{"id":128373,"date":"2021-07-10T11:00:26","date_gmt":"2021-07-10T04:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=128373"},"modified":"2021-10-06T15:10:44","modified_gmt":"2021-10-06T08:10:44","slug":"perbedaan-iyo-dan-iye-dalam-dialek-makassar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-iyo-dan-iye-dalam-dialek-makassar\/","title":{"rendered":"Perbedaan Iyo&#8217; dan Iye&#8217; dalam Dialek Makassar"},"content":{"rendered":"<p>Setelah sempat bingung akan menulis apa tentang bahasa atau dialek Makassar, akhirnya saya memilih menulis tentang kata <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> dalam percakapan sehari-hari orang Makassar. Ide ini pun muncul setelah tetangga saya bertanya dengan rasa heran, \u201cKenapa pake\u2019 <em>iyo\u2019<\/em> ko kalau bicara sama tantemu yang dari Toraja?\u201d Terjemahannya, \u201cKenapa kamu pakai <em>iyo\u2019<\/em> kalau bicara sama tantemu yang dari Toraja?\u201d Namun, sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya saya sedikit kenalkan dulu tentang cara pengucapannya. <em>Iyo\u2019<\/em> dibaca biasa saja sebagaimana yang tertulis, sedangkan <em>iye\u2019<\/em> pakai penekanan khusus di akhir. Jadi, beda dengan kata <em>iye<\/em> dari Betawi, yah.<\/p>\n<h4><strong>Perbedaan kasta<\/strong><\/h4>\n<p>Dalam percakapan bahasa Makassar atau katakanlah bahasa Indonesia dengan dialek Makassar, <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> memang punya perbedaan kasta. Meski sama-sama berarti <strong>iya<\/strong>, pada dasarnya <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> punya batasan dalam penggunaannya. <em>Iyo\u2019<\/em> bersifat kasar atau tidak sopan dan lebih sering dipakai ketika ngobrol dengan teman sebaya atau orang-orang yang sudah akrab, sementara <em>iye\u2019<\/em> terkesan lebih sopan dan digunakan ketika ngobrol dengan orang yang lebih tua dan\/atau orang yang dihargai, dihormati, dan disayangi. Itulah mengapa tetangga saya heran ketika saya menggunakan kata <em>iyo\u2019<\/em> saat berbicara dengan tante saya. Padahal, bagi orang Toraja sendiri memang sudah lumrah menggunakan kata <em>iyo\u2019<\/em>. Di sisi lain, saya tetap menggunakan kata <em>iye\u2019<\/em> saat ngobrol dengan anak saya, meskipun tentu saja usia saya jauh lebih tua dari anak saya.<\/p>\n<h4><strong>Menunjukkan status hubungan<\/strong><\/h4>\n<p>Selain dalam hubungan tua-muda, <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> juga punya peran dalam hubungan percintaan. Dalam beberapa kasus, ada hubungan diam-diam (backstreet) yang akhirnya bisa terbongkar karena si pelaku kedapatan memakai kata <em>iye\u2019<\/em>, padahal mereka seumuran bahkan teman akrab yang selama ini asyik-asyik saja ngobrol pakai <em>iyo\u2019<\/em>.<\/p>\n<p>Selanjutnya, dalam hubungan itu sendiri, entah yang sudah menikah, masih pacaran, atau pun baru sekadar odo\u2019-odo\u2019 (gebetan), penggunaan <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> ini terbagi lagi menjadi tiga penganut. Ada yang tidak masalah meski pakai <em>iyo\u2019<\/em> saat ngobrol, ada yang harus pakai <em>iye\u2019<\/em> meski mereka seumuran, ada juga yang bisa saja menggunakan <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> sekaligus. Bukan berarti memakai kata <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> secara bersamaan, tetapi dalam waktu\/keadaan tertentu bisa memakai kata <em>iyo\u2019<\/em> dan waktu\/keadaan lainnya memakai kata <em>iye\u2019<\/em>.<\/p>\n<p>Salah satu contohnya adalah teman saya. Mereka (masih pacaran), pakai <em>iye\u2019<\/em> ketika lagi baik-baik saja, tetapi pakai <em>iyo\u2019<\/em> saat bertengkar. Jadi, jika salah satunya sudah mengganti <em>iye\u2019<\/em> menjadi <em>iyo\u2019<\/em>, biasanya itu kode yang berarti emosinya sudah tinggi, menuju tak terbatas dan melampauinya atau bisa jadi juga sudah bingung mau jelasin gimana saking kesalnya.<\/p>\n<p>Contohnya seperti ini:<\/p>\n<p>A: \u201cmain game mki saja, janganmi pedulikanka. Kan lebih penting game ta daripada saya.\u201d<\/p>\n<p>(kamu main game saja, jangan pedulikan saya. Kan game kamu lebih penting daripada saya).<\/p>\n<p>B: \u201c<em>iyo\u2019<\/em> deh.\u201d<\/p>\n<p>A: *kirim emot tersenyum<\/p>\n<p>Nah, seperti itu kurang lebih contohnya. Silakan senyum-senyum sendiri bagi yang pernah mengalaminya.<\/p>\n<p>Dari percakapan di atas, yang ngomong \u201c<em>iyo\u2019<\/em> deh\u201d, kemungkinan sudah sangat emosi, yang membaca juga besar kemungkinan merasa sakit hati. Jadi, dalam beberapa hubungan, <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> ini memang punya peran yang sangat besar. Perihal <em>iyo\u2019<\/em> saja bisa bikin sakit hati loh. Jika diambil contoh lain yang berhubungan dengan perbedaan kasta suatu kata\/partikel\/klitik dalam dialek Makassar, perbedaan <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> ini setara dengan perbedaan ta\u2019 dan mu\/nu, kau dan kita\u2019, ki\u2019 dan ko.<\/p>\n<p>Buku ta&#8217; dengan Buku mu\/buku nu punya arti yang sama= buku (milik) kamu. Namun, kesan yang dihasilkan\/dirasakan oleh si penerima kata, akan berbeda.<\/p>\n<p>Sama halnya dengan kah kau iya dengan kah kita\u2019 iya. Dua kalimat ini punya arti yang sama, kesannya berbeda.<\/p>\n<p>Kembali lagi perihal perbedaan kasta antara <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em>. Sependek pengetahuan saya, orang (bersuku) Bugis juga memakai paham yang sama. Namun, agar bisa menambah perspektif atau cerita lain, sepertinya lebih seru jika teman-teman bersuku Bugis yang menuliskannya langsung. Lumayan kan bisa mengangkat tentang daerah sendiri, sambil mengumpulkan poin untuk dicairkan, wqwqwq.<\/p>\n<p>Demikianlah perkenalan singkat dengan <em>iyo\u2019<\/em> dan <em>iye\u2019<\/em> dalam dialek Makassar. Semoga ada lagi yah tulisan tentang\u00a0 bahasa, budaya, atau dialek Makassar lagi.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-makassar-bisa-tonji-yang-sindir-kebiasaan-logat-dan-okkots\/\">Lagu \u201cMakassar Bisa Tonji\u201d yang Sindir Kebiasaan Logat dan Okkots\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/utamy-ningsih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Utamy Ningsih<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beda lho ini.<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":34856,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12204,12206,12205,11678,12207,7023],"class_list":["post-128373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-dialek-makassar","tag-iye","tag-iyo","tag-pendidikan-terminal","tag-perbedaan-kasta","tag-status-hubungan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34856"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}