{"id":129591,"date":"2021-07-22T14:00:44","date_gmt":"2021-07-22T07:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=129591"},"modified":"2021-09-28T12:02:43","modified_gmt":"2021-09-28T05:02:43","slug":"dalam-budaya-jepang-bahas-soal-kotoran-manusia-bukan-hal-yang-menjijikkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dalam-budaya-jepang-bahas-soal-kotoran-manusia-bukan-hal-yang-menjijikkan\/","title":{"rendered":"Dalam Budaya Jepang, Bahas Soal Kotoran Manusia Bukan Hal yang Menjijikkan"},"content":{"rendered":"<p>Di Jepang, kotoran manusia biasanya disebut unko atau unchi. Di sana, ia bukan sesuatu yang dianggap pamali dan nggak baik untuk dibicarakan. Beda dengan budaya Indonesia, ngomongin kotoran bisa dianggap nggak sopan, vulgar, dan menjijikkan. Bahkan istilah lain kotoran manusia ini bisa dipakai untuk mengumpat ketika marah. Selama ini, kita jarang membicarakan kotoran kita secara \u201cbiasa\u201d. Lantaran biasanya, ia digunakan untuk mengejek atau guyon waton.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdah pup belum hari ini?\u201d juga bukan sesuatu yang lumrah untuk ditanyakan dalam obrolan sehari-hari. Gambar kotoran manusia di buku berbahasa Indonesia tentang toilet training milik anak saya saja nggak ada gambar kotorannya, lho. Lha terus yang dikeluarin itu apa? Tahu-tahu sudah disiram aja. Menurut saya, tak ada salahnya juga ada gambar kotorannya. Mungkin karena jijik. Padahal tujuannya untuk edukasi juga, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali saya melihat, &#8220;Wah, ternyata kotoran manusia bisa selucu ini,\u201d ketika menonton animasi Dragon Ball dan Arale. Bentuknya semacam atasan soft cream denguan warna merah muda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak itu, ketika mendengar unchi atau kotoran manusia, bayangan saya ya ke situ. Bentuknya lucu dan tampak nggak menjijikkan.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Unchi itu bukan bahasa umpatan, nggak saru, dan nggak menjijikkan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jepang, kata \u201cunchi\u201d bukan untuk mengumpat. Orang yang mendengar unchi justru menganggapnya biasa. Membicarakan unchi juga bukan sesuatu yang dianggap vulgar dan menjijikkan. Tetapi mungkin ada juga yang risih kali, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomongin hal ini ke teman adalah sesuatu yang biasa aja. Asal nggak ke Pak Bos atau ke pacar yang baru dua hari jadian. Percakapan, \u201cAh, pagi ini aku belum pup. Nggak bisa keluar.\u201d Dan dijawab, \u201cMungkin kamu makannya kurang serat kali.\u201d Itu biasa saja. Kalau yang lebih akrab lagi bahkan bisa sampai detail membicarakan bentuk kotorannya juga. Sekali lagi, itu bukan sesuatu yang menjijikkan bagi mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, orang asing yang belum menganggap biasa permasalahan ini bisa jadi salah persepsi. Semisal tiba-tiba dikasih tahu lawan bicaranya kalau belum pup atau bentuk kotorannya begini begitu. Bisa jadi ilfeel juga, lah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>#2 Anak kecil biasa ngomongin unchi<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toilet training atau anak belajar pipis dan pup secara mandiri, sudah diajarkan ke anak Jepang sejak kecil. Kalau anak dititipkan ke daycare, mau nggak mau guru yang bantuin anak belajar pup. Kalau sudah begini, pendekatan bisa dilakukan dengan buku cerita bergambar dan video tentang unchi agar anak bersemangat belajar pup sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain masalah caranya, biasanya diceritakan juga bagaimana kotoran itu terbentuk. Agar tidak sakit, harus dibiasakan makan teratur. Anak kecil Jepang biasanya sejak umur 6 bulan dibiasakan makan sendiri dengan menu gizi seimbang. Ketika masuk daycare, guru tidak perlu repot-repot menyuapi anak satu per satu. Keren, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak saya dulu termasuk yang susah makan sayurnya, berbeda dengan teman-teman TK-nya yang lahap makan bekal makanannya. Dia juga cerita kalau dulu pernah pup di sekolahnya. Saya termasuk yang ketar-ketir soal ini karena kalau pup di sekolah takutnya merepotkan gurunya. Tapi ternyata, nggak ada laporan soal itu, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak sekali buku cerita bergambar tentang kotoran manusia yang dijual di pasaran. Video cerita animasi hal ini yang menarik di YouTube juga banyak. Dari yang gambarnya dengan ilustrasi lucu menggemaskan sampai yang agak nggak lucu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu cerita bergambar yang paling menarik bagi saya adalah Unchi no Kamisama (Dewa Kotoran