{"id":133363,"date":"2021-08-05T14:33:23","date_gmt":"2021-08-05T07:33:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=133363"},"modified":"2021-09-21T14:19:18","modified_gmt":"2021-09-21T07:19:18","slug":"baliho-politisi-obat-mencret-dan-dagangan-yang-tidak-bermutu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baliho-politisi-obat-mencret-dan-dagangan-yang-tidak-bermutu\/","title":{"rendered":"Baliho Politisi, Obat Mencret, dan Dagangan yang Tidak Bermutu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, Kin. Kalau memang seseorang yakin apa yang sedang dijualnya itu bagus dan bermutu tinggi, orang itu nggak akan capek-capek beriklan. Kualitas barangnya sendiri yang akan meyakinkan pembeli.\u201d ujar Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebentar, Cak! Dengan analogi itu, apa maksud Sampean orang yang beriklan pasti barangnya nggak bagus dan nggak mutu, gitu?\u201d Kejar Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho sik ta la, Kan ini ngomongin baliho-baliho itu tho, Kin!\u201d Jawab Cak Narto sembari menunjuk deretan baliho di seberang jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai sedari pagi tadi bergotong royong mengecat gapura desa dalam rangka menyambut tujuh belasan sesuai anjuran pamong desa, Cak Narto, Kanapi dan Solikin mengaso di bawah rindang pohon akasia. Di seberang jalan, baliho-baliho raksasa politisi nasional njogrog dengan bermacam pose dan slogan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyusul capaian medali emas pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo, kini bermunculan lebih banyak lagi baliho politisi-politisi daerah yang mejeng di sana. Memenuhi ruang publik desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Cak, aku ngerti\u2026\u201d sergah Solikin, \u201c\u2026apa iya orang jualan nggak boleh beriklan. Masa orang mau nyalon nggak boleh kampanye, gitu? Masalah kualitas kan nantinya bisa kita nilai sendiri, Cak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTentu saja boleh, Kin. nggak ada larangan. Tapi, gini maksudku.\u201d Cak Narto meneguk es teh lantas membakar kretek. Kalimatnya pasti akan panjang kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeriklan itu ya sesuatu yang sah, kalau konteksnya orang jualan obat kuat, obat mencret atau ayam geprek, misalnya. Tapi, ketika yang diiklankan adalah kepemimpinan, kok aku curiga. Jangan-jangan yang sedang jualan sendiri tidak yakin dengan dagangannya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJangan-jangan Dia juga nggak yakin kalau dirinya adalah calon pemimpin yang berkualitas. Dan akhirnya, Ia merasa perlu untuk meyakinkan orang untuk memilihnya. Merasa perlu berkampanye. Hehehe.\u201d Cak Narto terpingkal berurai air mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah kalau gitu yang Sampean maksud, berarti analisisnya kejauhan, Cak. Analoginya juga ra mashok.\u201d Ledek Solikin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKejauhan gimana? Ra mashok gimana, Kin?\u201d tanya Cak Narto sambil menyeka air mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOkelah, aku setuju dengan analogi bahwa politisi ini mirip dengan pedagang. Tapi, ya masa pedagang nggak boleh beriklan dan politisi nggak boleh kampanye, Cak?\u201d Solikin memprotes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho gimana sih, Kin. Maksudku kalau orang mau beriklan obat mencret, menurutku sih itu wajar saja. Tapi, mengiklankan kepemimpinan, itu adalah bentuk iklan asongan yang paling nggak mutu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian, Kin, mbok ya kalau mau beriklan itu yang empatik. Yang empan papan dan memperhatikan titimangsa, gitu.\u201d Cak Narto terkekeh sekali lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTitimangsa apa, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto tidak lantas menjawab. Raut mukanya mendadak serius. Hangat angin siang itu membawa sejenis kesedihan padanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau ada rumah orang yang sedang kebakaran, tidak patut kamu jualan alat pemadam api kepadanya. Itu namanya nggak ada empati. Kalau orang sedang kelaparan, nggak boleh kamu jual sepotong roti kepadanya. Itu namanya nggak empan papan. Di saat rakyat sedang pontang-panting bertahan hidup, menyambung nyawa hari demi hari di tengah pandemi, jangan kamu malah kampanye. Itu namanya nggak ngerti titimangsa kapan harus bakulan. Kapan harus ngasong!