{"id":135965,"date":"2021-08-22T12:28:00","date_gmt":"2021-08-22T05:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=135965"},"modified":"2021-09-07T12:08:32","modified_gmt":"2021-09-07T05:08:32","slug":"tidak-ada-warna-hijau-dan-huruf-w-di-bondowoso","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-warna-hijau-dan-huruf-w-di-bondowoso\/","title":{"rendered":"Tidak Ada Warna Hijau dan Huruf &#8216;W&#8217; di Bondowoso"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara biologis saya ini asli putera daerah Bondowoso, karena bapak dan ibuk saya berasal dari Bondowoso. Jikalau ditelusuri lebih dalam lagi, silsilah keluarga hingga kakek buyut pun tetap menegaskan bahwa saya ini asli trah Bondowoso tulen, no debat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Madura Swasta (begitu sebutannya), saya kerap kali melihat keunikan dalam penggunaan tata kebahasaan masyarakat Bondowoso. Hal ini tak lain karena kiblat bahasa dan budaya Bondowoso nggak bakalan jauh-jauh dari Madura Ori.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun, semisal ada perbedaan ya hal yang wajar-wajar saja, toh kita ini Madura swasta, rentan terhadap akulturasi budaya lain..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara keunikan tersebut ialah, penyebutan warna hijau menjadi biruh (biru). Maksudnya gimana? Maksud saya gini, jangan sampai Anda pergi ke pasar (di Bondowoso) terus berkata \u201cBuk, cabenya sekilo, kasih yang hijau-hijau ya\u201d. Sebab, akan terjadi dua kemungkinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, si penjual paham dan langsung melayani Anda. Kedua, terjadi perdebatan warna yang alot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c Ooo, se berna biruh?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok malah warna biru, warna ijo, Buk!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, kan iyeh cabbhinah se ru biruh rowah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bingung kan? jadi begini, dalam kamus besar perbendaharaan kata bahasa Bondowoso, kata hijau itu nggak ada, dan tanpa sebab yang pasti, warna biru hadir untuk menggantikan posisinya. Singkatnya, warna biru ini merepresentasikan dua warna yaitu hijau dan biru itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya jangan kaget kalo ketemu orang Bondowoso bilang \u201cklambinah be\u2019en mak bhegus, bernah biruh deun\u201d yang artinya \u201cbajunya kamu kok bagus, warna hijau\u201d. Artinya, perkara warna kamu harus jelas, yang kamu maksud itu biruh deun atau biruh tasek (laut).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain dari masalah warna tadi, di Bondowoso kamu akan jarang sekali mendengar penuturan huruf W. Entah, saya pun nggak bisa menjelaskan alasan ilmiahnya, kenapa huruf W ini begitu termarjinalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui saja bahwa perbendaharaan kata bahasa Madura itu banyak berasal dari bahasa Indonesia, yang kemudian mengalami proses serapan dengan menyesuaikan logat daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita simak. Contohnya kata waktu menjadi bekto, warna menjadi berna, lawan menjadi laben, khawatir menjadi kobater, sawah menjadi sabe, dan kawin menjadi kabin. Nah, kan, dikemakan huruf W nya, Cak? Aihhh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan huruf W menjadi B ini merupakan ragam bahasa yang patut untuk dilestarikan, lho, agar kata serapan tadi benar-benar berbeda dengan kata aslinya, meskipun artinya sama. Seenggaknya kan sedikit lebih beda, daripada nggak ada bedanya sama sekali, tak iyee, Cak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak hanya itu, nama-nama kecamatan dan desa di Bondowoso juga turut mengalami perubahan pelafalan. Contoh saja Bondowoso menjadi Bendebesah, Wringin menjadi Bringin, Wonosari menjadi Bensareh, Sukowono menjadi Kobenah, dan Wonosuko menjadi Bensokah. Akan tetapi hal ini nggak berlaku untuk Banyuwangi dan Sulawesi, karena keduanya tetap dengan pelafalan resminya, bukan Benyubengi atau Sulabesi, padahal Jawa saja disebut Jhebe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entahlah, saya belum bisa memecahkan teka-teki ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh-contoh di atas hanya sedikit dari banyaknya kata yang mengalami transformasi pelafalan. Tetapi, untuk kamu yang bernama Wawan, Wendy, Wati, Winda, Wahyu, atau Nama-nama lain yang memiliki unsur W di dalamnya, patennang, tak iye. Kalian akan tetap mendapat hak untuk dipanggil sesuai namanya, nggak ada revisi dari W menjadi B, beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya bakalan susah kalau nama juga ikut berubah, nama yang kemudian keren dan gagah, seperti Bapak Prabowo eh malah menjadi Prabobo. Apalagi nama Bapak Presiden kita ada unsur W-nya, lho. Hayooo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sederet keunikan tadi, nggak kemudian saya mengklaim bahwa itu hanya terjadi di Bondowoso. Bisa saja di Jember, Situbondo, Probolinggo, dan Madura Swasta lainnya juga sama. Kalau di Madura Ori mah nggak perlu ditanya, di situ pusatnya, Cak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Salam tellok lema\u2019.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bondowoso-kota-sejuta-julukan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bondowoso, Kota Sejuta Julukan<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mohammad-hidayatullah\/\">Mohammad Hidayatullah<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<h6><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><\/strong><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><em>ini<\/em><\/a><em>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em><\/strong><strong>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Madura swasta unik-unik.<\/p>\n","protected":false},"author":693,"featured_media":136129,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12989,1439,12990,12988,5020,10710],"class_list":["post-135965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-biru","tag-bondowoso","tag-hijau","tag-huruf-w","tag-madura","tag-madura-swasta"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/693"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135965"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135965\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/136129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}