{"id":131341,"date":"2021-07-24T14:00:04","date_gmt":"2021-07-24T07:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=131341"},"modified":"2021-08-29T22:07:53","modified_gmt":"2021-08-29T15:07:53","slug":"fear-street-bukti-kalau-film-slasher-belum-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fear-street-bukti-kalau-film-slasher-belum-mati\/","title":{"rendered":"Fear Street, Bukti kalau Film Slasher Belum Mati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat para penggemar novel tahun 90-an terutama genre horor, pastinya tahu dengan serial novel karangan R.L Stine yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fear Street<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bukunya sendiri diterbitkan salah satu penerbit besar Indonesia sudah cukup lama, dan mungkin sekarang sudah jadi barang bersejarah buat beberapa orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun ini Netflix membuat serial novel, yang cukup populer pada masanya ini jadi serangkaian film, yang terdiri dari tiga bagian. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fear Street: 1994, Fear Street: 1978, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Fear Street: 1666<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ketiganya masih saling berkaitan, namun berjalan di waktu dan masa yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat anak tahun 90-an melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar, rasanya memang penuh nostalgia. Walau terkadang adaptasi sering mengecewakan banyak orang, karena saking banyaknya cerita yang diubah dari versi aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah dinikmati, ternyata adaptasi kali bisa dibilang cukup memuaskan. Saya menemukan ada tiga keunggulan dari Film ini dibanding genre sejenis.<\/span><\/p>\n<h4><b>Setia pada novel, walau banyak penyesuaian<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang menarik dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fear Street <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dari dulu, adalah tema ceritanya yang sederhana, simpel, dan mudah dicerna. Biasanya berputar pada kehidupan remaja yang penuh dinamika dan kegalauan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian lain yang mencuri perhatian, mereka banyak memasukkan nama-nama karakter yang familiar dari novelnya. Misal saja, Sarah Fier, atau keluarga Goode. Yang sejarahnya bisa kalian baca lebih lanjut di serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fear Street Saga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dan beberapa karakter utama pun ada kesamaan dengan novelnya. Contoh lainnya Deena, atau Samantha Frasher. Buat yang suka baca novel pasti tahu maksudnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau ceritanya memang tetap mengalami perombakan, tapi tujuannya bisa dimaklumi. Semuanya agar elemen kejutannya tidak hilang. Soal rasa, dari sisi nostalgia, tetap sama.<\/span><\/p>\n<h4><b>Slasher-nya selektif dan efektif<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat penggemar slasher, terutama adegan berdarah-darah, jangan khawatir. Film ini menawarkan banyak momen-momen yang tidak mengecewakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan film slasher biasanya selalu berlebihan mengeksploitasi kekerasan dan darah. Hingga pada akhirnya, yang kita tonton bukanya jalan cerita, tapi malah adegan cincang mencincang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat masakan, walau suka yang namanya MSG, tapi kebanyakan MSG akan tetap bikin rasanya jadi tidak enak, dan malah membuat mual orang yang menikmatinya. Tapi, film ini berhasil menampilkannya dengan lebih selektif dan efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua pembunuhan yang terjadi di film ini, berhasil menyatu dengan cerita, menghasilkan tempo yang pas dan tidak mengganggu alur yang dibangun film. Artinya tidak asal bunuh, hanya untuk tujuan estetik atau memanjakan penggemar genre slasher.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan sadis yang dimunculkan film lebih seperti bumbu yang menambah rasa, bukan bagian utama yang terlalu ditonjolkan. Sehingga bagi mereka yang kurang menyukai darah pun masih bisa menikmatinya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Cocok buat orang yang kurang sabaran<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang biasa nonton film dengan banyak sekuel, hal yang sering bikin emosi adalah ketika film yang kita tonton, ending-nya menggantung, dan kita harus menunggu lama buat sekuelnya tayang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan rasanya di-PHP selama bertahun-tahun. Apalagi jika sekuelnya muncul lebih dari sepuluh tahun kemudian. Kadang banyak orang yang akhirnya kehilangan minatnya sebelum sekuelnya rilis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini tidak berlaku buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fear Street<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, karena Netflix menayangkannya semua filmnya dengan hanya jarak seminggu. Jadi kita bisa terus menikmati nya tanpa terganggu jeda yang terlalu lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai positifnya adalah, ceritanya lebih terasa utuh, dan terkoneksi satu sama lain lebih baik. Dan tentunya kita lebih puas karena seperti menonton film dengan durasi 5-6 jam.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/curon-series-horor-netflix-dari-italia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Curon, Series Horor Netflix dari Italia\u00a0<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngerinya nggak bikin mual~<\/p>\n","protected":false},"author":1568,"featured_media":131394,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[12481,11661,2363,12482,3801],"class_list":["post-131341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-fear-street","tag-hiburan-terminal","tag-netflix","tag-slasher","tag-thriller"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1568"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=131341"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/131341\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131394"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=131341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=131341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=131341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}