{"id":136469,"date":"2021-08-25T11:50:31","date_gmt":"2021-08-25T04:50:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=136469"},"modified":"2021-08-30T11:12:53","modified_gmt":"2021-08-30T04:12:53","slug":"vonis-juliari-batubara-yang-meringankan-yang-memberatkan-yang-membingungkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/vonis-juliari-batubara-yang-meringankan-yang-memberatkan-yang-membingungkan\/","title":{"rendered":"Vonis Juliari Batubara: yang Meringankan, yang Memberatkan, yang Membingungkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMeski begitu, vonis Juliari Batubara itu tetap nggak adil, Kin.\u201d Desis Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAdil atau tidak itu masalah perspektif, Mas Di. Bagi masyarakat mungkin tidak adil, tapi di mata majelis hakim vonis itulah yang paling pas.\u201d Tukas Solikin seraya meletakkan gawainya, meraih sukun goreng yang masih mengepul dari piring logam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, memang. Dan akan selalu begitu selamanya, Kin. Di sini, keadilan adalah dominansi para penegaknya.\u201d timpal Kanapi tersenyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi ini Solikin mendatangi forum di warung Yu Marmi dengan semburat kelegaan. Ia yang sempat khawatir pleidoi Juliari Batubara akan dikabulkan oleh majelis hakim, kini tampak bahagia menyusul vonis yang diterima Mantan Mensos itu. Ia bahkan dengan senang hati membaca cuplikan vonis itu dengan suara lantang di depan forum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLantas apa yang mengganggu, Cak? Apa yang tidak wajar?\u201d Solikin kembali mengejar. Seolah semua orang patut bahagia layaknya dirinya melihat vonis itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKeduanya, Kin. Alasan yang memberatkan, juga alasan yang meringankan. Keduanya terlalu absurd. Belum lagi fenomena yang mengikutinya.\u201d Ujar Cak Narto sembari meniupi kepulan asap dari sukun di tangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini maksudku, Kin. Kata majelis hakim, di cuplikan yang kamu bacakan tadi, kan dibilang kalau alasan yang memberatkan hukuman adalah terdakwa dianggap \u2018tidak kesatria\u2019 dan \u2018seperti lempar batu sembunyi tangan\u2019, tho?.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Cak. Lantas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu apa nggak absurd namanya? Mbok ya kalau ngasih alasan memberatkan itu yang rasional dan mak jleb<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">gitu lho. Ya masak koruptor diharapkan bersikap ksatria? Masak koruptor diharapkan berteriak bangga di persidangan \u2018Iya, Pak Hakim. Saya yang korupsi. Saya yang perintah. Saya siap dihukum. Saya tidak akan menuding siapa pun\u2019. Ya pasti lempar-batu-sembunyi-tangan, lah.\u201d Cak Narto terkekeh. Butiran sukun di ujung bibirnya nyaris terjatuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha, terus alasan memberatkan apa yang mak jleb, Cak?\u201d Kanapi menggoda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, banyak, Pi. Bahwa apa yang telah dilakukan Pak Mantan Mensos itu setara kejahatan kemanusiaan, misalnya. Atau, bahwa korupsi yang dilakukan beliau di masa krisis seperti ini akan membawa pemakluman baru bagi calon-calon koruptor di masa depan, misalnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPemakluman gimana, Cak?\u201d Kanapi penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKan berita korupsi sudah menjadi asupan kita sehari-hari, tuh. Sudah sejak dulu. Dan kita, sebagai masyarakat, ketika mendengar berita semacam itu sudah semacam maklum, gitu. Udah biasa. Tapi, dengan adanya kasus korupsi di masa pandemi, terlebih yang dikorupsi adalah dana bantuan bagi masyarakat yang sedang kritis menyambung nyawa, takutnya nanti para calon koruptor akan merasa biasa saja ketika korupsi di masa krisis. Tidak ada lagi yang pantang dan tabu untuk di korupsi. Tidak ada lagi batasan moralitas dan kemanusiaan ketika akan korupsi\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho yo opo seh, Cak. Korupsi itu sendiri sudah merupakan perbuatan nir-moral dan nir-kemanusiaan!!\u201d Suara Pardi tetiba meninggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho\u2026iya, Di. Tapi, kamu pasti sudah maklum kan ketika baca berita tentang korupsi suatu proyek ini, sunat menyunat suatu pengadaan itu, atau suap menyuap di masa pemilu, misalnya. Korupsi di sini sudah sistemik, Di. Bukan lagi membudaya. Tapi maksudku\u2026\u201d Cak Narto mencecap kopinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026setidaknya ngerti timing, gitu lah. Mbok korupsinya nanti lagi aja, kalau sudah nggak masa pandemi.