Manusia), bisa dilihat di YouTube juga, lho. Bercerita tentang sedihnya si Dewa karena anak-anak di sekolah nggak mau buang air besar (BAB) di toilet sekolah. Anak-anak nggak mau BAB karena malu dan takut ditertawakan teman-temannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, si Dewa keluar dari toilet dan masuk kelas. Dia memberi tahu anak-anak tentang bahayanya menahan BAB. Mau di rumah, mau di sekolah, pup itu sama saja. Pup yang ditahan bisa menyebabkan sembelit, tidak fokus belajar, dan menjadi penyakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bisa pup, perasaan akan menjadi lega dan wajah bisa ceria lagi. Sejak saat itu, anak-anak di sekolah itu tidak malu lagi pergi ke toilet. Anak-anak lega, Dewa pun senang.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Anime dan lagu tentang unchi<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain buku cerita, kita juga bisa melihat unchi melalui anime atau lagu. <\/span>Di episode terbaru <em>Dragon Ball,<\/em> ada adegan Whis (guru dari Beerus) yang menginjak unchi warna merah muda ini. Ada juga anime Unko-san yang bercerita tentang lika-liku kehidupan sebagai kotoran manusia. Semacam kartun larva nggak, sih? Geli-geli gimana gitu. Ada juga unchi-kun (kun biasanya digunakan untuk panggilan laki-laki).<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang memang lagu khusus untuk menyemangati anak kecil yang sedang toilet training, tetapi ada juga lagu yang hanya buat lucu-lucuan. Salah satunya adalah lagu &#8220;Youkai Taisou Dai-ichi&#8221; dari animasi <em>Youkai wWocchi.<\/em> Ada lirik yang begini, \u201cDoushite unchi wa kusain da, tabemono wa kusakunai, doushite unchi wa pun pun pun\u201d. Kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi, \u201cKenapa kotoran itu bau? Padahal makanan itu tidak bau. Kenapa kotoran itu bau bau bau?\u201d Ada-ada saja, ya.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Museum Unko: penghargaan tertinggi untuk kotoran manusia<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Museum Unko ini ada di Jepang. Setidaknya ada di 4 tempat, yakni di Tokyo, Fukuoka, Hiroshima, dan Yokohama. Ia juga buka cabang di Shanghai, Tiongkok. Harga tiketnya lumayan mahal, lho. Untuk dewasa 1600-1800 yen (sekitar 250 ribu rupiah) dan untuk anak-anak 900-1000 yen (sekitar 130 ribu rupiah).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kotoran manusia di museum ini beraneka warna dan tidak bau. Tentu saja, karena bukan kotoran dalam wujud sebenarnya. Jangan bayangin yang jijik-jijik ya, justru teknologi malah membuatnya jadi tampak lucu, estetik, dan menggemaskan. Warnanya juga warna yang sangat ceria, jauh dari kesan kotor dan menjijikkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak atraksi yang ditawarkan. Di dalam museum ini kita bisa melihat, menyentuh, berfoto, dan bermain dengan pup. Hasil fotonya juga Instagram-able, lho. Kita juga bisa membeli souvenir berbentuk pup di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah, setidaknya gambaran tentang kotoran manusia di Jepang. Sedikit berbeda dengan Indonesia, ya? Kalau di Jepang pup itu biasa saja, di sini masih nggak lumrah untuk dibicarakan. Entah mungkin karena terlalu jijik atau karena nggak penting.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-kamu-pengin-tinggal-di-jepang-jangan-kaget-dengan-6-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Kalau Kamu Pengin Tinggal di Jepang, Jangan Kaget dengan 6 Hal Ini<\/strong> <\/a><b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/primasari-nirwana-dewi\/\">Primasari N Dewi<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_top\" rel=\"noopener\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngomongin soal kotoran manusia ke teman adalah sesuatu yang biasa aja. Percakapan, \u201cAh, pagi ini aku belum pup. Nggak bisa keluar,&#8221; itu biasa terjadi.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":131087,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[12383,11642,12433,12434],"class_list":["post-129591","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-budaya-jepang","tag-gaya-hidup-terminal","tag-kotoran-manusia","tag-unchi"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129591","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=129591"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129591\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131087"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=129591"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=129591"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=129591"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}