{"id":130183,"date":"2021-07-17T09:00:40","date_gmt":"2021-07-17T02:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=130183"},"modified":"2021-07-17T05:22:06","modified_gmt":"2021-07-16T22:22:06","slug":"dajjal-pun-minder-di-hadapan-fitnah-ambulans-kosong-dan-campaign-anti-info-covid-19","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dajjal-pun-minder-di-hadapan-fitnah-ambulans-kosong-dan-campaign-anti-info-covid-19\/","title":{"rendered":"Dajjal pun Minder di Hadapan Fitnah Ambulans Kosong dan Campaign Anti Info Covid-19"},"content":{"rendered":"<blockquote><p>\u201cJika Dajjal muncul di bumi hari ini, saya yakin blio akan minder. Ketika orang-orang berkoar untuk mencegah fitnah Dajjal, lha kok banyak yang jatuh pada fitnah Covid-19. Bahkan, tanpa kesaktian menyembuhkan orang, virus bedebah ini menjadi penyebab munculnya fitnah dan konflik horizontal antar rakyat.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bicara konspirasi, sebenarnya bukan barang yang perlu ditakuti berlebihan. Selama teori konspirasi tadi tidak menimbulkan dampak destruktif dalam masyarakat. Kalau hanya jadi buah bibir dan bunga tidur, silakan saja percaya pada urusan konspirasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, yang jadi masalah adalah ketika konspirasi itu diwujudkan dalam tindakan. Dan sudah pasti tidak ada tindakan positif dari implementasi teori \u201cjarene\u201d yang penuh cocoklogi ini. Dan sudah terbukti sejak lama bahwa tindakan yang terinspirasi dari teori konspirasi cenderung destruktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran teori kaum Yahudi berniat menguasai dunia, muncul genosida yang masif di era Adolf Hitler dan NAZI. Lantaran teori konspirasi PKI ingin mengkudeta, lahirlah pemberantasan berdarah di tahun 65-80. Bahkan karena teori warga Tionghoa ingin menguasai Indonesia, lahirlah penjarahan 98 dan diskriminasi sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Covid-19 ikut urun geger gedhen dalam urusan konspirasi. Tentu bukan si virus yang menciptakan konspirasi ini. Namun, oleh otak-otak gabut yang sok rebel dari opini mayoritas. Hanya bermodal info dari internet dan dibumbui teori tanpa dasar lainnya, seseorang bisa (merasa) sekelas Prof. Langdon yang menemukan piala suci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu pada 2020, konspirasi pandemi ini sekadar jadi FYI. Meskipun banyak public figure yang bersuara, tetap saja pandemi ini hanya berhenti di meja diskusi. Tidak pernah keluar dan menjadi tindakan nyata. Orang tetap berusaha patuh prokes demi gugurnya pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan sampai JRX dipenjara dan terancam penjara lagi, konspirasi perihal pandemi tidak pernah dipandang serius. Namun, semua berubah saat ini. Tidak hanya menjadi buah bibir, tapi banyak yang mulai percaya dan mengimplementasikan dalam perilaku pekok akhir-akir ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang saya maksud ada dua. <em>Pertama, <\/em>fenomena pelemparan dan penyerangan ambulans yang dituduh \u201ckosongan\u201d. Teori yang menyebutkan ambulans kosong sering keliling berpura-pura membawa pasien agar masyarakat ketakutan ini memang tak masuk di akal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Kedua,<\/em> adalah campaign perihal stop menyebarkan informasi tentang Covid-19. Maksudnya adalah upaya untuk menekan informasi perihal kondisi pandemi yang cenderung mengerikan dan menimbulkan ketakutan. Dengan menekan persebaran informasi ini, diharapkan situasi saat ini lebih terkendali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua implementasi dari teori konspirasi ini cenderung destruktif. Bukan cenderung lagi sih, tapi benar-benar menghancurkan. Perkara konspirasi ambulans kosong ini saja sudah mulai bermunculan korban. Banyak ambulans harus berjalan dengan body penyok bahkan kaca pecah karena serangan warga. Semata-mata hanya karena mereka percaya dengan konspirasi \u201cambulance kosong\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal belum jelas kenapa ambulans yang lewat itu kosong. Apakah memang provokasi, menjemput pasien, atau sekadar menuju rumah sakit untuk standby. Namun, karena kepekokan pelaku, langsung saja diserang. Hal yang terjadi bukanlah pengendalian pandemi lebih baik. Bukan juga kesuksesan membongkar \u201crahasia elite global\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang terjadi adalah tambah sulitnya nakes dan relawan dalam menangani korban Covid-19. Belum lagi pengeluaran lebih untuk memperbaiki kerusakan ambulans. Bahkan salah satu kanal zakat dan sedekah harus menghentikan satu ambulans sampai bisa beli kaca depan baru. Sedangkan si pelempar dan penyerang ambulans tidak mendapat apa-apa selain ancaman pidana serta umpatan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan stop sebar info tentang Covid-19 juga sama bodohnya. Simpel saja, apakah dengan menghentikan informasi perihal pandemi, maka pandemi akan hilang? Tentu iya jika percaya bahwa pandemi ini hanyalah drama elite global (lagi). Lucu juga, harapan besar dari campaign ini hanyalah melahirkan ketidakpastian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil dari campaign ini apa? Sudah jelas tidak ada dampak apa pun. Berita perihal Covid-19 akan selalu Anda dengar dari populasi yang sadar prokes. Menutup-nutupi berita tidak akan berdampak apa pun. Namun, yang ada malah turunnya awareness bahkan mental solidaritas karena sikap menutupi \u201cbangkai\u201d ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayang sekali, geger gedhen dan tindakan nyata di atas hanya menimbulkan konflik horizontal. Daripada menguatkan barisan pertahanan, malah saling serang dari komentar medsos sampai sikap destruktif yang pekoknya paripurna. Konflik antar rakyat yang beda pendapat tentang Covid-19 malah makin riuh saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memaklumi, semua lahir dari ketidakpuasan. Namun, apa iya konflik horizontal harus terjadi? Inilah yang perlu ditekankan. Konflik horizontal tidak menyelesaikan masalah, malah memperlebar batas antara WFO dan WFH, antara gaji tetap dan shifting, dan yang pasti antara rakyat dengan rakyat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fitnah yang berujung destruktif seperti contoh di atas ini bisa membuat Dajjal minder. Lha gimana ngga minder? Dajjal harus melakukan provokasi yang penuh keajaiban, sedangkan pandemi ini tidak perlu repot untuk mengobrak-abrik dengan keajaiban seperti Dajjal. Pandemi cukup mengacaukan kehidupan dan masih ditambah adu benar antar golongan. Bahkan terjadi sebelum dirimu menggarap tugas yang tertunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada menghabiskan pikiran untuk membongkar konspirasi, lebih baik pahami sumber masalah selama ini. Bukan, bukan tetanggamu. Bukan juga cupang, ya, Bu! Sumber masalahnya adalah kebijakan mencla-mencle dari pemegang kekuasaan negeri.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terima-kasih-pemerintah-telah-melahirkan-konspirator-seperti-jrx\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Terima Kasih Pemerintah Telah Melahirkan Konspirator seperti JRX <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teori yang menyebutkan ambulans kosong sering keliling berpura-pura membawa pasien agar masyarakat ketakutan ini memang tak masuk di akal.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":130195,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[12380,3031,5840,11643,6413],"class_list":["post-130183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-ambulans-kosong","tag-campaign","tag-pandemi","tag-pojok-tubir-terminal","tag-teori-konspirasi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=130183"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/130183\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/130195"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=130183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=130183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=130183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}