{"id":135077,"date":"2021-08-16T11:00:34","date_gmt":"2021-08-16T04:00:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=135077"},"modified":"2021-08-30T11:42:06","modified_gmt":"2021-08-30T04:42:06","slug":"mural-represi-dan-residu-orde-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mural-represi-dan-residu-orde-baru\/","title":{"rendered":"Mural, Represi, dan Residu Orde Baru"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAh\u2026Delembhis kuro!! Kalau kayak gini mesti aku yang jadi sasaran.\u201d Pardi mengumpat sesaat setelah mengecek gawainya. Joran dari bilah bambu di tangannya dihujamkan ke tanah. Cak Narto dan Solikin yang sedari pagi duduk khusyuk di sampingnya terkesiap mendengar makian tanpa aba-aba itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu kenapa, Di? Disuruh pulang istrimu, tah?\u201d Tanya Cak Narto menggoda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu lho, Cak. Coba Sampean baca di grup wasap RW.\u201d Jawab Pardi mecucu. Solikin dan Cak Narto bersamaan mengecek notifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTeman2 karang taruna, tolong yang seperti ini jangan sampai kejadian di kampung kita, ya. Tolong jangan membuat kegaduhan. Cc: @Pardi Konpeksi.\u201d Pak Sunoto Babinsa mengirimkan sebuah tangkapan layar berita penghapusan mural dengan tampilan mirip Presiden Jokowi di bilangan Tangerang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNjiihhh, siappp\u2026tapi kenapa di-cc ke saya ya, Pak?\u201d Pardi meluncurkan balasan ke grup dengan segaris urat di rahangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Pak Priyono is typing*<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kan Sampean yang pernah nggambari tembok utara Polsek, Mas Pardi.&#8221; Pak Babinkamtibmas itu membalas pertanyaan Pardi. Mengakhirinya dengan deretan emot tangkupan tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Itu namanya reputasi, Pak Pardi. Insyaallah dibawa mati, hahaha.&#8221; Kanapi, yang hari ini tidak ikut mancing, mengolok kawannya itu. Rentetan emot manusia-kuning-terbahak-berurai-air mata di akhir kalimat semakin membuat kesal Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun lalu Pardi, yang seorang pensiunan anak punk cum seniman jalanan itu, memang pernah membuat mural di tembok luar Polsek yang menghadap lapangan desa. Itu sebelum dia memutuskan menikah dan membuka usaha konveksi di seberang Koramil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah mural penolakan pabrik semen yang rencananya akan beroperasi menambang batu kapur di pegunungan desa beberapa tahun lalu. Buntutnya, setelah beberapa kali dipanggil ke Polsek, Pardi diminta untuk menimpa mural yang dianggap provokatif itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski setelah bertahun ia tak lagi hobi corat-coret tempat umum dan selalu memberikan diskon untuk pesanan baliho dari instansi-instansi setempat, reputasinya sebagai vandalis memang belum kunjung hilang. Setidaknya di mata aparat penegak hukum desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Sudah lah, Di. Pak Babin itu kan sak dermo menjalankan perannya. Ndak usah kamu ambil hati, lah.&#8221; Cak Narto berusaha menghibur. Tapi, Pardi masih terlihat kesal dengan mulut umak-umik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Aneh ya, Cak.\u201d Pardi membuka diskusi,\u201dSetelah 23 tahun reformasi, pemerintah kita masih alergi sama kritik. Bahkan cuma mural gitu aja bisa bikin geger media.\u201d Dilemparkannya kail ke tengah deras arus sungai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kata petugas yang menghapus mural sih karena gambar itu dianggap sebagai bentuk penghinaan kepada simbol negara, Mas Di. Ini sedang dicari siapa pelakunya.\u201d Solikin menimpali setelah memasukkan kembali gawai ke kantong celana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBolak-balik kok gini terus. Kritik direpresi.\u201d Semakin jauh Pardi melempar kailnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201citu semua memang residu, Ndes. Sisa-sisa ke-absurd-an Orde Baru.\u201d Cak Narto menimpali dengan tatapan ke arah sungai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudnya, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu jaman orba, para bawahan sibuk menafsir gestur presidennya. Sering kali represi oleh terjadi bukan karena adanya perintah presiden atau alasan penegakan hukum. Tapi, karena adanya salah tafsir atas gestur presiden. Dan itu yang terjadi hari ini di kasus mural itu. Maka, menurutku, ini residu Orde Baru.