{"id":132052,"date":"2021-08-01T12:30:00","date_gmt":"2021-08-01T05:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=132052"},"modified":"2021-08-29T22:04:48","modified_gmt":"2021-08-29T15:04:48","slug":"shiro-shinchan-dan-aturan-memelihara-hewan-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/shiro-shinchan-dan-aturan-memelihara-hewan-di-jepang\/","title":{"rendered":"Shiro, Shinchan, dan Aturan Memelihara Hewan di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang kenal anjingnya Shinchan? Yep, namanya Shiro. Nama ini diberikan Shinchan karena memang anjing ini berwarna putih dan menggemaskan. Putih dalam bahasa Jepang disebut shiro. Dia dipungut Shinosuke (Shinchan) dari jalan. Pemilik aslinya bernama Run. Run terpaksa \u201cmembuang\u201d Shiro karena ayahnya alergi anjing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Shiro ini tentunya bukan kisah kebanyakan anjing di Jepang. Meski biasa juga memberikan anjing kepada orang lain karena nggak bisa merawatnya sendiri, kebanyakan anjing di Jepang diadopsi dari pet shop.<\/span><\/p>\n<h4><b>Orang Jepang dan anjing<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu sewaktu di Jepang, hampir setiap sore saya melihat pemilik anjing menemani anjingnya jalan-jalan. Mulai dari anjing jenis shiba inu, anjing pudel, anjing kecil tak berbulu, sampai anjing setinggi anak umur lima tahun seperti anjing tetangga depan kontrakan yang suara gonggongannya menggelegar. Shinchan juga selalu disuruh Ibunya untuk mengajak Shiro jalan-jalan. Anjing sendiri termasuk binatang yang rentan stres, karenanya si pemilik wajib mengajak anjingnya keluar rumah. Nggak seperti kucing yang maunya goleran terus di rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat liburan pun, saya hampir sering bertemu juga dengan anjing. Ada keluarga yang berteduh di bawah pohon sambil membentangkan tikar dan tiduran bersama anjingnya. Ada yang menggendong anjingnya di depan atau belakang menggunakan tas pet mirip helm antariksawan itu. Ada juga yang mendorong stroler berisi anjingnya meski dari belakang kelihatannya sama dengan stroler bayi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemilik anjing wajib di Jepang wajib untuk membawa tas untuk wadah pup ajing. Kalau anjingnya pup di taman, pemilik wajib mengambilnya dan itu menjadi salah satu manner memelihara anjing di Jepang. Anjing juga dilarang masuk mall dan restoran. Jadi, nggak bakal ada kasus anjing masuk mall dan pup sembarangan lalu si cleaning service harus membersihkannya seperti di dalam video yang sempat viral di Indonesia beberapa saat lalu. Eh.<\/span><\/p>\n<h4><b>Biaya adopsi dan perawatan anjing di Jepang itu mahal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu nggak sih berapa \u201charga\u201d anjing di Jepang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maaf, mungkin binatang memang nggak boleh diperjualbelikan. Tapi, anggap aja harga yang dimaksud di sini adalah harga\/ biaya adopsi ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah melihat harga ini di pet shop dalam toko serba ada terkenal yang hampir ada di seluruh Jepang. Ada kucing dan anjing yang bisa diadopsi. Mereka ditaruh di kandang, diberi tempat tidur, mainan, makan dan minum. Lucu-lucu dan menggemaskan memang. Di samping mereka, dijual juga kandang anjing dan kucing yang lucu dan bagus. Aksesoris dan mainannya juga tak kalah seru. Di dalam pet shopnya itu juga ada petugas khusus yang merawat mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu contoh harga adopsi kucing tadi adalah 390.000 yen (sekitar 50 juta rupiah). Gila kan? Untuk anjing, harganya bisa mencapai 450.000 yen (58,5 juta rupiah-an). Meski harganya bervariasi tergantung jenis, umur, dan lain-lain, tetap saja harganya sekitar itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kesempatan lain, saya sempat melihat ada calon pemilik yang sedang diwawancara terkait niatnya mengadopsi hewan tersebut. Orang yang mau memelihara anjing atau kucing harusnya punya komitmen kuat kenapa mereka memutuskan untuk memeliharanya karena biaya adopsi dan perawatan yang \u201cnggak murah\u201d ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jepang nggak semua apartemen mengizinkan untuk boleh memelihara binatang. Kalau boleh, biasanya harga sewa apartemennya pun mahal. Di asrama kampus jelas nggak boleh. Biasanya mereka juga pakai mobil untuk membawa anjingnya. Biaya makan, salon, dan biaya perawatan kalau sakit pastilah memakan anggaran bulanan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, pelihara kucing dan anjing di Jepang itu urusan yang sama sekali nggak sepele.