{"id":133560,"date":"2021-08-08T11:00:53","date_gmt":"2021-08-08T04:00:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=133560"},"modified":"2021-09-21T12:34:00","modified_gmt":"2021-09-21T05:34:00","slug":"kenapa-sih-orang-orang-suka-banget-sama-gosip","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-orang-orang-suka-banget-sama-gosip\/","title":{"rendered":"Kenapa sih Orang-orang Suka Banget sama Gosip?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya membicarakan orang di belakang alias gosip di Indonesia atau bahkan di dunia lumayan digemari khalayak ramai. Sampai-sampai, budaya tersebut memiliki sebutan bermacam-macam; &#8220;rumpi&#8221;, &#8220;gibah&#8221;, &#8220;gibah syari&#8217;ah&#8221;, dan banyak lagi sebutannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bagaimanapun penyebutannya, intinya sama saja, semua sebutan itu berarti membicarakan sisi negatif suatu kelompok atau seseorang dari belakang untuk tujuan tertentu, entah itu menyudutkan, menjatuhkan, ataupun mengevaluasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, merujuk pada tujuan gosip yang sederhana itu, tentu banyak dari kita yang pernah gosip. Minimal pernah membicarakan teman satu kelas yang pintar tapi pelit jawaban saat ujian, membicarakan guru yang galak di sekolah, atau membicarakan dosen yang killer (merobek lembar jawaban kalau ketahuan nyontek) saat mengawas ujian&#8211;pasti salah satu dari beberapa contoh itu pernah kalian lakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kenapa gosip itu hanya dilekatkan kepada ibu-ibu, padahal kalian bisa jadi lebih layak dinobatkan sebagai dewa gosip tingkat kos-kosan, warung kopi, kelas, jurusan, fakultas, universitas, atau bahkan se-Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mari dihilangkan anggapan tentang tukang gosip itu hanya ibu-ibu. Dan mari kita bahas lebih jauh, alasan-alasan gosip digemari khalayak ramai.<\/span><\/p>\n<h4><b>Informatif tapi manipulatif<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut McAndrew, Bell &amp; Garcia (2007), gosip adalah kegiatan memanipulasi reputasi orang lain dengan menyuguhkan informasi negatif mengenai orang tersebut. Informasi yang dicari biasanya informasi yang berdampak pada keberadaan seseorang di lingkungan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari pengertian di atas, kendati negatif, gosip bisa dikatakan sebagai kegiatan yang produktif, karena isi pesannya yang sangat informatif. Hal ini membuat kegiatan ini menjadi sangat ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, karena informasi yang disuguhkan berupa informasi negatif dan manipulatif, hal itu menjadi sesuatu yang baru, jarang didengar, ditemukan, atau bahkan di luar dugaan, sehingga menyita perhatian khalayak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan penyampai, biasanya menggunakan bahasa-bahasa yang ringan dan menghidupkan tawa, seperti bahasa yang sering digunakan Bung Valentino Jebret saat menjadi komentator bola di kejuaraan sepak bola Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu, yang namanya memanipulasi bukan suatu pekerjaan gampang, hanya orang-orang berbakat dan berpengalaman yang bisa melakukannya. Itulah mengapa penyampai biasanya menyampaikan isi pesan gosipnya dengan model pidato monolog, dan minim dialog.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orator itu juga biasanya diikuti, ditokohkan, dicari-cari, dan dikagumi oleh orang-orang di sekitarnya, karena kemampuannya memanipulasi informasi tentang orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti penelitian yang dilakukan Hartung dan Renner (2013), menunjukkan bahwa kegiatan ini menjadi ajang untuk membandingkan kelebihan diri mereka sendiri dengan kekurangan orang lain, atas dasar iri dan dengki karena persaingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah alasan gosip digemari khalayak ramai, informatif tapi manipulatif.<\/span><\/p>\n<h4><b>Evaluatif tapi pencitraan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Wert dan Salovey (2004), &#8220;gosip adalah percakapan evaluatif mengenai sesuatu yang negatif dan bersifat informal mengenai permasalahan suatu kelompok atau seseorang yang tidak hadir atau di belakang dalam suatu lingkungan sosial.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, percakapan evaluatif ini merupakan sisi terang dari gosip, karena arah dari percakapannya tentu akan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi sebagai solusi masalah bagi pihak-pihak terkait yang menjadi topik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disebabkan sifatnya yang informal, konsep pelaksanaan gosip model evaluatif ini berbentuk dialog bebas. Setiap orang dalam percakapan itu membawa informasi negatifnya masing-masing, sesuai dengan apa yang ditemukan, didengar, dilihat, dan dirasakan. Dan pastinya dalam model evaluatif ini, tidak ada orator tunggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sifat \u201csok pahlawan\u201d dalam focus gosip discussion\u2014istilah yang penulis gunakan untuk menyebut gosip evaluatif ini\u2014kadang muncul tiba-tiba. Para peserta focus gosip discussion ini kerap kali menceritakan sisi negatif suatu kelompok atau orang lain yang diketahuinya, atas dasar mencari solusi\u2014entah pura-pura atau tulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, dalam sebuah studi tahun 2015 yang dipublikasi dalam Social Neuroscience, para ilmuwan mengatakan bahwa otak pria dan wanita saat mendengar kabar negatif tentang diri mereka sendiri, sahabat, dan fans mereka, akan memunculkan reaksi pencitraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, gosip pada dasarnya hanyalah bertujuan memenuhi keinginan manusia (khalayak ramai) untuk dilihat secara positif oleh orang lain dan cocok secara sosial, terlepas dari apakah ini mencerminkan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/acara-gosip-sudah-miskin-moral-kini-miskin-kreativitas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Acara Gosip: Sudah Miskin Moral, Kini Miskin Kreativitas<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa ya orang pada suka nggosip?<\/p>\n","protected":false},"author":1585,"featured_media":133595,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[8015,1063,12768,12769,11678],"class_list":["post-133560","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-fitnah","tag-gosip","tag-kabar-negatif","tag-manipulatif","tag-pendidikan-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1585"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133560"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133560\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/133595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}