{"id":134676,"date":"2021-08-23T08:00:47","date_gmt":"2021-08-23T01:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=134676"},"modified":"2021-08-29T22:18:57","modified_gmt":"2021-08-29T15:18:57","slug":"6-lagu-indonesia-yang-bisa-bawa-pikiran-travelling-ke-2005","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-lagu-indonesia-yang-bisa-bawa-pikiran-travelling-ke-2005\/","title":{"rendered":"6 Lagu Indonesia yang Bisa Bawa Pikiran Travelling ke 2005"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap generasi memiliki musiknya sendiri, begitu batin saya saat melihat Billie Eilish melompat ke sana ke mari di panggung dengan kostumnya yang menurut saya seperti piyama. Jangan salah, saya tidak membencinya sama sekali. Saya pun menikmati bagaimana anak muda itu menggumamkan lagu-lagunya yang kelam dengan indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ingin berlama-lama menikmati lagu Billie Eilish, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan waktu ke 2005. Tahun di mana Winamp masih dipilih untuk memutar playlist, radio masih dipakai untuk titip salam ke gebetan, dan kisah-kisah tentang pacar yang berselingkuh saat KKN masih mewarnai bisik-bisik di kantin kampus mana pun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu Indonesia pada tahun tersebut punya warna yang beragam. Para musisi Indonesia di 2005 tampaknya produktif sekali dalam berkarya. Mengerucutkan lagu Indonesia dari era tersebut ke dalam enam nomor tidak semudah menyimpulkan bahwa PPKM level 4 akan diperpanjang lagi, lagi, dan lagi. Berikut ini enam tembang nusantara buat jamaah Mojokiyah yang senang menolak (dianggap) tua.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#1 &#8220;Air dan Api&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Naif sudah bubar, tapi lagu-lagunya akan selalu abadi. &#8220;Air dan Api&#8221; punya lirik yang mudah diingat dan cocok banget sebagai soundtrack gelut. Lagu Naif ini sungguh cocok di-<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">share <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">saat musim polarisasi politik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apa maumu, apa mauku,\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Selalu jadi satu masalah\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">yang tak kunjung henti.&#8221;<\/span><\/em><\/p>\n<h4><strong>#2 &#8220;Menanti Sebuah Jawaban&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soundtrack film<em> Ungu Violet<\/em> yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo dan Rizky Hanggono ini sekaligus menjadi soundtrack untuk para pemuda dan pemudi pada zamannya saat menunggu jawaban bribikan. Di era itu, jadian nggak melulu tembak langsung jawab. Entah mengapa, untuk urusan pacaran pun pemuda dan pemudi di kala itu mengadaptasi proses bikin KTP yang dulu terkenal sangat kesuwen dan Padi mengemasnya dengan apik lewat lagu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Aku tak bisa luluhkan hatimu<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Dan aku tak bisa menyentuh cintamu&#8221;<\/span><\/em><\/p>\n<h4><strong>#3 &#8220;Welcome to My Paradise&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu reggae yang dibawakan dalam bahasa Inggris oleh Mas Tepeng atau Steven Jam (Steven Nugraha Kaligis) ini wajib masuk daftar lagu terbaik 2005, tak hanya untuk mengenang Mas Tepeng yang meninggal pada 22 Juni 2021 yang lalu. Namun, karena lagu ini memang menjadi salah satu lagu easy listening yang banyak dinyanyikan di panggung-panggung pensi pada masanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas Tepeng sudah sampai di surganya (&#8220;A place where there&#8217;s no bullshit&#8221;) dan mewariskan lagu legendaris Steven &amp; Thecoconuttrez untuk kita nyanyikan bareng-bareng, wooooyoooooo!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Welcome to my paradise\u2026.&#8221;<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 &#8220;Ruang Rindu&#8221;, Letto<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2017, lagu Indonesia ini dinyanyikan dalam versi bahasa Jepang dan Indonesia oleh <\/span><a href=\"https:\/\/youtu.be\/YxRJ-pAbbuc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hiroaki Kato<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan Mas Sabrang yang lebih dikenal sebagai Noe Letto. Lagu Letto ini populer dan digemari para penggemar sinetron <em>Intan<\/em>\u00a0yang waktu itu ditayangkan oleh RCTI.