{"id":135460,"date":"2021-08-19T13:00:07","date_gmt":"2021-08-19T06:00:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=135460"},"modified":"2021-09-07T12:15:58","modified_gmt":"2021-09-07T05:15:58","slug":"genio-njelalah-dan-dialek-khas-nganjuk-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/genio-njelalah-dan-dialek-khas-nganjuk-lainnya\/","title":{"rendered":"Genio, Njelalah, dan Dialek Khas Nganjuk Lainnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap daerah pasti memiliki ciri khas dalam gaya bicaranya. Salah satunya adalah dialek atau logat bicara orang-orang Nganjuk. Walaupun masih tergolong Bahasa Jawa, tetapi memiliki keunikan tersendiri. Bagi yang tidak tau daerah ini, Nganjuk merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur. Tepatnya terletak di antara kabupaten Madiun, kabupaten Kediri, dan kabupaten Jombang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong soal dialek, inilah dialek yang tak bisa dipisahkan dari orang-orang Nganjuk.<\/span><\/p>\n<h4><b>He\u2019eh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Nganjuk penyebutan kata he\u2019eh menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan saat menerima persetujuan. Ketika ada orang bertanya ke orang Nganjuk, pasti akan dijawab dengan kata he\u2019eh. Dalam Bahasa Indonesia he\u2019eh itu sama dengan kata iya. Saking khasnya kata ini sampai dibuat sebuah nama ojek online di Nganjuk yaitu He\u2019eh Jek.<\/span><\/p>\n<h4><b>Genio<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ada yang nggak tau apa itu genio, karena kosakatanya memang tidak ada di daerah lain. Pernah saya mengatakan kata genio kepada teman saya saat kuliah, dia nggak paham, padahal sama-sama Jawa. Kata genio itu kalau dalam Bahasa Indonesia sama dengan kata kenapa atau mengapa. Jadi ketika ada hal yang belum diketahui, biasanya bertanya apa atau kenapa, tetapi berbeda kalau orang Nganjuk akan mengatakan genio wi. Kalau Bahasa Jawa di daerah lain biasanya pakai kenek opo.<\/span><\/p>\n<h4><b>Imbuhan U dan O<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah logat ini yang paling tidak dapat dipisahkan menurut saya. Contohnya adalah kata uadoh, luoro, uabot, puanas, ruepot. Logat ini biasanya digunakan sebagai penekanan terhadap kata-kata tertentu. Kalau Bahasa Jawa daerah lain kan mungkin dengan kata, suwi banget to, ayu tenan, loro pol, tetapi berbeda dengan orang Nganjuk. Penekanan tersebut pun kadang dirasa masih kurang memuaskan. Terkadang sudah bilang uadoh, masih ditambah banget, jadi menjadi uadoh banget to.<\/span><\/p>\n<h4><b>Njelalah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata njelalah ini biasanya digunakan oleh orang Nganjuk ketika membicarakan situasi yang kebetulan. Seperti contohnya, \u201cAku mau budal kuliah njelalah petuk mantan pacarku eg,\u201d yang artinya, \u201cSaya tadi berangkat kuliah kebetulan ketemu mantan pacar\u201d. Padanan kata njelalah di bahasa Indonesia adalah \u201ckebetulan\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>Panggah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agak susah untuk menjelaskan kata panggah ini, tapi baiknya saya kasih contoh aja ya. Contohnya seperti ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku mau panggah ngelak, masio wes ngombe es\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku masih haus meskipun udah minum es\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah lain mungkin juga menggunakan kata panggah. Tapi, menurut saya sih, lebih melekat ke orang Nganjuk. Udah deh, percaya aja.<\/span><\/p>\n<h4><b>Gak Genah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cgak genah\u201d ini biasanya digunakan oleh orang Nganjuk untuk mengungkapkan ketidaktahuan. Seperti contoh, \u201cAku mau gak genah lak enek awakmu ndek kono\u201d yang artinya, \u201cSaya nggak tau kalau kamu ada di situ.\u201d Kalau dalam Bahasa Indonesia kata gak genah itu sama seperti kata tidak tau. Kalau di daerah lain kan kalau mengungkapkan ketidaktahuan dengan menggunakan kata-kata ra reti, ora dong, ora ngerti. Orang Jogja sih yang biasanya menggunakan kata ra reti dalam mengungkapkan ketidaktahuan. Untuk beberapa daerah di Jawa, genah artinya adalah jelas, makin kentara perbedaannya dengan Nganjuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa dialek yang tidak dapat dipisahkan bagi orang Nganjuk. Jika kalian bertemu dengan orang Nganjuk, coba perhatikan secara saksama. Satu, dua, atau semua yang saya sebut di atas pasti muncul dari mulut mereka.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-khas-orang-kediri-yang-bisa-bikin-kalian-plonga-plongo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kosakata Khas Orang Kediri yang Bisa Bikin Kalian Plonga-plongo<\/a>\u00a0dan tulisan Pringgo <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/pringgo-adi-sasongko\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Adi Sasongko<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap daerah pasti memiliki ciri khas dalam gaya bicaranya. Salah satunya adalah dialek atau logat bicara orang-orang Nganjuk.<\/p>\n","protected":false},"author":1604,"featured_media":10009,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[725,12952,9349],"class_list":["post-135460","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-dialek","tag-khas","tag-nganjuk"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135460","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135460"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135460\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135460"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135460"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135460"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}