{"id":128545,"date":"2021-07-07T13:00:59","date_gmt":"2021-07-07T06:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=128545"},"modified":"2021-10-19T13:25:22","modified_gmt":"2021-10-19T06:25:22","slug":"negri-ngeri-adalah-gambaran-indonesia-saat-dihajar-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/negri-ngeri-adalah-gambaran-indonesia-saat-dihajar-pandemi\/","title":{"rendered":"&#8216;Negri Ngeri&#8217; Adalah Gambaran Indonesia Saat Dihajar Pandemi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagu adalah suara terdalam keresahan masyarakat.\u201d Itu kata kawan saya yang sok rebel-rebel senja. Yah, biasanya sih saya cuma jawab \u201cbacot\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, setelah dipikir-pikir ada benarnya lho. Bahkan musik paling ra cetho sekalipun tidak lahir dari kehampaan. Semuanya merangkum kehidupan di sekitar kita. Baik kehidupan ideal yang dimimpikan, atau kehidupan nyata yang sering menyesakkan. Apalagi bicara musik punk. Musik yang lahir, dari, dan bagi masyarakat akar rumput akan selalu relevan dengan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSunset di Tanah Anarki\u201d punya SID menggambarkan perjuangan demi keadilan. \u201cLagu Cinta Kelas Pekerja\u201d karya Begundal Lowokwaru menceritakan kehidupan cinta, kerja, dan persaudaraan. \u201cLong Way to YK\u201d milik Tango Tequila menggambarkan anak muda yang pergi merantau meninggalkan rumah. \u201cKelas Pekerja\u201d gubahan Keotik apalagi, menggambarkan susahnya jadi pekerja yang \u201csaling sikut mencari muka demi cari aman semata.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau disuruh membahas tentang musik punk dan maknanya, mending jangan lewat artikel ini. Lima ribu kata pun tak cukup membahas beberapa puluh lagu favorit saya. Tapi kali ini, izinkan saya membahas satu lagu yang tak lekang oleh waktu. Bahkan makin relevan di hari ini. Ketika kita terhantam dan digagahi pandemi ndlogok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNegri Ngeri\u201d karya Marjinal, lagu inilah yang saya maksud. Sebuah lagu gubahan Mike Marjinal ini memang benar-benar melegenda. Bahkan masih dinyanyikan 15 tahun kemudian semenjak rilis. Dan tetap mendengungkan amarah, bahkan setelah band Marjinal tidak relevan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya maaf, saya masih senewen dengan opini band ini yang makin hari makin melempem melawan ketidakadilan. Padahal, band ini termasuk corong perlawanan pada masa reformasi. Saat masih bernama AA and AM dan ada cak Romi Jahat, kurang galak apa band ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya sudah. Jaman berganti, dan suara kontra tidak mati. Marjinal bisa jadi catatan kaki di sejarah, tapi \u201cNegri Ngeri\u201d akan abadi. Dan seperti yang saya bilang, \u201cNegri Ngeri\u201d makin relevan di masa pandemi ini. Mungkin cocoklogi, tapi mari kita breakdown liriknya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lihatlah negri kita (oh)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang subur dan kaya raya<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sawah ladang terhampar luas<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Samudra biru, yeah<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa sih yang tidak membanggakan Indonesia yang penuh potensi alam dan manusia? Kan kita selalu bangga dengan subur dan kaya rayanya negeri ini. Dari pejabat sampai pengamen selalu memandang negeri ini yang penuh sawah dan dikelilingi lautan biru. Relevan? Sudah pasti!<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi rataplah negri kita (oh)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang tinggal hanyalah cerita<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita dan cerita, terus cerita (cerita terus)<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari mimpi tadi, kita kembali ke realitas. Tidak hanya menatap, tapi rataplah, karena semua keindahan tadi tinggalah cerita. Meskipun selalu diulang-ulang sebagai penghibur diri sendiri. Tapi, dengan pembangunan yang merusak alam seperti di Sangihe serta Gunung Slamet, sampai lenyapnya sawah terhampar oleh perumahan di Sleman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tidak berhenti sampai di situ. Pandemi benar-benar menjadikan kekayaan negeri ini menjadi cerita. Dan ditegaskan di lirik reffrain ini.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengangguran merebak luas<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kemiskinan merajalela<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagang kaki lima tergusur, teraniaya<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, angka pengangguran selama pandemi meningkat dari 4,9 persen menjadi 7 persen. Alias ada 9,7 juta orang yang menganggur. Menurut BPS, jumlah warga miskin meningkat lebih dari 2,7 juta jiwa selama pandemi. Dua lirik tadi seperti nubuat hari ini, setelah 15 tahun lamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara penggusuran, ini sih bukan hal baru, tapi menjadi istimewa semenjak pandemi. Tidak usah jauh-jauh, represi aparat saat PPKM darurat benar-benar menganiaya dan menggusur PKL. Ada yang dirubuhkan warungnya, direbut gerobaknya, dan disemprot water cannon dan disinfektan yang