{"id":131736,"date":"2021-08-02T12:00:24","date_gmt":"2021-08-02T05:00:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=131736"},"modified":"2021-09-27T13:00:05","modified_gmt":"2021-09-27T06:00:05","slug":"tak-harus-cakap-untuk-jadi-pemimpin-di-negara-demokrasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-harus-cakap-untuk-jadi-pemimpin-di-negara-demokrasi\/","title":{"rendered":"Tak Harus Cakap untuk Jadi Pemimpin di Negara Demokrasi?"},"content":{"rendered":"<p><em>Kecakapan apa, sih, yang jadi tolok ukur seseorang layak jadi pemimpin di negara demokrasi?<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahwa siapa-saja-bisa-jadi-apa-saja itu merupakan hakikat. Dan, itu sejenis berkah demokrasi, Cak. Semua ikan dalam kolam demokrasi punya hak yang sama,\u201d ujar Solikin sambil menutup layar laptopnya. Mahasiswa cum aktivis itu, sedari magrib tadi menumpang wi-fi\u00a0di emperan rumah Cak Narto.\u00a0Revisi skripsi,\u00a0katanya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Semakin malam, udara dingin yang menyergap menambah riuh perdebatan mereka berdua.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, kalau itu justru menunjukkan gelembung ketimpangan dan kemandekan bahkan kemunduran, lantas apa masih bisa disebut berkah? Kok, rasanya lebih tepat disebut musibah,\u201d sergah Cak Narto.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cSebentar! Apa maksudnya sampean\u00a0tidak setuju dengan demokrasi, Cak?&#8221;<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, ini bukan perkara setuju atau tidak setuju, Kin. Kalaupun aku tak setuju, bukan berarti lantas bangunan demokrasi kita runtuh begitu saja, kan? Aku cuma merasa ada yang salah dengan cara kita hidup berdemokrasi.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTolong yang spesifik, Cak. Cara apa? Hidup apa?\u201d Solikin mengejar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cOke. Kamu tadi memulai semua diskusi ini dengan sebuah gugatan, tho? Kamu bilang bahwa pandemi ini menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakcakapan para pemimpin dalam mengelola pemerintahan.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya. Betul, Cak. Lantas?\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang tidak disadari banyak orang, termasuk kamu adalah bahwa semua tragedi selama pandemi ini merupakan lapisan terluar dari tumpukan kebobrokan sistem dari negara demokrasi kita. Sistem ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang melihat rakyatnya sebagai deretan angka dan statistik. Kita ngomel-ngomel atas situasi ini. Tetapi, kita lupa bahwa keberadaan mereka di atas sana adalah konsekuensi logis dari iklim demokrasi,\u201d Cak Narto lugas kali ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTolong yang fokus, Cak. Konsekuensi apa?\u201d tukas Solikin.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cKonsekuensi bahwa siapa saja bisa jadi apa saja, itu tadi. Tak peduli ia punya kecakapan atau tidak, punya sense of crisis\u00a0apa tidak, punya kepekaan-kepekaan naluriah sebagai pemimpin atau tidak.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cKelewat jauh teropong sampean,\u00a0Cak. Kecakapan, kepekaan, dan naluri itu kan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan meteran. Kalau seseorang sudah dilantik untuk menjadi pemimpin, berarti ia sudah mumpuni, Cak. Qualified!\u201d Solikin menyanggah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, berarti benar,\u00a0tho.\u00a0Ada yang salah dengan sistemnya. Kalau orang yang qualifed\u00a0saja cuma sejauh ini kecakapannya,\u201d Cak Narto menggeleng.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cPemilu yang terakhir\u2026\u201d belum usai rupanya kalimatnya, \u201c\u2026telah memakan korban 800-an orang anggota KPPS, Kin. Kemudian ketika pemimpin sudah terpilih dan pesta sudah usai, puluhan ribu orang meninggal diterkam pandemi. Kalau memang demokrasi menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cakap dan kompeten, kematian-kematian ini sungguh suatu yang bisa dihindari,\u201d asap dari mulut Cak Narto mengambang bagai halimun.<\/p>\n<p>&#8220;Terus?&#8221;<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Aku cuma menduga, sekali lagi ya, menduga\u2026\u201d Cak Narto membentengi argumennya, \u201c\u2026bahwa mungkin ada yang salah dengan sistemnya. Ada bopeng dalam pelaksanaannya. Kalau siapa saja bisa jadi pemimpin, terlepas dari kecakapannya, yang kita pertaruhkan bukan hanya nyawa-nyawa rakyat tetapi juga masa depan bangsa.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto tampak hati-hati tapi juga berapi-api.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasih terlalu mengawang-awang, Cak. Analisis sampean kurang membumi!