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan hening. Solikin enggan menimpali. Di ujung matanya berkelebat pemandangan seseorang yang sedang tersengal nafasnya. Mencoba bertahan hidup di bangsal-bangsal rumah sakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, di baliho itu kan nggak ada kata-kata \u2018ayo pilih saya, coblos nganunya, atau contreng itunya\u2019, Cak. Itu bukan baliho kampanye, Cak. Hehehe.\u201d Kanapi terkekeh, mencoba memecah suasana canggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cItu namanya teknik soft selling, Mas Pi. nggak perlu pakai kata-kata persuasi \u2018ayo pilih saya\u2019 anak kecil juga tahu kalau dia sedang berdagang. Sedang kampanye.\u201d jelas Solikin dengan istilah orang sekolahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto mengangguk memberi afirmasi penjelasan Solikin. Tapi, kemudian Ia tertunduk dan menggeleng pelan, mengembuskan asap kreteknya beradu dengan permukaan tanah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKenapa lagi sih, Cak. Mbok jangan semua-semua Sampean pikir terlalu dalam gitu. Hehehe.\u201d Hibur Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEmang begini kondisinya di negara demokrasi yang adiluhung ini, Ndes\u2026\u201d Cak Narto tersenyum, \u201c\u2026pencapaian reformasi kita cuma sejauh ini. Ia telah melahirkan sebuah sistem yang menginjak-injak nalar. Telah menelurkan pemimpin-pemimpin yang nir-empati. Telah menghasilkan pola kepemimpinan yang pincang, buta, dan tuli secara bersamaan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening. Kalimat Cak Narto seolah keluar tanpa menginginkan balasan atau komentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerlepas dari itu semua kita tetap patut bersyukur, Ndes\u2026\u201d Cak Narto berdiri. Menepuk pantat, membersihkan rerumputan dari sana. \u201c\u2026dengan banyaknya baliho seperti ini, ekonomi keluarga Si Pardi jadi hidup lagi. Banyak pesanan baliho masuk di konveksinya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan, pada akhirnya kalau musim pemilu sudah datang nanti, kita sudah tahu calon mana yang harus kita pilih. Calon mana yang punya empati. Calon mana yang suka nebeng prestasi atlet. Calon mana yang qualified.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi antara semua orang itu, mana yang pantas dipilih nanti pas pemilu, Cak?\u201d Tanya Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMmmm\u2026 sudah tentu yang nggak ikut-ikutan masang baliho dan beriklan di masa-masa sulit seperti ini, Pi. Hehehe.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejurus kemudian Pardi datang menghampiri mereka. Ia membawa satu nampan sukun goreng, seceret besar es tebu, dan beberapa bungkus rokok kretek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, hidup memberikan mereka pilihan untuk tetap tersenyum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angin hangat membawa cengkerama mereka berhamburan ke langit. Di seberang jalan para politisi itu ikut tersenyum. Sejenis pose senyum yang aneh. Terpampang pada baliho yang robek di beberapa bagiannya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soal-negara-demokrasi-semua-orang-di-dunia-itu-norak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Soal Negara Demokrasi, Semua Orang di Dunia Itu Norak!\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ingin tahu politisi mana yang harusnya tidak kalian pilih waktu pemilu mendatang? Gampang, pilih saja yang tidak pasang baliho.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":132124,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[12738,17,5602,8974,12576,19,11643],"class_list":["post-133363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-baliho-politisi","tag-demokrasi","tag-empati","tag-kampanye","tag-kolom-cak-narto","tag-pemilu","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133363"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133363\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132124"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}