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMashok, Cak.\u201d Pardi mengangguk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGestur gimana, Cak? Residu apa?\u201d Solikin yang lahir di era Reformasi tidak mengerti apa yang dimaksud Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin, dulu seumpama presiden sedang mancing di sini, seumpama lho ya, terus kok kailnya sudah berjam-jam tidak tersambar ikan, lantas beliau berkelakar \u2018wah ini mungkin karena di atas sana banyak yang nyetrum, makanya di sini nggak ada ikannya\u2026\u2019 para pengawal yang mendengar itu lantas membikin SK yang melarang orang nyetrum ikan di seluruh kali Nusantara. Lebih jauh, orang yang nyetrum ikan bisa diseret ke Koramil.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi, saking haibatnya sosok presiden, sampai-sampai gestur dan guyonannya pun disalahtafsirkan yang berujung represi. Tapi, itu contoh lho ya\u2026dan itu dulu. Hehehe.\u201d Cak Narto menjelaskan dengan tersenyum aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha, terus maksudnya residu apa, Cak?\u201d Solikin penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa gitu, Kin. Kultur menafsir gestur presiden itu masih terbawa sampai sekarang. Gitu aja masa kamu ndak ngerti.\u201d Pardi menimpali dengan kesal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa maksud Sampean gestur Presiden Jokowi ketika melihat mural itu disalah tafsirkan oleh jajaran di bawahnya gitu, Cak?\u201d Kejar Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku sih malah nggak yakin kalau presiden pernah melihat mural itu, Kin. Menurutku, penghapusan itu ya bentuk ekspresi khawatir yang berlebihan saja dari seorang bawahan. Semacam rasa takut kalau terlihat \u2018tidak bisa menjaga ketertiban\u2026\u201d Cak Narto mengangkat tangannya, membuat gestur tanda petik, \u201c\u2026maka mereka menafsir. Sebelum ditegur, mending mural itu segera dihapus.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto melemparkan kreteknya ke arus sungai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCak, jangan buang sampah sembarangan, pamali.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHehehe, maaf. Lanjut ya. Ketika aksi semacam itu memantik kontroversi di masyarakat karena dianggap sebagai bentuk represi dari aparat, akhirnya yang keluar pernyataan blunder semacam itu tadi, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBlunder yang mana, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa itu tadi, yang katanya mural itu bentuk penghinaan simbol negara. Padalah kamu tentu tahu kalau presiden bukan simbol negara, tho\u2026\u201d Solikin manggut-manggut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan hal semacam itu yang terjadi di banyak hal lainnya, Kin, seperti razia buku, razia postingan medsos atau pembubaran diskusi-diskusi. Semua itu dilakukan bukan karena alasan penegakan hukum. Seringnya ya karena budaya menafsir gestur presiden yang sudah mengakar semenjak Orde Baru dulu. Selain karena caper juga, siiih.\u201d Jelas Cak Narto terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPresiden lima tahun sekali diganti kok nggak boleh dikritik\u2026hadeuh\u2026\u201d Pardi kembali mecucu. Tapi sejurus kemudian Ia tampak sumringah ketika akhirnya seekor ikan gabus menyambar kailnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gemuruh arus sungai yang membelah desa terdengar begitu ritmis. Di dahan pohon saman sepasang burung cendet melompat-lompat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belalang yang sedang mengerat dedaunan sejenak berhenti, menengadah ke arah langit, seperti bertanya, Tuhan, kapan pandemi ini usai?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jokowi-dan-memori-orde-baru-yang-masih-membekas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jokowi dan Memori Orde Baru yang Masih Membekas <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sisa-sisa yang tak kunjung tergerus masa.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":135121,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[17,12576,12887,3149,11643,12886,12885],"class_list":["post-135077","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-demokrasi","tag-kolom-cak-narto","tag-mural","tag-orde-baru","tag-pojok-tubir-terminal","tag-represi","tag-residu"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135077\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/135121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}