{"id":134665,"date":"2021-08-13T10:00:15","date_gmt":"2021-08-13T03:00:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=134665"},"modified":"2021-09-07T13:12:21","modified_gmt":"2021-09-07T06:12:21","slug":"pledoi-juliari-batubara-dan-sakit-hati-yang-terprediksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pledoi-juliari-batubara-dan-sakit-hati-yang-terprediksi\/","title":{"rendered":"Pledoi Juliari Batubara dan Sakit Hati yang Terprediksi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak mengemukanya berita tentang pledoi Mantan Mensos Juliari Batubara dalam sidang bansos Corona pada 9 Agustus 2021 lalu, yang meminta dirinya dibebaskan dari segala tuntutan kepada majelis hakim, Solikin jadi uring-uringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, mahasiswa yang sedang meledak-ledak semangatnya ini sudah lebih dari setahun tidak turun ke jalan berunjuk rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Majelis di warung Yu Marmi bernuansa tegang malam ini. Kanapi dan Pardi yang membelokkan topik pembicaraan tak berkutik ketika dituduh \u201ctidak peka sosial\u201d oleh Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha ini, akhirnya datang juga\u2026\u201d Kanapi menepuk paha girang, ketika motor butut Cak Narto berbelok ke arah warung Yu Marmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026Kopi, Yu. Pahit\u2026\u201d Kanapi memesan untuk Cak Narto, \u201c\u2026Sampean duduk sini, Cak. Biar Solikin ndak ngomel-ngomel terus\u2026hehehe.\u201d Kanapi terkekeh menggeser posisi duduknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecut muka Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOpo maneh sih, Kin?\u201d Cak Narto mengatur duduk, bertanya sembari mengusap pelan punggung Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSampean \u2018kan sudah baca berita tho, Cak? Ini yang dari kemarin aku khawatirkan akhirnya kejadian. Mau dibawa ke mana nasib bangsa ini, kalau para politisinya tidak punya rasa malu begini?\u201d Solikin menggebu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSik tha la, pelan-pelan. Satu-satu. Kekhawatiran apa? Kejadian gimana? Nasib bangsa mana?\u201d Cak Narto menyesap kopi yang masih mengepul dari lepek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMantan Mensos, Pak Juliari Batubara itu, Cak. Dia minta dibebaskan dari semua tuntutan. Padahal sudah terbukti dia korupsi duit bansos buat kita-kita ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOoo\u2026 terus maksudmu khawatir itu tadi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya itu. Kemarin waktu ada mantan jaksa yang dapat korting hukuman dari hakim, aku sudah khawatir hal itu akan jadi inspirasi buat koruptor lain meminta belas kasihan serupa, Cak. Dan benar saja sekarang, kan?\u201d Solikin terengah menjelaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto, Pardi dan Kanapi beradu pandang, lantas tersenyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMbok ya kamu jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu di luar jangkauanmu, Kin. Nggak bagus itu buat imun.\u201d Cak Narto menjeda, membakar kretek. \u201cKalau semua-mua kamu khawatirkan, ya bisa tambah nggrantes hidupmu, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin bergeming. Pardi dan Kanapi saling menyenggol paha. Tersenyum melihat air muka sang aktivis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian, Kin. Terlepas dari semua kekonyolan, itu kan hak Pak Juliari Batubara sebagai warga negara, Kin.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHak apa, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHak membela diri, tho. Makanya namanya sidang pembelaan. Pledoi. Semua warga negara punya hak serupa di persidangan. Urusan diterima atau tidak, dikabulkan atau tidak, itu terserah majelis hakimnya, tho?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solikin tercenung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin. Daripada kamu mengkhawatirkan ini semua. Coba kamu liat sisi positifnya. Coba dilihat dari sudut pandang lain. Pak Mantan Menteri itu bisa saja menjadi pembuka pintu gerbang humanisme penegakan hukum di Indonesia, lho.\u201d Cak Narto terkekeh pelan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudnya, Cak?\u201d Pardi penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha, korting hukuman dengan dalih kemanusiaan buat mantan-jaksa-yang-juga-seorang-ibu kan sudah, tuh. Siapa tahu, kali ini pembelaan dari Pak Mantan Menteri bakal dikabulkan juga dengan jenis pertimbangan kemanusiaan yang lain. Pertimbangan nasib tumbuh kembang anak-anak tanpa kehadiran sosok ayah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTolong yang fokus, Cak. Terus maksud pembuka pintu gerbang tadi apa?\u201d Solikin semakin resah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, gitu. Setelah ini, di masa depan, majelis hakim harus pula mempertimbangkan nasib istri para koruptor. Nasib istri simpanannya. Nasib supirnya. Nasib terapis langganannya. Dan nasib orang di sekitarnya. Maka dengan itu, pintu gerbang humanisme penegakan hukum telah terbuka.