{"id":127343,"date":"2021-06-29T14:00:42","date_gmt":"2021-06-29T07:00:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=127343"},"modified":"2021-10-19T13:59:11","modified_gmt":"2021-10-19T06:59:11","slug":"lips-service-dan-politik-abang-abang-lambe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lips-service-dan-politik-abang-abang-lambe\/","title":{"rendered":"Lips Service dan Politik Abang-abang Lambe"},"content":{"rendered":"<p>Media sosial kembali gegap oleh postingan dari akun resmi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang menggelari Presiden Jokowi sebagai \u201cKing of Lips Service\u201d. Postingan tersebut mendapat kecaman dari seorang dosen UI yang kerap membuat kontroversi, Ade Armando.<\/p>\n<p>Pak dosen, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi bahan julid netijen gegara mendirikan Civil Society Watch (CSW) itu, bertanya (setengah mengolok) bahwa mahasiswa yang memposting itu masuk UI dengan cara \u201cnyogok\u201d. Sebuah tuduhan yang absurd mengingat datangnya dari seorang dosen. Smh.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian beredar surat pemanggilan dari Direktur Kemahasiswaan kepada pihak-pihak yang terkait dengan unggahan BEM UI tersebut. Terang saja, netizen langsung berebut masuk gelanggang untuk ikut saling sambit argumen di media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>\u201cPiye iki, Cak, kok kita balik seperti zaman Orba. Mosok cuman bikin kritik seperti ini langsung dipanggil\u2026\u201d ujar Solikin dari atas motornya. Mahasiswa cum aktivis yang sudah hampir setahun ini pulang ke kampung gara-gara kampusnya tidak ada kuliah tatap muka itu, mendatangi Cak Narto yang sedang ngganthang murai batu di halaman rumah.<\/p>\n<p>\u201cMbok kamu sini dulu, Kin, duduk, terus cerita yang jelas\u2026\u201d undang Cak Narto.<\/p>\n<p>Solikin menurunkan penyangga motor, lantas mengeluarkan hape dari saku celananya, memperlihatkan kepceran surat panggilan dari Direktur Kemahasiswaan UI kepada anak-anak BEM UI itu.<\/p>\n<p>\u201cOoo\u2026hehe\u2026\u201d Cak Narto hanya terkekeh.<\/p>\n<p>\u201cKok sampean ketawa sih, Cak? Ini kan bentuk represi kampus kepada kebebasan berekspresi. Lagian julukan King of Lips Service ini kan berdasarkan fakta-fakta, Cak,\u201d sergah Solikin.<\/p>\n<p>\u201cKamu tuh mbokya jangan kagetan gitu. Namanya politisi ya wajar kalau lips service. Wong Pak Jokowi tuh orang Jawa, dan orang Jawa sudah biasa itu dengan lips service. Statement abang-abang lambe gitu,\u201d jawab Cak Narto tenang.<\/p>\n<p>\u201cIya, aku paham, Cak, tapi kan beliau presiden. Nggak boleh dong bikin statement abang-abang lambe yang menyangkut hajat hidup rakyatnya. Harus tegas, to-the-point, dan konsisten, dong!\u201d gugat Solikin.<\/p>\n<p>\u201cKok rasa-rasanya bangsa kita belum siap kalau punya politisi dengan kriteria yang kamu sebutkan tadi. Kamu ingat apa yang terjadi dengan Ahok yang punya pola komunikasi blak-blakan gitu. Habis dia, Kin\u2026\u201d ujar Cak Narto sambil menuangkan teh dari ceret ke gelas di hadapan Solikin.<\/p>\n<p>\u201cYa tapi kan tidak perlu ngomong kasar di hadapan media. Ketegasan kan bisa disampaikan dengan santun, Cak\u2026\u201d jawab Solikin seiring sruputan teh.<\/p>\n<p>\u201cGini lho, Kin. Apa yang dilakukan Pak Jokowi itu merupakan bentuk pola komunikasi yang diracik dari kombinasi gaya bertutur presiden-presiden sebelumnya. Pak Jokowi nggak bakalan bisa marah-marah dan memaki ala Ahok di depan sorotan kamera karena selain bertolak belakang dengan sopan santun ketimuran juga gaya seperti itu kontra-produktif. Jadi jangan kaget kalau ke depan kita akan punya pejabat yang selalu ngasih lips service, abang-abang lambe, basa-basi. Karena rakyat Indonesia masih belum siap dengan ketelanjangan kata-kata\u2026\u201d jelas Cak Narto.