{"id":129093,"date":"2021-07-13T13:00:42","date_gmt":"2021-07-13T06:00:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=129093"},"modified":"2021-08-29T22:08:58","modified_gmt":"2021-08-29T15:08:58","slug":"3-rekomendasi-film-horor-joko-anwar-yang-nggak-boleh-ditonton-sendirian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-rekomendasi-film-horor-joko-anwar-yang-nggak-boleh-ditonton-sendirian\/","title":{"rendered":"3 Rekomendasi Film Horor Joko Anwar yang Nggak Boleh Ditonton Sendirian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngobrolin soal film memang nggak akan ada habisnya. Dan saat ngobrolin film, besar kemungkinan kita akan ngomongin film bergenre horor. Sebab, genre horor sedang menemui masa-masa terbaiknya setelah para pembuat film mulai serius menggarap horor ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, genre horor menuai olok-olok karena digarap seadanya, yang penting laku. Formulasi \u201cyang penting laku\u201d ini begitu klise. Masukkan jumpscare, pilih aktris cantik dan seksi, kelar. Dan hal itu berlaku dalam waktu yang lama, sebelum film Joko Anwar hadir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pria yang akrab disapa Jokan ini adalah salah satu sutradara sekaligus penulis naskah film terbaik di Indonesia. Bahkan dalam acara Festival Film Indonesia (FFI) 2020 lalu, Joko Anwar berhasil menyabet Piala Citra untuk sutradara terbaik. Sebab, kemampuannya dalam membuat film nggak perlu diragukan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa genre film yang diangkat oleh Joko Anwar pada dasarnya sangat variatif, beberapa di antaranya yaitu genre romance, politik, superhero, dan komedi. Namun, film-film yang disutradarai Joko Anwar dalam sejarahnya lebih didominasi oleh genre horor. Sehingga, hingga kini ia dikenal sebagai sutradara terbaik spesialis horor. Nah, sebagai konsumen film horor sekaligus pengagum keras Joko Anwar, berikut saya berikan tiga rekomendasi film Joko Anwar yang sebaiknya tidak ditonton sendirian.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Pintu Terlarang\/The Forbidden Door<\/i><\/b><b> (2009)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya menonton film ini waktu kecil, mungkin yang ada di benak saya adalah film ini benar-benar film sakit jiwa. Reaksi saya saat itu adalah \u201ckok bisa bikin film kek gini njir!!!\u201d Bagi kalian yang sudah menonton, rasanya kalian harus setuju kalau film ini termasuk ke dalam film horor yang cerdas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang dibintangi oleh aktor kawakan Fachri Albar dan Marsha Timothy ini sukses bikin kepala saya puyeng hingga hari ini. Pasalnya, film ini begitu enak untuk ditonton dan unpredictable.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatnya, film ini menceritakan seorang pematung terkenal bernama Gambir yang setiap hari diteror oleh tulisan \u201ctolong saya\u201d dari sosok anak kecil misterius. Tokoh Gambir yang diperankan Fachri Albar mampu menghipnotis setiap penontonnya untuk percaya bahwa ia benar-benar seorang pematung yang dingin dan sukses menginspirasi. Kesuksesannya berawal dari beberapa patung buatannya yang laris terjual dengan harga fantastis. Namun, hanya patung-patung yang bertemakan wanita hamil saja yang laku. Sebab, di dalam perut hamil patung tersebut terdapat guguran janin anaknya dengan Talyda (Marsha Timothy). Akan tetapi, semua cerita yang dibuat semengerikan itu ternyata nggak benar-benar terjadi. Semua cerita tentang patung, pembunuhan, dan kesuksesan Gambir adalah imajinasi Gambir semata. Sebab, pada kenyataannya Gambir hanyalah salah satu tahanan di rumah sakit jiwa.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Pengabdi Setan\/Satan\u2019s Slave<\/i><\/b><b> (2017)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memang sempat populer di Indonesia beberapa waktu lalu. Bahkan menurut sebagian kritikus film, film ini disinyalir menjadi media penutup film \u201cidiot\u201d sekaligus gerbang pembuka film-film horor \u201cwaras\u201d di Indonesia. Pasalnya, sebelum film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengabdi Setan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tersebut ditayangkan, banyak ditemui film horor yang dibilang jelek saja belum. Sehingga, dengan kehadiran film ini semakin menunjukkan bahwa film horor di Indonesia tidak hanya mementingkan sisi komersial, tetapi juga masih ada yang layak ditonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang menceritakan sebuah keluarga ini sukses bikin jantung saya deg deg ser. Sebab, pembawaan karakter setiap tokohnya membuat saya nggak bisa tidur beberapa malam. Singkat