{"id":133765,"date":"2021-08-09T14:30:28","date_gmt":"2021-08-09T07:30:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=133765"},"modified":"2021-09-07T13:32:15","modified_gmt":"2021-09-07T06:32:15","slug":"ketika-batu-loncatan-menjadi-batu-fondasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-batu-loncatan-menjadi-batu-fondasi\/","title":{"rendered":"Ketika Batu Loncatan Menjadi Batu Fondasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi kantor ini setahun aja yuk? Buat batu loncatan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTiga tahun kemudian masih di kantor yang sama\u201d.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat tersebut dituliskan salah seorang milenial dalam postingan di akun TikToknya yang saya lihat beberapa hari lalu. Berapa banyak dari kita yang ternyata mengalami hal serupa? Saya salah satunya, hehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak komentar lucu yang saya lihat di postingan tersebut. \u201cNiatnya ingin jadi batu loncatan, malah jadi batu fondasi\u201d, \u201cMaunya jadi batu loncatan, malah membatu\u201d, \u201cBatu loncatan, eh pas loncat jatuh ke lumpur yang paling dalam\u201d, \u201cNgedumelin kerjaan, julidin bos, ngeluh terus, tapi nggak resign-resign\u201d, dan komentar-komentar lainnya. Rupanya, bukan saya saja yang pernah merasa ingin resign, entah karena tidak betah, atau pun karena ada hal lain yang ingin dicapai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di awal perjalanan saya pada perusahaan tempat saya bekerja saat ini, saya menargetkan hanya setahun saja, lalu saya akan melamar beasiswa S2, dan melanjutkan kuliah di luar negeri, kemudian kembali untuk mengabdi sebagai dosen yang juga memiliki usaha sampingan. Saat itu di pikiran saya, saya ingin sekali berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan dan perekonomian di kampung halaman saya, Jayapura, Papua. Sungguh cita-cita yang mulia sekali bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa saya sangka, di awal karier saya ditempatkan di Kabupaten Puncak, daerah di pegunungan tengah Papua yang masih cukup terisolasi. Mahalnya harga barang dan terbatasnya koneksi internet jadi motivasi sendiri buat cepat-cepat resign. Apalagi kalau ada hal-hal dan orang-orang di tempat kerja yang bikin jengkel. Wiiih, jiwa ingin resign sangat meronta-ronta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan internet seadanya yang bisa diperoleh dengan numpang Wi-Fi dari kantor-kantor pemerintah (saat itu kantor saya masih belum punya Wi-Fi), sebisa mungkin saya mencari informasi untuk bisa meraih cita-cita saya. Saya menghubungi senior saya saat kuliah dulu, seorang alumni beasiswa LPDP yang dengan senang hati berbagi segala informasi tentang beasiswa tersebut. Saya juga menghubungi teman saya yang seusai kuliah sukses dengan usaha kafe yang ia buka di kampung halamannya, untuk mencari informasi tentang segala sesuatu yang dia lakukan untuk memulai usahanya. Semangat sekali ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well, itu terjadi pada 2016, ketika saya belum merasakan pusingnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak kunjung selesai, lelahnya lembur, dan betapa magernya saya ketika akhir pekan. Kini sudah 2021, dan itu berarti saya telah \u201cterjebak\u201d selama lima tahun dalam pekerjaan yang niatnya hanya saya jadikan batu loncatan saja. Tentu bukan waktu yang singkat. Kalau Anda kredit mobil tahun 2016, tahun ini mobil itu sudah lunas dan resmi menjadi milik Anda seutuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ini tentu bukan berarti saya tidak menikmati pekerjaan saya. Saya sangat menikmatinya, hingga jika ditanya apakah cita-cita saya masih sama seperti saat itu, tentu sudah berubah sama sekali. Di usia saya yang menginjak akhir 20an ini, rasanya cita-cita itu cukup sebatas angan-angan saja. Biar jadi cerita ke depannya nanti betapa labilnya saya ketika muda, hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Subtle Art of Not Giving a Fuck: A Counterintuitive Approach to Living a Good Life<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Mark Manson mengemukakan, \u201cWho you are is defined by what you\u2019re willing to struggle for.\u201d Kita didefinisikan oleh apa yang ingin kita perjuangkan. Hal ini karena perjuangan kita menentukan kesuksesan kita. Kurang lebih sama halnya dengan ungkapan yang sering kali kita dengar, hasil tidak akan mengkhianati proses. Banyak orang ingin punya bisnis yang sukses, namun tidak semua orang rela menghadapi ketidakpastian dunia usaha dan jatuh bangun yang harus dilalui. Banyak orang ingin memiliki hubungan percintaan seperti Glenn Alinskie dan Chelsea Olivia, tapi tidak semua orang mau susah payah menyatukan perbedaan-perbedaan yang sudah pasti akan ada dalam suatu hubungan. Mungkin itu alasannya saya masih jomblo sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membaca buku tersebut, saya mulai sadar. Seringkali saya merasa cukup tertekan dengan apa yang saya cita-citakan sendiri di kala itu. Saya juga mulai merenung, dan berakhir dengan kesimpulan yang sama dengan Mark. Saya tidak mau berjuang untuk meraih cita-cita saya menjadi dosen dan wirausaha, meskipun menurut saya sangat keren. Saya hanya ingin jadi orang keren, tanpa rela bersusah payah meraihnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi para pejuang tangguh, boleh saja saya dipandang sebagai orang gagal, seorang loser yang tidak cukup tekun mengejar mimpi. Yang sebenarnya terjadi adalah saya kira saya mau jadi dosen dan wirausaha, tapi rupanya tidak. Perkara selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini tentu sah-sah saja. Namanya juga manusia, perlu proses mengenal dirinya sendiri. Jangankan cita-cita yang perlu banyak pertimbangan. Jenis makanan yang seseorang mau saja bisa berubah dengan cepat. Sejam yang lalu ingin makan mi ayam, tiba-tiba sekarang berubah ingin makan nasi uduk. Gimana, ngelesnya cukup bagus nggak? Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekerja-kok-untuk-duit-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekerja Kok untuk Duit, Aneh\u00a0<\/a><\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Niatnya bentar eh keterusan.<\/p>\n","protected":false},"author":1591,"featured_media":131469,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[12789,12790,11642,12791,72],"class_list":["post-133765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-batu-loncatan","tag-bertahan","tag-gaya-hidup-terminal","tag-nyaman","tag-pekerjaan"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1591"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133765"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133765\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131469"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}