{"id":132170,"date":"2021-07-30T11:30:19","date_gmt":"2021-07-30T04:30:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=132170"},"modified":"2021-08-29T21:55:10","modified_gmt":"2021-08-29T14:55:10","slug":"sidak-blusukan-dan-gimik-insignifikan-pejabat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidak-blusukan-dan-gimik-insignifikan-pejabat\/","title":{"rendered":"Sidak, Blusukan, dan Gimik Insignifikan Pejabat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa begini ini seharusnya seorang pemimpin, Di! Langsung turun ke lapangan. Sidak. Blusukan. Menggali informasi langsung dari akar rumput.\u201d Kanapi menyodorkan gawainya kepada Pardi yang sedang duduk bersila menghadap meja karambol, memperlihatkan sebuah berita tentang sidak Presiden Jokowi ke sebuah apotek di bilangan Bogor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu, seperti ramai diberitakan, Presiden Jokowi memang melakukan sidak ke apotek untuk mengecek ketersediaan obat-obatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOhhh\u2026 Aku udah baca itu, Pi. Basi.\u201d tukas Pardi sembari menebar tepung ke papan karambol di hadapannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho\u2026mbokyao kalau ada tindakan pejabat yang bagus tuh diapresiasi, Di. Jangan kaya netijen, apa saja yang dilakukan pemerintah kok keliatan salah terus.\u201d Gerutu Kanapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApanya yang bisa diapresiasi, Pi? Bukannya sejak awal dulu beliau suka atraksi begitu? Ya kan, Cak?\u201d Pardi terkekeh meminta afirmasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku nggak melu-melu.\u201d Cak Narto fokus menghadap kepingan pada papan karambol dan menyentilnya mantap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAtraksi gimana maksudnya, Mas?\u201d tanya Solikin penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa, gitu itu, Kin. Kaya masuk got, blusukan ngasih sembako, sidak pungli di pelabuhan, sidak obat di apotek, apa namanya kalau bukan atraksi?\u201d Jawab Kanapi sambil lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOohhh\u2026 itu kalau dalam dunia publisitas namanya gimmick, Mas.\u201d Ujar Solikin mengomentari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMau disebut atraksi atau gimmick, Kin, apa yang sudah dilakukan Presiden Jokowi patut diapresiasi. Dari aksi seperti itu, kan bisa ketahuan di mana letak bopeng-bopeng pelaksanaan kebijakan yang telah beliau cetuskan untuk masyarakat. Itu semacam tamparan buat anak buahnya. Ya nggak, Cak?\u201d Kanapi kembali memancing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda dua hal, Ndes\u2026\u201d Cak Narto akhirnya menanggapi. \u201c\u2026yang terlihat dari apa yang telah dilakukan Pak Presiden lewat gimmick begitu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa aja, Cak?\u201d tanya Kanapi dan Solikin serempak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang pertama\u2026\u201d Cak Narto meraih es tebu di kursi samping dan menyeruputnya, \u201c\u2026blusukan-blusukan seperti itu menunjukkan bahwa ada nuansa ketidakpercayaan seorang pemimpin terhadap anak buahnya di lapangan. Dan itu kurang bagus dari segi kepemimpinan, karena menunjukkan adanya ketidakharmonisan dalam sistem pemerintahan kita.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan yang kedua, selain tidak pernah menyelesaikan permasalahan, blusukan seperti itu, menurutku, di tengah masa pandemi seperti ini, tidak penting untuk dilakukan oleh seorang presiden. Ada banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang kepala negara dengan wewenang yang begitu luar biasa.\u201d Cak Narto meraih bungkus kretek kemudian membakarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha, memang dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah di lapangan banyak carut-marutnya kok, Cak? ya wajar dong kalau Pak Jokowi tidak percaya dengan anak buahnya. Itu obat yang ditanyakan waktu sidak di apotek memang sedang langka, Cak. Padahal itu obat Covid!\u201d Tukas Kanapi berapi-api.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh itu yang disidak obat Covid, Pi? Biyuhhhhh\u2026kasihan betul Pak Presiden Jokowi. Siapa yang mbisiki beliau buat sidak nggak mutu begitu, ya?\u201d Cak Narto menggeleng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLebih kasihan lagi, menteri kesehatan, para ahli dan nakes-nakes di lapangan, Cak. Tugas mereka makin berat.