apa to, kok, rasanya sepet banget?\u201d atau \u201cIni pabrik gula ya, kok manis banget tehnya.\u201d<\/p>\n<p>Tentu saja sang shohibul hajat tidak akan mau digunjingkan oleh para tamu gara-gara sajian tehnya mengecewakan. Makanya ketika membuat susunan panitia manten, biasanya sang shohibul hajat meminta saran kepada para tetangga, siapa yang layak masuk dalam line up patehan. Komposisi line up tim patehan ini minimal terdiri dari tiga orang. Selain wajib mempunyai kemampuan meracik teh yang ciamik, patehan juga harus betah melek.<\/p>\n<p>Nah, sekarang sudah tidak penasaran lagi, kan, dengan sosok pembuat teh dalam hajatan manten? Siapa tahu di masa mendatang di antara kalian ada yang ternyata berbakat menjadi patehan. Lumayan to, bisa bantu-bantu tetangga yang mau hajatan sambil menyalurkan keahlian.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-cara-menyajikan-teh-antara-orang-sunda-dan-orang-jawa\/\">Perbedaan Cara Menyajikan Teh Antara Orang Sunda dan Orang Jawa <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/humam-zarodi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Humam Zarodi<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Supaya tidak jadi bahan rasan-rasan tetangga dan tamu undangan, shohibul hajat biasanya mencari tim patehan yang memang punya kemampuan meracik teh dengan ciamik.<\/p>\n","protected":false},"author":1298,"featured_media":136807,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[363,13050,2976],"class_list":["post-136655","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-hajatan","tag-patehan","tag-teh"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136655","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1298"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=136655"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136655\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/136807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=136655"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=136655"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=136655"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}