\u201d Cak Narto kembali terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKali ini argumen Sampean yang absurd, Cak. Sampean terdengar seperti menormalisasi tindakan korupsi.\u201d tuduh Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho kok jadi aku yang salah! Ha, kalau semua berita korupsi di media tak ambil hati apa ngga tambah edan aku, Kin. Pemakluman ini kan bentuk coping mechanism, bentuk usaha agar tetap waras, bagi rakyat yang hidup di negara yang sudah kebacut semerawut begini\u2026\u201d Suara Cak Narto menanjak kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026Aku sama sekali nggak membenarkan, Kin. Berita begitu dan berita-berita absurd lainnya yang susul menyusul, seperti makanan busuk yang terus menerus dijejalkan ke tenggorokan. Tadinya aku mau muntah, Kin. Juga marah dan uring-uringan. Tapi kalau kemarahanku tidak mengubah apapun, aku bisa apa?\u201d Cak Narto kembali tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia meraba tikar, matanya berputar, mencari pemantik. Pardi mengulurkan dan cepat Cak Narto menyambarnya. Napas berat terhembus dari kerongkongannya diiringi kepulan asap. Bau tembakau dan cengkeh menguar di seantero warung. Suasana agak hening.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha terus alasan yang meringankan vonis Juliari Batubara itu tadi, Cak? Absurd juga?\u201d Kanapi kembali menggoda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa, jelas. Masak cercaan dan hinaan masyarakat jadi alasan meringankan hukuman. Dengan logika seperti itu, Pi, nanti kalau ada orang yang melanggar hukum, kalian puja-puji saja mereka, siapa tahu hukumannya tambah berat. Nyahahaha.\u201d Cak Narto terpingkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi apa pun itu, Cak. Vonis Juliari Batubara ini patut diapresiasi karena lebih berat setahun ketimbang tuntutan jaksa yang cuma sebelas tahun. Dan, Pak Mantan Mensos itu sudah dicabut hak politiknya selama empat tahun, Cak.\u201d Ujar solikin mantap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto, Pardi dan Kanapi berpandangan. Mereka tersenyum aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Kin. Aku tetap mengapresiasi. Mau 11, mau 12 tahun, tetap aku apresiasi. Mau adil atau tidak, tetap tak apresiasi. Mau meringankan, memberatkan atau pun membingungkan, tetap aku apresiasi. Dan\u2026\u201d Cak Narto berdiri dan melompat ke atas motor bututnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026semua orang berhak dapat kesempatan kedua, tho? Setelah empat tahun dicabut hak politiknya nanti beliau bisa masuk gelanggang politik lagi. Dan kita semua mungkin sudah lupa. Dan ia bisa saja jadi politikus dan pemimpin yang lebih baik di masa depan. Sebab\u2026\u201d mesin motor Cak Narto meraung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026ini adalah negara demokrasi yang adiluhung. Siapa saja bisa jadi apa saja. Bahkan bekas koruptor sekali pun. Biar kami telan kenyataan ini. Biar kami maklumi segala keabsurdan ini. Sekarang kami marah, kemungkinan besar besok kami lupa, karena berita seolah ini tidak ada habisnya. Dan akan tetap seperti itu. Entah sampai kapan\u2026\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYu, kopi sama sukun gorengnya ngebon dulu yaaaa\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto memacu motornya ke arah selatan desa. Asap knalpotnya sungguh bau dan tidak ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teras warung itu kembali sepi. Mendung yang bergelayut sedari subuh akhirnya meneteskan rinai airnya. Terpal alas untuk menjemur gabah di sepanjang jalanan desa kembali digulung. Gemericik air sungai seperti membisikkan bahwa diterjang masalah seperti apa pun, bangsa ini akan baik-baik saja.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mentertawakan-permohonan-bebas-juliari-batubara-si-paling-menderita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mentertawakan Permohonan Bebas Juliari Batubara, si Paling Menderita\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak usah dipikir mumet.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":134680,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[12588,13039],"class_list":["post-136469","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-juliari-batubara","tag-vonis"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136469","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=136469"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/136469\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/134680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=136469"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=136469"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=136469"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}