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu saya pun menjadi fans Letto berkat lagu &#8220;Ruang Rindu&#8221;. Meski nge-fans, hingga saat ini ibu saya ngertinya yang menyanyikan &#8220;Ruang Rindu&#8221; bernama Mas Letto. Mustinya ibu saya nonton <\/span><a href=\"https:\/\/youtu.be\/K3Nlx6AKQXQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">obrolan Mas Puthut bersama Mas Sabrang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam #PutCast sih, ya, biar makin nge-fans.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Mata terpejam dan hati menggumam<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Di ruang rindu, kita bertemu.&#8221;<\/span><\/em><\/p>\n<h4><strong>#5 &#8220;Ceria&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada dua lagu J-Rocks yang nge-hits dari album<em> Topeng Sahabat<\/em> pada 2005, yaitu &#8220;Ceria&#8221; dan &#8220;Lepaskan Diriku&#8221;. J-Rocks dengan aliran Japanese Pop\/Rock ini meski disukai dengan warna musiknya yang riang dan segar, tetap saja dicaci dan dikuliti karena menurut sebagian orang, J-Rocks jelas-jelas menjiplak lagu-lagu L&#8217;Arc en Ciel.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi, sih, karena terlalu ngefans, J-Rocks tidak menyadari kalau mereka membuat lagu berdasarkan ingatan atas musik L&#8217;Arc en Ciel. Soal amat sangat ngefans dengan L&#8217;Arc en Ciel ini juga diakui oleh para personel J-Rocks. Yang jelas J-Rocks tetap saja menjadi band beraliran musik Japanese Pop\/Rock yang punya banyak penggemar di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Hari ini kudendangkan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu yang ingin kunyanyikan&#8221;<\/span><\/em><\/p>\n<h4><strong>#6 &#8220;Konservatif&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu dari The Adams ini kadang dimaknai sebagai gambaran dari generasi lawas yang sedikit nakal, banyak akal, tapi masih patuh pada koridor norma seperti dalam liriknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Konservatif&#8221; muncul sebagai soundtrack di film komedi romantis, <em>Janji Joni<\/em>, yang dibintangi oleh pria pendiam kesayangan Indonesia, Nicholas Saputra dengan lawan main Mariana Renata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam album ost. <em>Janji Joni<\/em>, tak hanya The Adams yang berkesempatan menyuguhkan warna musik dari kalangan indie. Ada pula yang namanya turut dikenal bersama The Adams yaitu Sore, White Shoes &amp; The Couples Company, Goodnight Electric, dan Sajama Cut. Kesuksesan Janji Joni membuat mahasiswa pada masa itu tergila-gila untuk terlihat indie dengan membelanjakan uangnya untuk membeli aksesori lokal, buatan komunitas-komunitas indie yang dijual di distro-distro.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Dan aku kan berada di teras rumahmu\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Saat air engkau suguhkan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kita bicara tentang apa saja&#8221;<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keenam lagu Indonesia pilihan saya, jelas tak akan bisa memuaskan hasrat untuk kembali ke masa lalu di setiap orang. Jangan manja, bikin playlist sendiri aja. Tapi hati-hati terperangkap dalam ingatan masa-masa kabur dari lokasi KKN buat boncengan sama selingkuhan. Eaaa\u2026.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-lagu-romantis-90-an-yang-pas-untuk-ngebucin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Lagu Romantis 90-an yang Pas untuk Ngebucin<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/butet-rachmawati-sailenta-marpaung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Butet Rachmawati Sailenta Marpaung&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Butet Rachmawati Sailenta Marpaung\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lagu Indonesia pada 2005 punya warna yang beragam. Para musisi Indonesia pada tahun tersebut tampaknya produktif sekali dalam berkarya.<\/p>\n","protected":false},"author":1139,"featured_media":136236,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[13013,13014,12870,13015],"class_list":["post-134676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-13013","tag-j-rocks","tag-lagu-indonesia","tag-the-adams"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=134676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134676\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/136236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=134676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=134676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=134676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}