{"id":133010,"date":"2021-08-03T14:30:43","date_gmt":"2021-08-03T07:30:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=133010"},"modified":"2021-08-30T11:36:20","modified_gmt":"2021-08-30T04:36:20","slug":"korea-selatan-jepang-barat-dan-netizen-indonesia-yang-kebablasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/korea-selatan-jepang-barat-dan-netizen-indonesia-yang-kebablasan\/","title":{"rendered":"Korea Selatan, Jepang Barat, dan Netizen Indonesia yang Kebablasan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berbicara tentang olimpiade, kita (harusnya) tak jauh-jauh bicara tentang rekor, medali, dan kemanusiaan. Meski ini adalah ajang \u201cperang\u201d antarnegara, namun kemanusiaan tetap dijunjung tinggi. Dan berbicara masalah kemanusiaan, ada kejadian tak menyenangkan yang dilakukan oleh segelintir orang Korea Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini awalnya bermula dari stasiun televisi asal Korea Selatan,<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/koryodynasty\/status\/1418600598631436293?s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">MBC<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, yang menggunakan narasi negatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan olahraga sama sekali. Bahkan, bisa dibilang mengarah ke rasisme. Seakan tak cukup, ada saja ulahnya lagi dengan komentar atlet asal Korea Selatan yang menyebut atlet asal Iran sebagai teroris karena berhasil memenangkan medali emas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul, saya yakin juga, nggak semuanya orang Korea Selatan 100 persen itu rasis ke orang-orang. Namun, ada hal yang tak boleh diabaikan. Rasisme begitu kental di Korea Selatan. Ini ada<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/idwiki\/status\/1421673459789176835?s=19\"> <span style=\"font-weight: 400;\">insight<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> baru buat kalian baca soal kelakuan rasisme di Korea Selatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada aksi, ada reaksi. Dari polah beberapa orang yang mencoreng kemanusiaan, Korea Selatan kena imbasnya. Mereka diserang netizen dari berbagai sudut. Bayangkan begini, Indonesia saja bisa begitu mengerikan saat merujak negara lain, bagaimana kalau seisi dunia? Tapi, saya mau fokus ke masalah mulut netizen Indonesia yang sering tak terkontrol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, salah satu yang belakangan marak jadi bahan ngatain dari netizen Indonesia adalah &#8220;Jepang Barat&#8221; untuk Korea Selatan. Kenapa Jepang Barat? Kalau dari banyak komentar netizen, sebabnya karena Korea Selatan dulu adalah jajahan Jepang pada masa Perang Dunia II dan pada masa itu disebut sebagai Jepang Barat. Well, katanya sih begitu. Tapi apa, benar begitu faktanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya, tidak ada satu jurnal atau tulisan yang menyatakan bahwa Jepang Barat adalah sebutan untuk Korsel pada masa Perang Dunia II, ya. Saya sama sekali tidak menemukan sumber akademiknya, kecuali hanya dari meme yang banyak bertebaran di internet soal ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya pelajari soal Korsel pada masa itu, saya hanya tahu Semenanjung Korea (waktu Perang Dunia II Korea belum terpisah) pada masa pendudukan Kekaisaran Jepang disebut Nihont\u014dchijidainoch\u014dsen<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dalam Bahasa Jepangnya, dan Ilje gangjeomgi dalam Bahasa Korea. Kurang lebih artinya Korea di bawah pendudukan Jepang. Artikel dari kanal berita<\/span><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2301450\/hoaks-sebutan-jepang-barat-untuk-korea-saat-dijajah-jepang\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ANTARA<\/span><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0dan<\/span><a href=\"https:\/\/asumsi.co\/post\/balas-perundungan-netizen-indonesia-sebut-korsel-jepang-barat-apa-maksudnya\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> bahkan menyebutkan informasi lebih lengkap soal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selepas kata Jepang Barat yang menjadi cemoohan untuk Korea Selatan, lama-lama muncul orang yang malah membawa bendera Jepang pada masa Perang Dunia II. Bendera yang disebut sebagai bendera &#8220;matahari terbit&#8221; tersebut dengan gamblang dibawa-bawa oleh banyak netizen, dan mereka menganggap hal itu adalah hal yang harus dilakukan untuk mengatai Korea Selatan. Sudah pakai bendera itu, ditambah pula banyak yang teriak-teriak Tenno Heika Banzai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas dan Mbak netizen yang mengatai Korea Selatan. Saya paham, kelakuan sebagian orang Korea Selatan kemarin sungguh sangat menyebalkan, tapi tolong jangan malah terlalu lebar dan salah sasaran. Saya kasih tau dengan baik-baik nih, barangkali memang betul kisanak sekalian hanya ikut-ikutan saja tanpa tahu maksudnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bendera matahari terbit yang dipakai pada masa Perang Dunia II itu tak hanya menimbulkan trauma untuk Korsel saja, namun juga seluruh negara yang jadi jajahan Jepang. Saat Jepang menjajah Indonesia, bendera tersebut juga dipakai loh, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well, mungkin traumanya lebih besar dirasakan penduduk Korsel karena masa pendudukan Jepang di sana sangat lama, tidak seperti di Indonesia. Tapi mohon maaf, 3,5 tahun dijajah itu rasanya tetap nggak enak banget. Belum lagi negara-negara bekas jajahan Jepang lainnya. Kamu seperti menusuk orang lain, tapi juga ikut terluka. Lain kali, kalau soal sejarah, baca-baca dulu dan resapi. Masa sudah ngatain dengan sejarah yang salah, eh sasarannya juga nggak tepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan seperti kasus yang sudah-sudah, kalau udah marah, netizen Indo kadang mulai menyerang pihak yang sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak netizen yang justru menghujat fans Kpop karena ulah Korsel. Padahal mereka pun juga paham sama hal ini, dan tidak ikutan mengadaptasinya. Kalian nggak bisa kan membenci fans blink-182 hanya karena mereka satu negara sama Trump?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Idol-idol yang berkecimpung dalam industri pun tak luput dari sasaran rasisme. Jika kalian menyerang fans Kpop, kalian justru sedang merisak orang yang sekubu dengan kalian.<\/span><\/p>\n<p>Saya mengutuk rasisme yang dilakukan oleh segelintir orang Korsel. Tapi, mengejek dengan membawa-bawa derita masa lalu itu bukan tindakan yang bisa dibenarkan. Mengutuk dan berusaha tidak meniru tindakan rasis yang dilakukan itu sudah cukup, tak perlu membuka luka lama.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sarankan, lain kali, kalau emang nggak paham sama isunya, jangan ikut-ikutan. Nanti kalian yang malu sendiri. Justru sebagai negara yang pernah dijajah Jepang, kita harusnya paham pedih yang mereka rasakan. Lha ini malah ikutan ngejek, nggak ngaca apa.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pesan-cinta-untuk-para-wibu-yang-sering-mengandaikan-jepang-menang-pd-ii\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pesan Cinta untuk para Wibu yang Sering Mengandaikan Jepang Menang PD-II<\/a><\/b>\u00a0<b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\"><b>Nasrulloh Alif Suherman<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sama-sama dijajah kok kebanyakan atraksi.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":133046,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[12690,959,5478,12691,11643,2637,12692],"class_list":["post-133010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-jepang-barat","tag-korea-selatan","tag-netizen-indonesia","tag-penajajahan","tag-pojok-tubir-terminal","tag-rasisme","tag-tenno-heika-banzai"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133010"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133010\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/133046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}