{"id":132357,"date":"2021-07-30T13:00:00","date_gmt":"2021-07-30T06:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=132357"},"modified":"2021-09-21T15:23:03","modified_gmt":"2021-09-21T08:23:03","slug":"acara-vaksinasi-oleh-parpol-tanda-skala-prioritas-negara-yang-bobrok-dan-jakartasentris","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/acara-vaksinasi-oleh-parpol-tanda-skala-prioritas-negara-yang-bobrok-dan-jakartasentris\/","title":{"rendered":"Acara Vaksinasi oleh Parpol, Tanda Skala Prioritas Negara yang Bobrok dan Jakartasentris"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di hadapan partai politik dan calon-calonnya, kita sebagai rakyat tak lebih dari suara yang niscaya bakal memenangkan mereka saat pemilu. Kita yakin hal ini sampai ke tulang dan bukan suuzan belaka. Dengan demikian, acara berbasis kemanusiaan semulia apa pun yang mereka selenggarakan, kita tahu, semua itu tak bisa lepas dari pamrih untuk dipilih, atau kita biasa menyebutnya sebagai agenda politik. Tak terkecuali acara vaksinasi yang kini sangat dibutuhkan untuk mengakhiri pandemi dan derita semua orang. Dan, mereka pun turut serta menyelenggarakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, negara tak dapat bergerak sendiri dalam vaksinasi untuk mencapai herd immunity. Mereka perlu elemen lain yang ikut membantu. Tapi, nggak harus nyerahin penyelenggaraan acara vaksinasi ke parpol kaleee. Ya, meski sebenarnya nggak apa-apa juga, sih. Bahkan jika itu buat ajang kampanye tanpa muslihat sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, banyak daerah yang masih kekurangan stok vaksin. Padahal kita tahu, penyelenggara acara vaksinasi di banyak daerah dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat, yang notabene kaki tangan langsung milik negara dalam mencapai targetnya, yaitu dua sampai lima juta suntikan vaksin sehari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah yang saya maksud di atas tentu bukan luar Jawa saja. Tapi, daerah-daerah di Jawa yang bukan Jakarta juga mengalami hal serupa. Contoh saja Cilacap, lokasi rumah sakit tempat saya bekerja. RS kami, yang sebenarnya cuma membantu puskesmas setempat, hanya bisa menyuntikkan pada masyarakat yang sudah terdaftar, lansia, dan guru. Bagi yang belum terdaftar, entah itu terhambat akses atau kemampuannya, harus menunggu kalau ada seseorang batal vaksin karena suatu hal. Singkatnya, situasi macam ini terlihat banget seperti sedang rebutan, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Purwokerto pun demikian. Menurut kenalan saya di salah satu puskesmas di sana, jatah vaksin dari Dinkes hanya sedikit dan hanya cukup untuk golongan yang diprioritaskan, yaitu orang tua di atas 50 tahun. Sementara bagi yang lain, entah kapan mendapat giliran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara Jabar yang padahal dekat dengan Jakarta pun sampai kehabisan. Mengutip dari<\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/daftar-sejumlah-daerah-yang-teriak-kehabisan-vaksin-corona-1wBWFmqwp3K\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Kumparan News<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Ridwan Kamil sang Gubernur bilang kalau stok dari pusat memang habis, dan baru datang pada Agustus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru daerah di Jawa, loh. Bagaimana yang di luar Jawa? Tentu lebih memprihatinkan lagi. Saya baca artikel di<\/span><a href=\"http:\/\/nasional.tempo.co\/amp\/1488508\/balikpapan-kehabisan-vaksin-covid-19-vaksinasi-tahap-ii-sejumlah-warga-tertunda\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Tempo.co<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><a href=\"http:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210716103133-20-668531\/ramai-ramai-daerah-teriak-kekurangan-stok-vaksin\/amp\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">CNN Indonesia<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kumparan News<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, setidaknya daerah Lampung, Sumbar, NTT, Balikpapan, Banjarmasin, dan masih banyak lagi memiliki masalah yang sama. Padahal itu untuk suntikan vaksin yang kedua. Dengan kata lain, yang belum pernah disuntik vaksin sama sekali, harus menunggu lebih lama lagi!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua kekacauan itu, bisa kita tarik benang merah masalahnya: stok vaksin terbatas. Nah, di tengah keterbatasan ini, sekali lagi, saya terheran-heran kenapa parpol yang bukan entitas wajib menyukseskan vaksinasi dapat jatah duluan? Ini negara apa remaja labil dah, kok nggak punya skala prioritas yang wangun, sih?!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh, semua stok vaksin yang ada di tangan parpol itu diambil dan diserahkan ke Dinkes, pasti nggak bakal ada keluhan dari daerah bahwa mereka kekurangan. Kalau masalah Dinkes itu kekurangan tenaga kan bisa melibatkan fasyankes swasta gitu loh, yang memang berkutat pada bidang ini. Untungnya, memang sudah berjalan demikian dan cuma perlu melibatkan mereka lebih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang jatah ke parpol bukan satu-satunya alasan. Tapi, kan gimana gitu. Malahan kian mengisyaratkan bahwa negara, selain Jakartasentris, juga parpol-sentris. Mementingkan parpol daripada Dinkes yang memang sudah jadi tugas dan kewajibannya untuk melakukan vaksinasi. Tahu-tahu stok vaksin terbatas, malah disisihkan untuk parpol. Apalagi, parpol-parpol itu ialah yang berkoalisi dengan penguasa lagi (Eh, tapi, bukannya udah nggak ada partai oposisi, ya? Wqwqwq).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, sekali lagi, kita semua percaya bahwa parpol itu punya pamrih di balik ini. Dan, pamrih mereka pun kerap merugikan rakyat saat mereka menang atau terpilih. Soalnya nggak bisa ngemban suara dari kita saat sudah duduk di tampuk kekuasaan. Kalau dengan vaksinasi dapat meningkatkan elektabilitas mereka, kan pedih banget kalau ujung-ujungnya nanti pas kepilih cuma mau melupakan dan mencampakkan rakyat.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-jadi-satgas-covid-19-dicari-saat-ada-paparan-dimusuhi-saat-beri-imbauan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Suka Duka Jadi Satgas Covid-19: Dicari Saat Ada Paparan, Dimusuhi Saat Beri Imbauan<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Nyarmi Rahman<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Acara vaksinasi yang diselenggarakan parpol itu adalah tanda kalau ada yang salah sama negara ini.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":94775,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[12581,12584,12197,12582,11643,12583,12585],"class_list":["post-132357","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-acara-vaksinasi","tag-dinas-kesehatan","tag-nakes","tag-parpol","tag-pojok-tubir-terminal","tag-skala-prioritas","tag-stok-vaksin"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132357","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132357"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132357\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132357"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132357"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132357"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}