{"id":132136,"date":"2021-07-29T10:00:46","date_gmt":"2021-07-29T03:00:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=132136"},"modified":"2021-09-21T15:27:31","modified_gmt":"2021-09-21T08:27:31","slug":"gado-gado-ketoprak-dan-lotek-apa-bedanya-dan-mana-yang-lebih-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gado-gado-ketoprak-dan-lotek-apa-bedanya-dan-mana-yang-lebih-enak\/","title":{"rendered":"Gado-gado, Ketoprak, dan Lotek: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Enak?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sajian kuliner di Indonesia memang banyak sekali ragamnya, dan tentu saja yang paling dikenali utamanya adalah penggunaan rempah dalam masakan Indonesia. Karena penggunaan rempah yang berlimpah, cita rasa kuliner Indonesia sangat sedap dibandingkan dengan negara-negara lain. Bisa dibilang kuliner kita boleh diadu dengan kuliner lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, banyak yang berpikir bahwa kuliner Indonesia yang menggunakan banyak rempah pasti lebih banyak yang hewani ketimbang nabati. Kalau kita lihat secara garis besar, barangkali memang betul adanya, minimal menggunakan daging ayam jika tak ada sapi\/kambing\/domba dan lain sebagainya. Padahal, kuliner Indonesia yang komposisinya sayuran tuh ada, lho. Nggak sedikit juga misalnya kalau mau dicari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang nggak pilih-pilih makanan\u2014asalkan halal dan bahan dasarnya baik\u2014saya pasti doyan saja. Untuk kuliner Indonesia pun begitu, mau yang hewani sampai nabati saya sikat. Soal kuliner Indonesia yang berbahan sayur akan saya bahas kali ini. Dari sekian banyak, saya pilih tiga kuliner berbahan dasar sayuran yang paling banyak ditemukan dan dikenal oleh kita. Oh iya, banyak juga nih yang kadang-kadang tertukar, makanya saya sekalian membandingkan dan memberitahukan perbedaannya juga kali, ya.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Gado-gado<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pertama ada gado-gado. Makanan berbahan dasar sayuran ini dikenal karena satu hal: sayuran yang digunakan untuk gado-gado kebanyakan direbus terlebih dahulu. Karena sedari kecil sampai sekarang tinggal di Jakarta, gado-gado yang saya ketahui dan pahami komponen utama di dalamnya mesti ada jagung pipil, kacang panjang, kol, pare, labu siam, timun, selada, kentang, taoge, dan mesti ada lontong di dalamnya. Kalau nggak mau lontong, pakai nasi juga bisa. Oh, ada tempe juga! Kadang-kadang ada tahu juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gado-gado di daerah lain tentu di dalamnya boleh jadi berbeda isi, tapi kebanyakan komponen utamanya sama, direbus juga, dan tentu saja menggunakan bumbu kacang. Meski kebanyakan direbus, ada juga yang nggak direbus seperti timun dan selada. Hampir lupa, kadang-kadang ada juga yang ngasih telur rebus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumbu kacang dari gado-gado selalu dibuat terlebih dahulu, diulek sampai halus, kemudian baru isian gado-gado dimasukkan. Selain itu, kalau di sini biasanya tukang gado-gado kadang suka bercampur dengan ketoprak. Jadi, misalnya ada tukang gado-gado, kadang-kadang mereka juga jualan ketoprak. Saus kacang gado-gado juga terasa lebih ringan jika dibandingkan dengan panganan saus kacang lain, selain itu memang gado-gado bisa dibilang comfort food yang sehat sih, ya.