{"id":128087,"date":"2021-07-05T12:00:56","date_gmt":"2021-07-05T05:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=128087"},"modified":"2021-10-19T13:23:43","modified_gmt":"2021-10-19T06:23:43","slug":"bantahan-untuk-kemenkes-yang-menyangkal-laporan-laporcovid-19-fasyankes-kolaps-itu-benar-adanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantahan-untuk-kemenkes-yang-menyangkal-laporan-laporcovid-19-fasyankes-kolaps-itu-benar-adanya\/","title":{"rendered":"Bantahan untuk Kemenkes yang Menyangkal Laporan LaporCovid-19: Fasyankes Kolaps Itu Benar Adanya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lini masa Twitter, sedang ramai berita dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Detik.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> soal bantahan Kemenkes pada pernyataan tim LaporCovid-19 yang menyatakan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) kita kolaps. Melalui jubirnya, dr. Siti Nadia T, Kemenkes malah menyatakan bahwa itu nggak benar dan dengan lucunya suruh ngecek sendiri ke lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa-rasanya denial pada kenyataan adalah hobi para pemangku kepentingan, ya. Tahun lalu, denial bahwa pandemi nggak menyentuh Indonesia yang sakti nan suci ini. Sekarang, membantah fakta di lapangan bahwa banyak rumah sakit yang mulai kewalahan. Owalah, Bun. Kalau membuat pernyataan ya lakukan cek dan ricek atuh. Apalagi pernyataan njenengan mewakili kementerian yang paling besar tanggung jawabnya di tengah pandemi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, inilah bantahan saya terkait bantahan Kemenkes itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, tim LaporCovid-19 itu membuat pernyataan kan juga pakai data, nggak asal njeplak. Dasar mereka kan jelas, bahwa setidaknya ada 269 pasien isolasi mandiri yang meninggal karena nggak kebagian ruang isolasi di rumah sakit. Dari fakta ini saja, siapa pun bisa menilai bahwa persediaan rumah sakit yang mampu menerima pasien Covid jumlah dan fasilitasnya masih kurang. Itu baru yang terhitung loh, Bunda. Entah berapa yang nggak terdata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di rumah sakit tempat saya bekerja saja, selama sebulan ini sudah menolak entah berapa rujukan pasien Covid. Ya karena memang penuh. Selain itu, di sini juga hanya mampu menerima pasien dengan resiko rendah sampai sedang, tidak mampu menangani yang kritis. Entah bagaimana di rumah sakit lainnya, sudah menolak berapa rujukan. Sudah didata belum? Sudah ngecek ke lapangan belum? Kalau belum, terus bantahannya berdasarkan apa, Bunda? Atau, lagi-lagi denial belaka?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, ia juga bilang bahwa pasien yang meninggal itu karena telat penanganan dan mengimbau untuk segera ke IGD saja. Tapi, Bu, maaf IGD yang mana, ya? Wong memang sulit mendapatkannya maka dari itu mereka isoman. Bukan karena nggak mau. Itu dua hal yang jelas berbeda. Kalau banyak rumah sakit yang masih tersedia dan mampu, tentu nggak akan isoman, toh, logikanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, ia seperti menyalahkan rumah sakit swasta yang masih mengonversi ruang rawat biasa menjadi ruang isolasi pasien Covid. Kemudian kok ya malah melimpahkan kepada kepala daerah untuk mengimbau RS swasta ini ikut membantu. Lah selama ini kalau nggak bantu ngapain, tah? Tiap rumah sakit kan punya kemampuan dengan fasilitasnya sendiri sehingga tentu punya keterbatasan secara kualitas maupun kuantitas, kok malah dipandang nggak membantu? Bantahan ini, malah semakin menunjukkan bahwa fasyankes kita kelimpungan; kolaps!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, apa yang dijabarkan tim LaporCovid-19 untuk menilai kolapsnya fasyankes kita itu, bisa dibilang cuma sevariabel. Variabel lain seperti ketersediaan tenaga kesehatannya, fasilitas yang mumpuni, atau beban kerja nakes, belum dipertimbangkan. Bagaimana kalau sampai tim LaporCovid-19 mempertimbangkan variabel lain? Wah, nggak kebayang denialnya kek apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan apa-apa nih, di tempat saya bekerja saja sudah setidaknya tiga orang perawat yang tertular dan angkat tangan sehingga mau tak mau yang awalnya ada tiga sif kerja, kini menjadi dua sif karena kekurangan tenaga. Mau tahu apa jadinya? Setiap pekerja kebagian 12 jam kerja sehari. Apa nggak gila tuh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi, sekarang menambah personil dengan membuka lowongan kerja pun susahnya bukan main di tengah pandemi ini. Jarang ada yang daftar. Ditambah lagi bertepatan dengan pembukaan lowongan CPNS. Cukup mikir sekali saja untuk lebih milih nganggur dulu dan menunggu tes CPNS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, di sini atau RS swasta yang lain, fasilitasnya terbatas tuh karena nggak mampu menyediakannya, bukan nggak mau. Kalau rumah sakit negeri sih bisa pengajuan dengan dana APBD apa APBN, lah sini mau ngemis ke siapa? Lah wong RS sekelas Sardjito saja sampai kehabisan oksigen. Bagaimana fasyankes yang kelasnya ada di bawahnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Butuh bukti apa lagi sih biar nggak denial pada fakta di lapangan? Atau memang sudah dari sananya ya buat membantah segala kritikan, sekalipun nggak bisa pakai fakta? Entahlah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, sungguh disayangkan Kemenkes mengeluarkan pernyataan yang nggak enak seperti itu. Di kondisi yang serba ruwet ini, masyarakat dan nakes cuma butuh dukungan, meski itu sesederhana dukungan moral (soalnya kalo materiil, takut dikorupsi lagi). Seperti mengakui segala blunder selama ini lalu minta maaf, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-jadi-satgas-covid-19-dicari-saat-ada-paparan-dimusuhi-saat-beri-imbauan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Suka Duka Jadi Satgas Covid-19: Dicari Saat Ada Paparan, Dimusuhi Saat Beri Imbauan<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fadlir-rahman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fadlir Nyarmi Rahman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Denial mulu, cek lapangan kagak.<\/p>\n","protected":false},"author":933,"featured_media":62331,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12171,5468,12170,12172,12173,11643],"class_list":["post-128087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bantahan","tag-covid-19","tag-faskes","tag-kemenkes","tag-laporcovid-19","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/933"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128087"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128087\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/62331"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}