<\/span><\/p>\n<h4><b>Anjing dianggap seperti anak sendiri<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, anjing memang sudah sering dianggap sebagai keluarga dan anak sendiri bagi orang Jepang. Meski ada beberapa orang atau pasangan yang lebih memilih memelihara anjing dibanding memiliki anak sendiri. Jangan salah kaprah dulu ya. Memang ada pasangan Jepang yang berprinsip untuk nggak mau punya anak, entah apapun alasannya. Mungkin karena rumah terlalu sepi, mereka memutuskan untuk memelihara anjing atau kucing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti anjing atau kucing masuk ke kartu keluarga juga lho ya. Tetapi, memang ada surat khusus yang menerangkan anjing ini milik siapa. Ciri-ciri saat lahir, beratnya berapa, dan lain-lain juga tertulis dalam surat keterangan itu. Itu kalau diadopsi secara resmi dari petshop sih. Kalau Shiro, sepertinya nggak punya ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memperlakukan anjing dengan baik itu juga tertulis dalam undang-undang, bahkan ada Asosiasi Perlindungan Hewan Jepang. Kita bahkan bisa melaporkan pemilik seandainya dia menganiaya atau menelantarkan hewan peliharaannya sendiri. Ngomong-ngomong ada sepuluh syarat yang harus dipenuhi sebelum memelihara hewan di Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepuluh syarat yang harus dipenuhi sebelum memelihara ini adalah harus memiliki tempat yang layak untuk memelihara, mendapat persetujuan semua anggota keluarga, nggak ada kekhawatiran alergi binatang, mempersiapkan diri untuk memelihara hewan tersebut selama sisa hidupnya, mampu secara fisik untuk memberikan waktu dan perhatian. Nah, kita masuk di bagian yang paling penting, yaitu mampu secara finansial, mampu merawat kebersihannya, mau dan mampu merawat hewan peliharaan yang semakin menua, memikirkan kalau sekiranya pindah rumah\/pindah kerja, dan harus memikirkan bagaimana jika suatu saat nanti nggak bisa merawatnya lagi. Kalau nggak bisa memenuhi sepuluh syarat itu, mending nggak usah pelihara anjing atau kucing daripada hanya menyakitinya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah melihat sendiri juga anjing yang tiba-tiba nggak mau jalan dan diam lama banget, dan si pemilik mau-maunya nungguin lho. Sabar banget ya. Mungkin anjingnya sedang ngambek ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa, ada kisah Islami tentang anjing yang menemani para pemuda bersembunyi di gua saat dikejar-kejar kaum kafir. Belum pula, kisah anjing bernama Hachiko yang menunggu tuannya di stasiun. Saking setianya, sampai dibuatkan patung Hachiko di stasiun Shibuya, Jepang. Udah pada tau kisah ini lah ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang sudah memutuskan untuk memelihara anjing atau kucing, seharusnya segenap hati kita curahkan untuk merawat dan menyayanginya. Makanya, Shinchan sudah diwanti-wanti sama Ibunya agar memperhatikan Shiro dengan baik. Meski kadang Shiro dizalimi Shinchan, Shiro termasuk anjing yang pengertian dan nggak tegaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, Shinchan pun sayang banget sama Shiro, dan kewajiban Shinchan terhadap si Putih pun ditunaikan dengan tuntas. Setidaknya, adegan Shiro dan Shinchan bisa jadi sedikit representasi perkara memelihara anjing di Jepang.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-kamu-pengin-tinggal-di-jepang-jangan-kaget-dengan-6-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Kalau Kamu Pengin Tinggal di Jepang, Jangan Kaget dengan 6 Hal Ini<\/strong>\u00a0<\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/primasari-nirwana-dewi\/\">Primasari N Dewi<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_top\" rel=\"noopener\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalian sering liat Misae menyuruh Shinchan mengajak Shiro jalan-jalan kan? Hal itu ada kaitannya dengan aturan memelihara hewan di Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":132688,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13079,13086],"tags":[12360,3132,12623,11661,1213,337,12621,12622,1211,12620],"class_list":["post-132052","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hewani","category-luar-negeri","tag-adopsi","tag-anjing","tag-hachiko","tag-hiburan-terminal","tag-jepang","tag-kucing","tag-pelihara-hewan","tag-shibuya","tag-shinchan","tag-shiro"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132052"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132052\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}