\u201d Pardi mengimbuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak mutu gimana, Cak? Kasihan kenapa?\u201d Tanya Kanapi bingung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa nggak mutu, Pi. Wong jajaran di bawahnya sibuk menginformasikan dan mengedukasi masyarakat bahwa obat-obatan yang disidak Pak Pres, yang sedang langka di pasaran itu, bukan lah obat covid, Pi. Lha ini kok malah presidennya sidak, bertanya ketersediaan OBAT COVID\u2026\u201d Cak Narto sedikit menyentak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau dari yang aku baca sih memang sudah benar apa yang dilakukan petugas apotek itu, Mas Pi. Obat-obatan itu semuanya obat keras, yang masyarakat nggak bisa sembarang membelinya tanpa resep dokter. Dan itu bukan obat covid.\u201d Solikin menimpali dengan tatapan masih ke arah gawai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHa gimana, Pi? Atraksi, tho? Para ahli di bawahnya sibuk mengedukasi, justru presidennya blusukan di depan sorot kamera, bertanya tentang sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang sudah disampaikan oleh para ahli. Hehehe\u201d Pardi merasa menang kali ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMungkin karena pas sidak beliau nggak bawa resep dokter, Pi, makanya nggak dilayani sama petugas apotek. Hehehe.\u201d Cak Narto terkekeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, itu kan bukan berarti pelayanan publik kita baik-baik saja, Cak. Dan, sidak oleh presiden menjadi manuver yang pas untuk menemukan kesalahan dan kemudian memperbaikinya, tho?\u201d Kanapi masih tidak terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Pi\u2026\u201d Cak Narto membereskan papan karambol dan meletakkannya di bawah meja, \u201c\u2026bahwa pelayanan publik kita memang karut-marut itu fakta. Dan itu borok sistemik. Tetapi, sebagai seorang presiden yang wewenangnya begitu luar biasa, sudah bukan waktunya lagi beliau melakukan gimmick-gimmick politis seperti itu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau hari-hari ini adalah musim kampanye, mungkin akan terlihat masuk akal, tapi ini di situasi darurat kok menurutku kurang empan papan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hening beberapa saat. Kanapi terlihat tak lagi bergairah. Pardi mesam-mesem memperbaiki duduknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, Ndes. Menjadi pemimpin itu memang tidak mudah. Selain dibutuhkan kecakapan, juga dibutuhkan kewaskitaan. Ketajaman analisis dan eksekusi. Kepekaan atas situasi dan ketegasan dalam komunikasi. Bukan kok setiap ada bisikan dari bawahannya lantas dieksekusi dengan blusukan dan gimmick-gimmick begitu. Selain kontra produktif, hal semacam itu justru menambah kebingungan di masyarakat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto mengakhiri khotbahnya, melempar kretek yang sudah mendekati ujung jemari ke tanah, dan menggerusnya dengan tumit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus baiknya gimana, Cak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa nggak tahu, kok tanya saya, hehehe. Kita ini sudah pontang-panting bertahan hidup kok ya disuruh ngajari bagaimana seorang pemimpin bersikap.\u201d Cak Narto terkekeh, menjejak tuas motornya dan berlalu begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka membubarkan diri. Sore itu mendung menggantung di mega. Jalanan desa nampak lengang, beberapa orang memasukan jerami yang terjemur di pelataran rumah ke dalam kandang sapi. Angin pancaroba meniupkan sejenis rasa dingin yang aneh, menerbangkan keputus asaan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lips-service-dan-politik-abang-abang-lambe\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lips Service dan Politik Abang-abang Lambe<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sidak dan blusukan Presiden Jokowi di masa pandemi ini menunjukkan kalau ada yang benar-benar salah perkara pejabat dalam mengatur negara.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":132378,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[12454,12579,12577,12580,12576,5393,11643,1468,12578],"class_list":["post-132170","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-administrasi","tag-blusukan","tag-gimik","tag-hirarki-jabatan","tag-kolom-cak-narto","tag-negara","tag-pojok-tubir-terminal","tag-presiden-jokowi","tag-sidak"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132170"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132170\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}