{"id":131358,"date":"2021-07-24T13:00:42","date_gmt":"2021-07-24T06:00:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=131358"},"modified":"2021-09-27T13:25:05","modified_gmt":"2021-09-27T06:25:05","slug":"5-anime-pendek-yang-bisa-anda-tonton-sambil-antre-vaksin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-anime-pendek-yang-bisa-anda-tonton-sambil-antre-vaksin\/","title":{"rendered":"5 Anime Pendek yang Bisa Anda Tonton sambil Antre Vaksin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak sih akhir-akhir ini kalian merasa terlalu sibuk untuk punya waktu nonton anime dengan jumlah episode puluhan? Atau mungkin sekarang kalian lagi ngantri untuk vaksin dan merasa bosan? Kalau Anda merasa begitu, mungkin obat yang paling cocok buat anda adalah untuk mencoba format anime yang nggak biasanya anda tonton seperti anime pendek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anime pendek dijamin bisa membunuh kebosanan yang tercipta dari antrean panjang vaksinasi. Di sini saya akan merekomendasikan anime yang bisa selesai ditonton dalam waktu kurang lebih 10 menit. Artinya kamu bisa nonton anime di tulisan ini dari awal sampai akhir sambil menunaikan kewajiban divaksin. Langsung saja, berikut rekomendasi anime pendek dari saya.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Kanamewo<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Animator webgen adalah istilah merujuk kepada generasi animator yang menggunakan aplikasi digital dalam menganimasi. Mereka biasanya memposting karya animasi mereka melalui situs video streaming atau media sosial lainnya. Dari beberapa animator webgen, Rapparu adalah salah satu yang menjadi perbincangan pada 2015 setelah animasi pendeknya berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kanamewo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi viral.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kanemewo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bercerita pertemuan antara seorang perempuan muda dengan roh pohon sepulang dari kerja. Mono no aware, istilah untuk menjelaskan perasaan yang dirasakan saat melihat perubahan tak terelakkan dalam hidup muncul sebagai tema utama dari animasi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diiringi dengan lantunan lagu rock, Rapparu menurut saya berhasil menangkap makna dari mono no aware dalam waktu singkat. Bahkan bagi kalian yang nggak sepenuhnya paham penjelasan saya, setelah menonton animasi ini saya yakin bisa langsung mengerti apa yang dimaksud sebagai mono no aware.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/1RzNDZFQllA\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h4><b>2# <\/b><b><i>Hammerhead<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari 2014 sampai 2016, Studio Khara di bawah asuhan sutradara Hideaki Anno (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Neon Genesis Evangelion<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) mengadakan sebuah event bernama Japan Animator Expo (JAE). Tujuan utama dari event adalah memberi kesempatan kepada sutradara dan animator di industri anime untuk membuat passion project mereka sekaligus memberikan eksposur internasional. Animasi pendek ini kemudian ditayangkan pada beberapa bioskop terbatas dan diunggah pada situs resmi JAE.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak rekan Hideaki Anno ikut berpartisipasi dalam event ini termasuk salah satunya Mahiro Maeda (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gankutsuou: The Count of Monte Cristo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Sutradara yang pernah menjadi salah satu asisten sutradara di film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Evangelion 3.0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini bekerja sama dengan penulis skenario Otaro Maijo (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ID:INVADED)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk menghadirkan anime berjudul Hammerhead.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkisah tentang seorang superhero dengan kemampuan regenerasi luar biasa, anime ini diceritakan dari sudut pandang anak perempuan melihat pertarungan ayahnya melawan aneka monster. Penuh dengan adegan brutal namun juga momen-momen dramatis, Maeda dkk berhasil membuat emosi penonton layaknya seperti naik roller coaster hanya dalam waktu 8 menit. Menurut saya ini salah satu penggunaan waktu paling efektif dalam anime, karena penonton bisa berempati dengan karakter Hammerhead dalam waktu singkat.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/iGfdVChv1-Y\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h4><b>3# <\/b><b><i>Bureau of Proto Society<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara Studio Khara rasanya nggak bakal afdol tanpa menyebut sepupu mereka, Studio Trigger. Sama-sama dibentuk oleh mantan animator studio Gainax, kedua studio ini dianggap mewarisi banyak semangat keberanian bereksperimen dari Gainax. Nggak mengejutkan jika Trigger memutuskan mengirimkan delegasi di JAE<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk JAE, Studio Trigger membuat beberapa anime pendek salah satunya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bureau of Proto Society<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Karya ini adalah hasil kerja sama antara Trigger dan Studio Rikka. Disutradarai oleh Yasuhiro Yoshiura (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eve no Jikan, Patema Inverted<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), anime