{"id":131864,"date":"2021-07-27T14:00:06","date_gmt":"2021-07-27T07:00:06","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=131864"},"modified":"2021-09-27T13:10:07","modified_gmt":"2021-09-27T06:10:07","slug":"they-call-me-babu-seutas-kisah-sejarah-babu-pada-masa-kolonial-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/they-call-me-babu-seutas-kisah-sejarah-babu-pada-masa-kolonial-belanda\/","title":{"rendered":"They Call Me Babu: Seutas Kisah Sejarah Babu pada Masa Kolonial Belanda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membayangkan tentang masa-masa penjajahan di Indonesia, imajinasi saya atau bahkan hampir orang Indonesia kebanyakan di masa sekarang, sering menjurus pada cerita tokoh-tokoh besar seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, atau tokoh-tokoh besar lain dengan perjuangan mereka menumpas penjajah dari Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seutas kisah tentang pembuangan, perjuangan, hingga pemikiran-pemikiran soal politik hingga kemerdekaan, menjadi sumbangsih terbesar para tokoh tersebut untuk membuat Indonesia bebas dari belenggu penjajah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu kewajaran bila pada akhirnya, mereka-merekalah yang sering dikisahkan dalam lembar sejarah kita. Mereka-merekalah yang pada akhirnya sering diajarkan dan didongengkan di kelas-kelas sejarah Indonesia. Kendati demikian, melupakan dan meremehkan orang-orang kecil di seputar sejarah arus besar dengan tokoh-tokoh yang digdaya, tentu bukanlah suatu kewajaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu\/\/Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat,\u201d kata Chairil Anwar. Atau jika boleh mengartikan: meskipun yang dilahirkan sejarah adalah orang-orang besar seperti Bung Karno misalnya, orang-orang kecil yang tenggelam dalam sejarah, tetap memiliki tempat dan harus dicatet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usaha mencatat orang-orang yang terpinggirkan dan hampir tenggelam dalam pusaran sejarah memang semakin banyak dilakukan. Penemuan cerita-cerita orang yang dikerdilkan oleh sejarah malah kadang lebih menarik dari kebesaran peristiwa sejarah itu sendiri. Salah satu usaha yang dilakukan untuk membuat pencatatan cerita sejarah menjadi lebih menarik adalah melalui film.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">They Call Me Babu <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2019) adalah salah satu film dari banyaknya film yang juga mengangkat cerita-cerita orang yang dikerdilkan dalam sejarah agar menjadi lebih menarik. Film dokumenter ini dirajut dari berbagai footage film yang direkam oleh orang Belanda pada masa kolonial, lalu menjadi satu keutuhan cerita tentang pengasuh anak atau dulu disebut babu yang bekerja di keluarga Belanda, bernama Alima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita Alima sendiri disusun melalui cerita-cerita asli dari beberapa bekas babu zaman Belanda dan bekas majikan yang diinterview oleh Sandra Beerends, sang sutradara, untuk dijadikan suatu keutuhan cerita yang direpresentasikan pada diri Alima. Dari sinopsis dan konsep film dokumenter ini, memang sekilas mirip dengan konsep film dokumenter <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mother Dao, The Turtlelike<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1999) yang juga sama-sama berlatar belakang penjajahan Belanda di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">They Call Me Babu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dimulai dengan penceritaan tentang Ibu Alima yang meninggal dunia, sehingga Alima harus diasuh oleh pamannya dan malah diberi pada seorang Cina untuk dikawinkan sebagai pelunasan utang yang dilakukan oleh pamannya sendiri. Merasa dijadikan barang dan ingat perkataan Ibunya tentang perempuan harus bisa berdiri sendiri, Alima melarikan diri dari desa dan pergi ke Bandung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Bandung, ia mencari pekerjaan mengasuh anak dan ia memberanikan diri untuk mengasuh seorang anak dari keluarga Belanda yang akan pergi ke Belanda. Dari sinilah cerita-cerita menarik Alima dimulai. Jika biasanya dalam film-film sejarah Indonesia, hubungan dengan Belanda selalu ditampilkan dengan buruk dan menyebalkan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">They Call Me