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Ketoprak<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum lanjut, kalian tahu nggak kalau ketoprak adalah singkatan? Iya, ketoprak merupakan singkatan dari &#8220;ketupat dan toge digeprak&#8221; yang merupakan bahan dasar utama dari makanan ini. Dibandingkan dengan makanan menggunakan saus kacang lain, ketoprak nggak kelihatan sayur banget, ya. Soalnya tampilannya nggak hijau seperti yang lain. Tapi percayalah, komponen utamanya kebanyakan berbahan dasar sayuran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketoprak berisi ketupat (kadang-kadang diganti lontong), tahu, taoge, bihun, lalu ditaburi bawang goreng di atasnya. Sama seperti gado-gado, bumbunya diulek terlebih dahulu, baru disiram ke atasnya. Kalau gado-gado, kan, dicampur di ulekan. Bumbu kacang dari ketoprak juga dominan rasa bawang putihnya. Dewasa ini, ketoprak yang khas dikenal dari dua daerah: Jakarta dan Cirebon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang pasti, tukang ketoprak kebanyakan keliling dengan menggunakan gerobak seperti perahu. Di bagian depan gerobak selalu ada tempat penggorengan. Warnanya kalau nggak coklat, ya, biru. Nah, soal tukang gado-gado yang juga jualan ketoprak tadi, walaupun gitu tukang ketoprak nggak sebaliknya. Tukang ketoprak lebih konsisten dengan nggak menjual gado-gado. Kalau di Jakarta sih gitu, yaaa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketoprak memang makanan sayur yang nggak sayur-sayur amat, ya, baik dari penampilannya maupun rasanya. Padahal isiannya sayur semua. Mungkin cocok buat yang pengin makan sayur, tapi nggak mau ada sensasi sayurannya. Oh iya, ketoprak kadang-kadang selalu menyediakan lauk tambahan telur dadar goreng. Kalau di Ciputat, ada ketoprak legenda bernama &#8220;Ketoprak Setan.&#8221; Kenapa namanya begitu? Soalnya bukanya malam, terus suka-suka dia waktu bukanya. Nggak tentu kapan hari dia buka. Kayak setan, kan? Wqwqwq.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Lotek<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lotek sih setahu saya khas Sunda, soalnya saya pertama kali kenal lotek karena dikasih tahu oleh orang Sunda dan dibilang khas Jawa Barat. Selain itu, di Jakarta kebanyakan yang jual orang Sunda. Tapi nyatanya di mana-mana juga ada, jadi bingung, wqwqwq. Well, membandingkan lotek dengan gado-gado itu agak susah-susah gampang, ya, kalau hanya dari tampilan saja. Saya saja pertama kali melihatnya langsung bilang gado-gado, padahal bukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, kalau dicicipi sebenarnya gado-gado dan lotek adalah panganan yang berbeda. Baik dari isi maupun saus kacangnya. Kalau gado-gado nggak pakai bayam, lotek kebanyakan pakai bayam dan bumbu kacangnya itu juga beda loh. Lotek rasanya lebih manis dan menggunakan kencur serta terasi. Jadi khas dan lebih padat rasanya. Bumbu kacang lotek juga selalu dibuat dadakan, nggak kayak gado-gado yang selalu sudah siap sedia dan tinggal ditambah bumbu-bumbu lain serta cabe kalau mau lebih pedas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, di Jakarta jarang ditemui lotek. Tentu saja karena di sini lebih populer gado-gado sepertinya, makanya mencari lotek agak susah juga. Kalau kalian lebih suka yang mana? Kira-kira bisa membedakan juga, nggak? Kalau dibandingkan, sih, saya lebih prefer gado-gado kalau kita bahas dari segi sayuran, ya. Lebih familier di lidah saya juga ketimbang lotek. Kalau ketoprak, kayak another food gitu, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=a_Z2Dao8g3c\">ItsMegaShow<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-3-makanan-yang-bisa-dijadikan-waffle-oleh-william-gozali\/\">Rekomendasi 3 Makanan yang Bisa Dijadikan Waffle oleh William Gozali<\/a> <\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\"><b>Nasrulloh Alif Suherman<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Isinya sama-sama ada sayuran dan pakai saus kacang. Mana yang lebih enak, ya?<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":132172,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[12566,12567,11660,2375,12568],"class_list":["post-132136","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gado-gado","tag-ketoprak","tag-kuliner-terminal","tag-lotek","tag-saus-kacang"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132136"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132136\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}