ini berkisah tentang upaya umat manusia di masa depan mencari tahu penyebab peradaban manusia saat ini berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya ini adalah contoh bagaimana animasi pendek bisa digunakan hanya untuk menyampaikan sebuah lelucon lengkap dengan punchline-nya. Jadi rasanya sangat susah buat saya menjelaskan lebih lanjut tanpa membocorkan punchline dari anime ini. Namun, saya bisa menjamin anda bakal tertawa terbahak-bahak setelah selesai menonton video di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/3ZixDy29D2Y\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h4><b>4# <\/b><b><i>Endless Night<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain rekan-rekan sejawat Anno, JAE juga jadi ajang banyak sutradara dan animator muda yang berusaha menempatkan nama mereka di industri anime. Salah satu dari sutradara tersebut adalah Sayo Yamamoto (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Michiko &amp; Hatchin, Yuri on Ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada perhelatan JAE, Yamamoto bekerja sama dengan mangaka Atsushi Kamijou dan ice skater Kenji Miyamoto untuk membuat anime pendek tentang ice skating berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Endless Night<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan koreografi ice skating yang benar-benar kompleks dan pemilihan warna monochrome, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Endless Night<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dibilang salah satu karya terbaik yang keluar dari JAE.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tidak mengagetkan jika tidak lama setelah JAE, Yamamoto berhasil mendapatkan lampu hijau dari studio MAPPA untuk mengadaptasi anime orisinalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuri on Ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Endless Night<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dibilang adalah prekuel spiritual dari anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuri on Ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jadi buat kalian yang suka ice skating atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuri on Ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, memang wajib tonton animasi pendek yang memulai serial anime viral tersebut.<\/span><\/p>\n<div style=\"position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden;\"><iframe style=\"width: 100%; height: 100%; position: absolute; left: 0px; top: 0px; overflow: hidden;\" src=\"https:\/\/www.dailymotion.com\/embed\/video\/x4lhal2?autoplay=1\" width=\"100%\" height=\"100%\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"> <\/iframe><\/div>\n<h4><b>5# <\/b><b><i>Baby I Love You Daze<\/i><\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya bilang salah satu anime paling underrated pada 2018 adalah iklan coklat, mungkin banyak orang yang bakal menggaruk-garuk kepala. Namun, di sini saya nggak bercanda karena pada tahun tersebut, perusahaan Lotte berulang tahun ke-70. Untuk merayakannya Lotte bekerja sama dengan sutradara Rie Matsumoto (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kyousougiga, Kekkai Sensen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan desainer karakter Yuki Hayashi untuk membuat video musik anime dari single band Bump of Chicken, \u201cBaby I Love You Daze\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rie Matsumoto bisa dibilang anomali di industri anime. Walaupun punya portofolio yang nggak begitu banyak, sutradara satu ini punya banyak penggemar fanatik dan gaya yang cukup mudah dikenali. Gaya tersebut bisa langsung terlihat penggunaan warna dan desain yang mencolok dalam video musik ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini, Matsumoto berhasil melakukan dua hal sekaligus. Pertama mempromosikan berbagai jenis cokelat Lotte, lewat berbagai karakter yang merepresentasikan produk tersebut. Kedua menceritakan kisah cinta pandangan pertama dua pelajar yang dipertemukan karena kecintaan mereka terhadap cokelat. Hasilnya, iklan cokelat yang lebih dari sekedar iklan biasa.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/ddC12lxq69w\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-demografi-shonen-shoujo-seinen-dan-josei-dalam-manga-dan-miskonsepsi-seputarnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengenal Demografi Shonen, Shoujo, Seinen, dan Josei dalam Manga dan Miskonsepsi Seputarnya<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raynal-arrung-bua\/\">Raynal Arrung Bua\u00a0<\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sambil nunggu disuntik, sabi nih.<\/p>\n","protected":false},"author":734,"featured_media":131386,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12908],"tags":[12478,11663,4597,12480,12479,5696],"class_list":["post-131358","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-anime","tag-anime-pendek","tag-anime-terminal","tag-antre","tag-hideaki-anno","tag-studio-khara","tag-vaksin"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131358","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/734"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131358"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131358\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131386"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131358"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131358"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131358"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}