{"id":128075,"date":"2021-07-05T07:00:01","date_gmt":"2021-07-05T00:00:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=128075"},"modified":"2021-10-19T13:31:08","modified_gmt":"2021-10-19T06:31:08","slug":"alasan-cv-lamaran-kerja-yang-nggak-diterima-dalam-proses-perekrutan-nggak-dikembalikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-cv-lamaran-kerja-yang-nggak-diterima-dalam-proses-perekrutan-nggak-dikembalikan\/","title":{"rendered":"Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan"},"content":{"rendered":"<p><em>Bikin CV lamaran kerja, kan, nggak murah. Kalau memang nggak terpakai, mbok dikembalikan saja.<\/em><\/p>\n<p>Semakin hari, entah kenapa, di luar dugaan saya, semakin banyak persoalan di ruang lingkup pekerjaan yang bisa dibahas dan selalu saja menarik. Kali ini, ada pernyataan yang melahirkan diskusi terbuka tentang usul atau saran bagi para rekruter. Inti pembahasannya adalah, \u201cJika seseorang tidak diterima bekerja, mohon agar berkasnya dikembalikan saja.\u201d<\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-width=\"500\" data-dnt=\"true\">\n<p lang=\"in\" dir=\"ltr\">Dear Perekrut&#8230;. <a href=\"https:\/\/t.co\/JDq1Jw7rBd\">pic.twitter.com\/JDq1Jw7rBd<\/a><\/p>\n<p>&mdash; TwitSvonDS (@TwitsvonDS) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/TwitsvonDS\/status\/1410895464409427972?ref_src=twsrc%5Etfw\">July 2, 2021<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p>Saya akui bahwa dari sudut pandang pelamar kerja, pembahasan ini cukup bagus. Boleh jadi, betul-betul mewakili keresahan mereka ketika tak kunjung mendapat panggilan kerja atau tidak diterima saat mengikuti proses wawancara kerja.<\/p>\n<p>Namun, dari sisi rekruter atau HRD, bagaimana? Pasalnya, mengembalikan CV lamaran kerja kepada mereka yang sudah dan\/atau belum mengikuti proses wawancara sama sekali\u2014tapi sudah mengirimkan CV berupa hardcopy\u2014adalah hal yang agak nganu untuk dilakukan. Iya, kalau hanya satu atau dua CV lamaran kerja. Nah, kalau puluhan, ratusan, atau ribuan, gimana?<\/p>\n<p>Dikembalikan melalui jasa ekspedisi gitu? Ya, nggak semua perusahaan rela mau mengeluarkan budget untuk persoalan ini. Atau memanggil kembali kandidat dan meminta mereka untuk mengambil satu per satu CV lamaran kerja yang sudah diberikan kepada rekruter? Makin nggak mungkin karena harus mengorbankan banyak hal lagi bagi para kandidat, kan?<\/p>\n<p>Mari kita bahas dari sudut pandang rekruter terlebih dahulu. Konsep melamar pekerjaan sejak dahulu sebetulnya sederhana dan masih sama hingga sekarang: kirim CV\/profil ke suatu perusahaan, bersaing dengan para pelamar kerja lain, jika sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan akan diberi kesempatan untuk mengikuti proses wawancara dan berbagai tes lainnya. Ya, semacam kompetisi terbuka, lah. Sampai di sini, kita masih sepakat dan satu persepsi, ya?<\/p>\n<p>Dan selayaknya kompetisi, dibutuhkan segala effort dan perjuangan untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditargetkan. Bagi pelamar kerja, sudah tentu targetnya adalah diterima atau dipercaya menempati suatu posisi tertentu di perusahaan dan mendapatkan paket benefit sesuai harapan. Sedangkan effort-nya, ya meluangkan waktu, tenaga, dan biaya, untuk segala proses yang diikuti. Baik secara offline maupun online.<\/p>\n<p>Nah, yang menjadi perkara adalah, ketika para pelamar kerja mengikuti proses secara offline. Juga harus membawa CV lamaran kerja dan kelengkapan dokumen lainnya. Iya, kalau diterima. Kalau nggak, sebagian orang merasa rugi karena CV-nya nggak dikembalikan oleh rekruter atau HRD. Ini yang menjadi perkara bagi sebagian orang, toh?<\/p>\n<p>Sebagian di antara kalian mungkin ada yang menyarankan sekaligus bertanya, \u201cKenapa nggak diminta lagi aja CV-nya kalau memang sudah tahu nggak diterima?\u201d jawaban yang bisa saya berikan, sih, sederhana dan singkat saja, \u201cKurang etis, Mas\/Mba.\u201d<\/p>\n<p>Begini. Ketika datang melamar pekerjaan membawa CV ke suatu perusahaan, kalian ibarat tamu yang membawa seserahan bagi tuan rumah. Ya, masa seserahannya mau diminta lagi, sih? Kecuali sejak awal kalian cukup berani meyakinkan tuan rumah, \u201cPak\/Bu, ini seserahan hanya saya pinjamkan, ya. Hanya untuk dilihat-lihat. Kalau sudah cukup dipahami, nanti akan saya minta kembali.\u201d Ya, gimana, ya.<\/p>\n<p>Dibanding meminta kembali CV yang sudah diserahkan kepada rekruter atau HRD, saya punya saran yang bisa diaplikasikan saat kalian mengikuti proses interview secara langsung agar bisa hemat walaupun diminta CV dan kelengkapan dokumen lainnya.<\/p>\n<p><strong>Pertama,<\/strong> cukup membawa CV dengan menyertakan profil yang lengkap. Termasuk kontak yang bisa dihubungi (baik nomor telepon, WhatsApp, atau email). Nggak perlu bawa yang lainnya dulu. Jika ditanya oleh rekruter, sampaikan dengan baik bahwa dokumen lainnya akan dilengkapi saat ada proses lanjutan atau ada kepastian lolos. Biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp500-Rp2000-an, kok, untuk nge-print selembar CV. Kebangetan kalau kalian masih ngedumel juga.<\/p>\n<p><strong>Kedua,<\/strong> kirim CV dan\/atau portofolio via email. Kalau rekruter menanyakan kenapa nggak bawa yang hardcopy, sampaikan hal serupa pada poin pertama.<\/p>\n<p>FYI, walaupun CV kalian nggak dikembalikan, nggak semena-mena dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu apalagi disalahgunakan. Sebagian rekruter menyimpannya untuk bank data, pipeline, atau sejenisnya, yang akan di-screening kembali jika ada posisi lain yang bisa ditawarkan\/informasikan kepada para pelamar kerja. Kalaupun sudah tidak digunakan karena sudah bertahun-tahun lamanya tersimpan, akan dibakar atau dihancurkan menggunakan mesin penghancur kertas untuk meminimalisir penyalahgunaan data pribadi, kok. Ya, gimana ya. Ini bukan mengada-ngada. Memang begitu realitasnya.<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kandidat-yang-berbisik-dan-tanya-jawaban-ke-orang-lain-saat-interview-online-maunya-apa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Kandidat yang Berbisik dan Tanya Jawaban ke Orang Lain Saat Interview Online, Maunya Apa, sih?<\/strong> <\/a><b><\/b><b>d<\/b><b>an artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\"><b>Seto Wicaksono<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika datang melamar pekerjaan membawa CV lamaran kerja ke suatu perusahaan, kalian ibarat tamu yang membawa seserahan bagi tuan rumah.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":128111,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12162,126,11643,12163],"class_list":["post-128075","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-cv-lamaran-kerja","tag-hrd","tag-pojok-tubir-terminal","tag-proses-perekrutan"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128075"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128075\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/128111"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}