cerita, keluarga yang terdiri dari Ayah (Bront Palarae), Ibu (Ayu laksmi), Nenek (Elly D. Luthan), dan ketiga anaknya (Tara Basro, Endy Arfian, dan Muhammad Adhiyat) harus mengurus sang ibu yang sakit. Lantaran sudah tak bisa apa-apa, sang ibu harus membunyikan loncengnya untuk meminta bantuan, dan itulah yang bikin saya mangkel, sebab setiap malam saya selalu terbayang-bayang bunyi lonceng tersebut. Selain itu, penyakit yang diderita ibu pun sangat misterius, sehingga baik ayah dan anaknya tidak mampu mengobatinya. Pada akhirnya, semuanya terungkap. Anak terakhir dari ketiga anaknya, yakni Ian (Muhammad Adhiyat) ternyata adalah anak hasil perjanjian dengan iblis. Sehingga di akhir, Ian yang mengetahui dirinya sebagai bagian dari sekte dan meninggalkan keluarganya.<\/span><\/p>\n<h4><b><i>Perempuan Tanah Jahanam\/Impetigore<\/i><\/b><b> (2019<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film yang pada 2020 lalu ini sukses menyabet penghargaan sebagai film terbaik FFI ini juga menjadi film horor pertama yang sukses menyabet gelar Best Picture sepanjang pagelaran acara tersebut. Selain itu, film ini juga menjembatani Joko Anwar untuk menyabet Piala Citra sebagai Best Director. Sebab, film ini memang sangat memukau, sadis, fenomenal, dan lagi-lagi sakit jiwa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini menceritakan tentang dua orang sahabat yakni Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita) ingin menapak tilas keluarga Maya yang berada di Desa Harjosari. Namun, desa tersebut ternyata merupakan desa kutukan. Yakni, setiap bayi yang lahir selalu tidak memiliki kulit. Film yang juga dibintangi Aryo Bayu dan aktris senior Christine Hakim ini juga memiliki plot yang rumit. Akan tetapi, kelihaian Joko Anwar dalam mengorganisasi film tersebut tampak pada setiap bagiannya. Sehingga, film ini tidak kelihatan norak dan receh. Sama halnya seperti film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pintu Terlarang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Perempuan Tanah Jahanam <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan film genre horor yang cenderung mengarah ke genre psyco-thriller. Lantaran dalam setiap adegannya, banyak sekali darah-darah dan pembunuhan. Mungkin, jika waktu itu saya nggak mengajak teman saya untuk menemani menonton, saya akan pingsan di tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seorang yang menggilai film, beberapa judul di atas merupakan judul yang membuat saya parno setiap saat. Sebab, baru kali ini saya menyaksikan film horor yang berbobot dan nggak ecek-ecek. Sehingga, jika kalian yang suka nonton film dengan genre horor, apalagi fans beratnya Joko Anwar seperti saya, tiga film di atas merupakan film yang nggak boleh dilewatkan. Namun, jika kalian hanya ngefans ke Joko Anwar tanpa menyukai genre horornya, masih\u00a0 ada, kok, film-filmnya yang lain, seperti film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Janji Joni<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2005), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Copy of My Mind <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2015), dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Gundala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2019). Untuk itu, cocok banget, deh, buat menemani hari-hari kita selama PPKM ini. Tapi, jika khusus pengin nonton horornya, jangan lupa bawa teman, ya. Soalnya, KAMU TIDAK SENDIRIAN.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsep-multiverse-di-marvel-cinematic-universe-hanyalah-hoax\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Konsep Multiverse di Marvel Cinematic Universe Hanyalah Hoax<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adhitiya-prasta-pratama\/\">Adhitiya Prasta Pratama<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngeri, serius.<\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":129521,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[11661,29,1951,1950,3854],"class_list":["post-129093","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-hiburan-terminal","tag-horor","tag-joko-anwar","tag-pengabdi-setan","tag-rekomendasi-film"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129093","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=129093"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/129093\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/129521"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=129093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=129093"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=129093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}