\u201d tukas solikin meminta penjelasan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin. Untuk menjadi dokter, atau akuntan, atau profesional di bidang-bidang tertentu dibutuhkan kecakapan dan skill sets, bukan? Proses penguasaan ilmunya butuh waktu. Belum lagi serangkaian tes yang harus dilalui untuk akhirnya mendapatkan lisensi atau legitimasi atas profesinya itu. Lantas, kalau untuk menjadi presiden syaratnya hanya dua puluh biji itu, dan tak ada satu pun syarat kecakapan di sana. Apa ini namanya?\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Solikin bergeming. Ia menyimak.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cPadahal, sebagai presiden di negara demokrasi, kewenangannya luar biasa, Kin. Ia bisa menunjuk menteri untuk membantunya bekerja. Boleh siapa saja, asal memenuhi syarat administratif. Dan lucunya, juga tidak ada syarat kecakapan di sana. Ia juga boleh menunjuk komisaris-komisaris BUMN, dan tidak ada syarat kecakapan di sana.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Suasana hening, tapi pikiran Solikin bergemuruh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cPadahal, semua itu menyangkut kemaslahatan dan kesejahteraan bahkan hidup dan mati rakyatnya, tho? Dan ini yang terjadi sekarang, kan? Tidak tampak pemimpin yang punya kualifikasi kecakapan dalam mengelola pandemi.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Solikin mengangguk.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cLegislatif pun begitu. Siapa saja bisa duduk menjadi anggota dewan yang terhormat. Meski tidak punya kecakapan dalam merumusukan undang-undang, misalnya. Asalkan diusung partai politik, maka sudah dianggap qualified, Kin.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, Cak\u2026\u201d solikin memotong, \u201c\u2026ada yang namanya visi misi, Cak? Itu kan semacam etalase kecakapan seorang calon pemimpin. Di sana rakyat diberikan kesempatan untuk menilai calon mana yang mempunyai visi misi yang paling relevan bagi kehidupan berbangsa.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cVisi misi kan sesuatu yang belum terjadi, Kin. Bagaimana menguji akurasi visi misi? Paling banter di debat pilpres, tho? Lantas kalau visi misinya bagus apakah itu serta merta menunjukkan kapasitas, kompetensi, dan kecakapan seseorang untuk menjadi pemimpin?\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Solikin diam sejenak, kemudian\u2026 \u201cTapi, Cak, memang begitu konsep dan mekanisme memiliih pemimpin dalam negara demokrasi.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini, Kin. Kita kembali ke contoh sederhana tadi. Emangnya lisensi dan izin praktik seorang akuntan bisa diterima hanya dengan mengkampanyekan visi misi? Emangnya seorang dokter bisa praktik hanya bermodalkan visi misi?\u201d Cak Narto menjeda, tersenyum.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTentu harus memenuhi standar kecakapan dulu, Kin. Lantas kalau untuk jabatan yang kewenangannya begitu luar biasa, presiden atau anggota legislatif misalnya, hanya dinilai dari visi misinya ketika kampanye, gitu?\u201d Ia terkekeh.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa maksud sampean lebih baik kita kembali ke zaman kerajaan, Cak? Sistem monarki gitu? Yang bisa menjadi pemimpin hanya trah para raja? Begitu?\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cPertanyaannya bukan sistem mana yang lebih baik, Kin. Bukan monarki atau demokrasi. Melainkan, apakah sistem itu menghasilkan kepemimpinan yang tepat guna bagi kehidupan berbangsa. Apakah sistemnya menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cakap\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus bagaimana menurut sampean bagusnya, Cak?\u201d tanya Solikin lemas.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u201cYo, nggak tahu. Aku kan cuma sebatas menjawab pertanyaanmu itu tadi. Hehehe.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400; text-align: center;\">***<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Udara dingin menyergap seisi desa. Bulir embun mengembang di dedaunan. Entah dari mana asalnya, lamat terdengar suara gamelan mengalun pelan. Malam itu, Solikin gagal lagi menyelesaikan revisi skripsinya. Pikirannya diliputi pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soal-negara-demokrasi-semua-orang-di-dunia-itu-norak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Soal Negara Demokrasi, Semua Orang di Dunia Itu Norak! <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau memang demokrasi menghasilkan pemimpin-pemimpin yang cakap dan kompeten, kematian-kematian ini sungguh suatu yang bisa dihindari.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":132884,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12656,5840,12657,11643],"class_list":["post-131736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-negara-demokrasi","tag-pandemi","tag-pemimpin","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/132884"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}