<\/p>\n<p>\u201cLho, kok jadi rakyat lagi yang salah, Cak. Nggak bisa gitu, dong. Julukan tadi itu kan disematkan semata untuk mempertanyakan konsistensi beliau atas pernyataan-pernyataan beliau, Cak. Karena banyak yang tidak terwujud dan bahkan banyak juga yang bertentangan,\u201d balas Solikin.<\/p>\n<p>\u201cAku nggak menyalahkan siapa-siapa, Kin. Maksudku itu jangan kagetan gitu. Lips service itu hal yang lumrah dalam politik kita. Seorang pemimpin yang berangkat dari masyarakat yang penuh basa-basi niscaya juga akan berbasa-basi ketika memimpin. Wong beliau yang penuh kesantunan dan basa-basi sejak awal menjabat saja toh nyatanya kita pilih lagi jadi presiden, kan? Hehehe\u2026\u201d<\/p>\n<p>Solikin hanya mengangguk mendengar penjelasan Cak Narto itu.<\/p>\n<p>\u201cTapi aku betul-betul kasihan, Cak. Ini temen-temen BEM UI sudah dipanggil sama rektorat. Sudahlah diolok-olok sama dosen sendiri di ruang publik, dituduh masuk UI-nya nyogok, sekarang dipanggil lagi oleh rektorat.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLho\u2026 sudah dibilang jangan kagetan, kok. Itu pak dosen yang ngolok dan nuduh mahasiswanya sendiri kan sedang berusaha stay relevant, Kin. Pun dengan rektoratnya. Caper saja itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMaksudnya, Cak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cMenjadi dosen di UI itu bukan profesi semata, Kin, tapi bisa jadi portofolio bagi para oportunis untuk dapat posisi-posisi strategis dalam peta politik di Indonesia, jadi komisaris BUMN, misalnya. Maka jangan kaget kalau tingkah polah dosen itu tadi nyeleneh dan tidak mencerminkan pribadi seorang dosen yang seharusnya kritis dan bestari. Karena sudah terbukti, di Indonesia menjadi kontroversial adalah cara ampuh untuk mendapatkan perhatian dari para pembesar. Selain menjilat tentunya. Dihujat netijen satu dua minggu nggak apa-apa, lah kalau habis itu jadi komisaris, toh. Hehehe.\u201d<\/p>\n<p>\u201cWis tah la\u2026 pokoke jangan kagetan. Apalagi sampai mengganggu pikiranmu. Nggak bagus buat imun badan. Kita ini, di desa begini, sudahlah dipontang-panting kebijakan plin-plan di masa corona, masih juga disuguhi sirkus politik di Jakarta. Hambok tambah mumet kalau dimasukin hati. Udah nggak usah dipikir. Ini teh manis bukan abang-abang lambe lho, Kin\u2026beneran ini,&#8221; ujar Cak Narto sembari menuangkan lagi segelas teh manis untuk Solikin.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">***<\/p>\n<p>Langit sangat cerah hari ini. Udara sejuk menggoyang ranting pohon kelor di halaman rumah Cak Narto. Dari dalam rumah Cak Narto lantang terdengar \u201cBasa-Basi\u201d dari Gugun Blues Shelter.<\/p>\n<p>Apa jadinya negri ini<\/p>\n<p>Jika harus berbasa-basi<\/p>\n<p>Yang kumau kepastian<\/p>\n<p>Dari dulu hingga sekarang, em<\/p>\n<p>Setiap hari kulihat TV<\/p>\n<p>Banyak orang berbasa-basi<\/p>\n<p>Entah mengapa ini terjadi<\/p>\n<p>Mungkin hidup harus begini, yeah\u2026.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ribetnya-punya-dosen-terkenal-tapi-suka-bikin-statement-aneh-di-medsos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos <\/a><\/strong><strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;&#8230;Namanya politisi ya wajar kalau lips service. Wong Pak Jokowi tuh orang Jawa, dan orang Jawa sudah biasa itu dengan lips service. Statement abang-abang lambe gitu.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":127421,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[12078,559,12077,11643],"class_list":["post-127343","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bem-ui","tag-jokowi","tag-lips-service","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=127343"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127343\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/127421"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=127343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=127343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=127343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}