{"id":134240,"date":"2021-08-21T07:00:56","date_gmt":"2021-08-21T00:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=134240"},"modified":"2021-09-07T12:10:04","modified_gmt":"2021-09-07T05:10:04","slug":"kosakata-malang-yang-harus-diketahui-para-perantau-newbie","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-malang-yang-harus-diketahui-para-perantau-newbie\/","title":{"rendered":"Kosakata Malang yang Harus Diketahui para Perantau Newbie"},"content":{"rendered":"<p>Mengalami culture shock merupakan hal wajar yang dialami oleh pendatang di daerah baru. Saya pun mengalaminya saat pertama kali menginjakkan kaki di kota Kembang, Malang. Salah satu hal yang membuat saya sempat kaget adalah perihal bahasa. Malang sendiri termasuk daerah wetan. Jadi, dari segi bahasa dan logat bicara berbeda dengan saya, wong kulonan.<\/p>\n<p>Ada beberapa kata yang sama dengan bahasa kulonan tapi maknanya sangat bertolak belakang. Saya sendiri butuh waktu satu tahun untuk menyesuaikan diri dan mulai terbiasa dengan teman-teman saya yang berbahasa Jawa khas Malang. Nah, berikut merupakan rangkuman beberapa kosakata Malang yang sebaiknya diketahui para pendatang baru.<\/p>\n<h4>#1 Iwak<\/h4>\n<p>Di Blitar dan umumnya daerah plat AG, lauk-pauk dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama yakni iwak meliputi daging ayam, kambing, sapi, maupun bebek. Sedangkan jenis kedua ada lauh yang berasal dari zat nabati. Misalnya tempe, tahu, dan kerupuk.<\/p>\n<p>Akan tetapi, di Malang tak ada pengklasifikasian jenis lauk pauk. Malang sangat menjunjung tinggi prinsip keadilan sosial bagi seluruh lauk-pauk. Semua lauk pauk mempunyai sebutan yang sama baik itu hewani maupun nabati. Semuanya disebut iwak. Entah itu iwak tahu, iwak tempe, iwak pithik, iwak kambing, maupun iwak sapi.<\/p>\n<h4>#2 Jemek<\/h4>\n<p>Kata &#8220;jemek&#8221; di daerah asal saya mempunyai makna sesuatu yang lembek, becek, atau terlalu lunak. Biasanya kata jemek sering disandingkan dengan makanan atau tanah. Misalnya jenange jemek (jenangnya lembek), bubure kejemeken (buburnya terlalu lembek), atau lemahe jemek bar udan (tanahnya becek setelah hujan).<\/p>\n<p>Namun di Malang, jemek mempunyai makna yang sangat berbeda dengan daerah saya. Jemek di Malang berarti basah. Sedangkan di daerah saya penyebutan basah itu teles.<\/p>\n<p>Jadi, waktu awal-awal di kota ini, saya kaget pas teman saya bilang \u201cklambiku jemek\u201d. Saya kira dia ada tugas praktikum merebus baju untuk dijadikan jenang. Ternyata nggak. Bajunya jemek alias basah karena habis kehujanan.<\/p>\n<h4>#3 Rusuh<\/h4>\n<p>Kata &#8220;rusuh&#8221; identik dengan sesuatu yang onar, ricuh, dan keributan. Tapi di Malang, rusuh memiliki makna kotor atau reget di daerah saya. Maka jangan heran kalau ada orang Malang ngomong, \u201cEh, lantainya rusuh\u201d. Jangan diartikan sesama ubin lantai saling gelut. Namun, maksudnya lantainya kotor dan perlu dibersihkan.<\/p>\n<h4>#4 Kaleng<\/h4>\n<p>Di benak saya, kaleng identik dengan benda berbentuk tabung atau silindris yang terbuat dari logam, contohnya kaleng susu atau kaleng sarden. Namun di Malang, kata kaleng merupakan sebutan untuk timba air.<\/p>\n<h4>#5 Jembek<\/h4>\n<p>Jembek merupakan ungkapan yang diucapkan orang Malang saat mereka dihadapkan sesuatu yang nggilani atau jorok. Contoh penggunaan kata &#8220;jembek&#8221; yaitu saat kita melihat hewan menjijikkan dan bisa pula digunakan untuk merutuki diri sendiri karena nggak sengaja kentut keras di depan doi.<\/p>\n<h4>#6 Embong<\/h4>\n<p>Kata &#8220;embong&#8221; di Malang mempunyai makna jalan. Sedangkan di daerah saya embong artinya pematang di sawah dan bisa juga diartikan sungai. Makanya dulu saya sempat bingung waktu diajak teman saya makan bakso di pinggir embong. Kok ya kurang kerjaan sekali mencari bakso sampai ke sawah. Apalagi di Kota Malang sawah sudah jarang ditemukan. Eh, ternyata maksud dia mau mengajak saya makan bakso di pinggir jalan.<\/p>\n<h4>#7 Boso Walikan<\/h4>\n<p>Nah, kalau yang satu ini memang khas Malang banget. Orang sini memang kreatif sekali karena mempunyai kegemaran membalik kata. Contohnya, ada &#8220;Ngalam&#8221; merupakan walikan dari &#8220;Malang&#8221;. Ada lagi &#8220;kera-kera&#8221; atau &#8220;arek-arek&#8221;. Ada juga &#8220;oyisam&#8221; alias &#8220;iyo, mas&#8221;. Maupun &#8220;uka ngayas umak&#8221; alias &#8220;aku sayang kamu&#8221;.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-wisata-nol-rupiah-di-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Rekomendasi Wisata Nol Rupiah di Kota Malang<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/annisa-herawati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<b>Annisa Herawati<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Malang, ada beberapa kata yang sama dengan bahasa kulonan tapi maknanya ternyata sangat bertolak belakang.<\/p>\n","protected":false},"author":831,"featured_media":135949,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,12971,5807],"class_list":["post-134240","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-kosakata-malang","tag-perantau"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134240","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/831"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=134240"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134240\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/135949"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=134240"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=134240"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=134240"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}