berbahaya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bocah-bocah kecil merintih<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Melangsungkan mimpi di jalanan<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buruh kerap dihadapi penderitaan<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana bocah kecil tidak merintih. Pertama, mereka golongan rentan Covid-19. Menurut IDAI, setiap minggu ada ribuan anak meninggal. Sisanya pun melangsungkan mimpi \u201cdi jalanan\u201d, karena sekolah tanpa tatap muka yang tidak efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara buruh, jelas selalu dihadapi penderitaan. Tamparan dari UU Cipta Kerja pada masa pandemi ini jelas makin menyakiti para buruh. Lebih parah lagi, banyak perusahaan dan pabrik menjadi kluster Covid-19 karena tidak menahan operasi. Sudah jatuh, tertimpa tangga.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah negri kita (oh)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alamnya kelam tiada berbintang<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari derita dan derita, menderita (derita terus)<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik ini memang mempertegas situasi negeri ini hari ini. Bintang kejayaan negeri yang subur dan kaya raya tidak lagi bercahaya. Kelam oleh derita, derita, menderita (derita terus). Semua situasi di atas dipertegas oleh kelam yang digambarkan lirik ini.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai kapankah derita ini? (Au-ah)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang kaya darah dan air mata<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi, ah<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai kapan kita harus hidup dalam pandemi? Jawabannya memang \u201cau-ah\u201d, karena tidak ada yang tahu kapan pandemi ini berakhir. Bahkan setelah kita berkubang darah dan air mata. Kematian akibat pandemi benar-benar mengerikan, bahkan disempurnakan kematian puluhan jiwa dalam satu malam di RS Sardjito.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Air mata keluarga dan sanak saudara terus mewarnai bumi pertiwi ini. Karena duka cita seperti antri di antara kita. Hari ini kita berduka oleh kabar kematian dan kemiskinan, esok gantian orang lain. Tapi, di tengah situasi serba susah ini, lirik berikutnya menggambarkan situasi lebih keji.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dinodai, dinodai<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Digagahi, digagahi<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dikuasai<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Digagahi, dihabisi para penguasa rakus<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lirik nakal ini benar adanya. Apalagi bicara penanganan amburadul masa pandemi. Mulai dari PPKM yang tidak jelas, menggenjot ekonomi tanpa memikirkan keselamatan, sampai kolapsnya fasilitas kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang menodai, menggagahi, dan menghabisi kita? Ya penguasa rakus seperti kata Marjinal. Dari korupsi bansos sampai proyek tidak penting di tengah pandemi. Betapa rakusnya mereka sampai kita seperti diruda paksa. Tidak lagi ada harga diri karena setiap lini kehidupan kita memang digagahi oleh mental rakus ini!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya berniat cocoklogi, apalagi menyuarakan negativisme. Tapi kenyataan memang seperti itu, Masbro, Mbakbro. \u201cNegri Ngeri\u201d memang lagu dengan lirik ngeri. Sama seperti situasi hari ini yang memang ngeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terserah pandangan anda tentang Marjinal dan kultur punk. Tapi, band lawas ini sukses memberi gambaran tentang situasi negeri ini. Dulu memang terkesan \u201clebay\u201d bagi banyak orang. Tapi hari ini? Benar adanya kan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga lirik \u201cNegri Ngeri\u201d segera tidak relevan dalam kehidupan kita. Meskipun \u201cau-ah\u201d, percayalah bahwa kita bisa mentas dari pagebluk ini. Dan untuk anda yang menjiwai kultur Punk, selalu ingat pesan Mahatma Gandhi: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPunk yo punk tapi yo adus!\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Tetap mandi agar bebas penularan Covid-19, dan tetap Punk karena negeri ini tidak baik-baik saja!<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/_UTstO_7a-U\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pentingnya-kerja-cerdas-dan-work-life-harmony-agar-ngarso-dalem-nggak-kerja-24-7\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pentingnya Kerja Cerdas dan Work-Life Harmony agar Ngarso Dalem Nggak Kerja 24\/7\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela!<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":128554,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1630,12221,12220,5840,11643,246,9813],"class_list":["post-128545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-kritik","tag-marjinal","tag-negri-ngeri","tag-pandemi","tag-pojok-tubir-terminal","tag-punk","tag-realitas"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128545"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128545\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/128554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}