Babu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> justru memberikan kesan emosional dan harmonis antara Indonesia dan Belanda melalui hubungan Alima dengan keluarga Belandanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan bermaksud mempropagandakan bahwa seakan-akan \u201cpenjajahan Belanda itu ada baiknya\u201d, tapi di sini, Beerends ingin memberikan pandangan bahwa tak selamanya orang yang dijajah harus melulu dikasihani. Hal tersebut terlihat dari banyaknya footage gambar yang diambil Beerends, tak satupun yang memperlihatkan seorang babu direndahkan oleh orang Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beerends mengambil 149 dari 500 footage yang dia pakai untuk merajut kisah Alima, hampir seluruhnya menggambarkan kesetaraan babu dengan majikan Belandanya. Seperti duduk sejajar dengan mereka, dan sampai, tokoh utama Alima, ketika pergi ke Belanda menggenakan pakaian-pakaian yang mirip dengan majikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggambaran kesetaran itu juga diperkuat dengan hubungan yang begitu dekat antara Alima dan Jantje (anak paling kecil dari keluarga Belanda tersebut). Alima sendiri selalu menganggap Jantje seperti anak kandungnya sendiri, bahkan sampai ia memiliki anak pun, Alima selalu beranggapan Jantje adalah anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita tentang kedekatan pembantu dengan anak majikan memang menjadi cerita yang langgeng sampai sekarang. Orang tua acapkali menitipkan anaknya pada pembantunya dan kadang lebih dekat dengan pembantu ketimbang orang tuanya sendiri. Dulu saya pernah melihat testimoni kedekatan anak dengan orang tua melalui pertanyaan-pertanyaan seputar anak mereka sendiri kepada orang tua dan pembantu. Hasilnya, hampir sebagian orang tua tidak sepenuhnya mengenal anak mereka dibanding dengan para pembantunya. Sehingga, jika bisa dikaitkan dengan film ini, perasaan Alima terhadap Janjte bisa dibilang valid dan bukan sekadar \u201cbumbu-bumbu\u201d film belaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini berhasil memotret orang-orang seperti Alima yang tak pernah dicatat dalam buku-buku sejarah sekolah, menampilkannya, dan memberi pandangan baru soal sejarah yang tak melulu diisi oleh orang-orang besar dan penuh dengan kekerasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, mengutip Romo Mangun, \u201cbahwa yang benar-benar penting dalam sejarah justru kehidupan sehari-hari, yang normal dan biasa, bahwa tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan,\u201d Dan film ini sejatinya bisa memberi kita gerbang dan pandangan baru bagaimana seharusnya film-film sejarah kita baik fiksi maupun dokumenter untuk mulai memberanikan diri mencatat orang-orang di dalam pusaran sejarah besar masa lalu. Yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=flSkgW_UjY4\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IDFA<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/another-round-film-tentang-alkohol-dan-guru-sejarah-membosankan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Another Round\u2019, Film tentang Alkohol dan Guru Sejarah Membosankan<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ananda-bintang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ananda Bintang<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>They Call Me Babu adalah salah satu film yang mengangkat cerita-cerita orang yang dikerdilkan dalam sejarah agar menjadi lebih menarik.<\/p>\n","protected":false},"author":604,"featured_media":131869,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12907],"tags":[467,12538,8129,11248,11661,2275,6872,1944,12537],"class_list":["post-131864","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hiburan","tag-anak","tag-babu","tag-belanda","tag-film-dokumenter","tag-hiburan-terminal","tag-penjajahan","tag-relasi","tag-sejarah","tag-they-call-me-babu"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131864","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/604"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131864"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131864\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131864"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131864"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131864"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}