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c\u2026Dan itu akan sampai pada level selanjutnya. Nanti sebelum divonis, maling sendal juga boleh mengajukan pembelaan yang serupa. Gembong narkoba juga boleh. Bromocorah juga boleh. Siapa saja juga, boleh. Ini urusan kemanusiaan, j\u00e9. Harus adil, tho.\u201d Cak Narto terpingkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWooo yo selak ra mungkin, Cak!\u201d Kanapi mecucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, jangan salah. Di sini tidak ada yang tidak mungkin, Ndes.\u201d Cak Narto menyeka air mata tawa. \u201cLagian, Ndes, terlepas adanya kemungkinan &#8216;positif&#8217; itu tadi, sudah semestinya kita mendorong dikabulkannya pembelaan Pak Mantan Menteri itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak usah bikin statemen aneh-aneh, Cak. Wong pembelaan absurd gitu kok didukung, lho.\u201d Protes Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha daripada kita masuk ke babak baru drama penegakan hukum. Babak marah-marah. Babak sakit hati. Kayak yang sudah-sudah!\u201d Tukas Cak Narto berteka-teki. Solikin mengernyitkan dahi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, lho. Apa kamu nggak tambah sakit hati kalau seandainya, beberapa tahun setelah di penjara, Mbak Najwa Shihab liputan ke rutan, bawa kamera, terus pas disorot kamar sel Pak Mantan Menteri itu ternyata lebih mewah ketimbang kamarmu, Kin? Ada AC-nya. Ada kulkasnya. Ada air pancuran panas-dingin juga. Hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAtau\u2026\u201d belum selesai rupanya khayalan Cak Narto, \u201c\u2026apa kamu ngga marah kalau nanti ada foto candid wajah bapak itu pakai rambut palsu ala kadarnya sedang nonton pertandingan tenis. Atau tertangkap CCTV bandara sedang plesir ke luar negeri, misalnya. Atau lebih jauh lagi, nanti beberapa tahun lagi, selepas keluar dari penjara ternyata dia diangkat jadi komisaris BUMN, misalnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHayooo\u2026 apa nggak tambah sakit hati kamu. Tambah nggrantes, tho. Makanya harus kita dukung terkabulnya pembelaan beliau. Daripada kamu harus menanggung sakit hati yang sudah terprediksi begitu.\u201d Cak Narto menggigit bibir. Menahan tawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOooo&#8230;aku ngerti, Cak. Maksud Sampean kalau mau edan nggak usah nanggung-nanggung gitu kan? Di-pol-kan sekalian gitu, tho?\u201d Kanapi tergelak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha iya, tho. Untuk sampai pada anti-klimaks, sebuah lakon harus melewati fase klimaks dulu. Maka, ngga perlu kamu terlalu memusingkan semua drama ini. Biarkan segala ke-absurd-an ini terwujud paripurna. Biarkan kekonyolan-kekonyolan dipertontonkan di atas sana. Biarkan sirkus politik digelar di atas hamparan mayat rakyat. Nanti bangsa ini akan mencapai anti-klimaksnya sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat Cak Narto meluncur begitu saja. Datar. Berkelindan dengan rasa marah dan keheranan. Ia menggeleng. Tersenyum, meski kecut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan purnama malam ini tertutup kabut. Di sudut pemakaman desa, burung hantu dan serangga malam bersahutan. Tak ada yang dapat menafsir dialog mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam kandang, induk sapi menyuruh sang anak menutup mata, \u201cTidur lah, Nak. Tak perlu kau pikirkan. Besok masih ada bentuk ke-absurd-an yang lain.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Segala keheranan, rasa marah dan kecewa tersimpan rapi di antara embun malam yang mengembang di daun pohon bambu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mentertawakan-permohonan-bebas-juliari-batubara-si-paling-menderita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mentertawakan Permohonan Bebas Juliari Batubara, si Paling Menderita <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak berita tentang pledoi Juliari Batubara muncul, yang meminta dirinya dibebaskan, Solikin jadi uring-uringan.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":134680,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12588,12576,12849,8062,11643],"class_list":["post-134665","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-juliari-batubara","tag-kolom-cak-narto","tag-korupsi-bansos","tag-mensos","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134665","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=134665"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134665\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/134680"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=134665"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=134665"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=134665"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}