{"id":126394,"date":"2021-06-25T11:00:50","date_gmt":"2021-06-25T04:00:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=126394"},"modified":"2021-10-26T15:23:12","modified_gmt":"2021-10-26T08:23:12","slug":"return-trip-effect-alasan-waktu-berangkat-lebih-lama-dari-waktu-pulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/return-trip-effect-alasan-waktu-berangkat-lebih-lama-dari-waktu-pulang\/","title":{"rendered":"Return Trip Effect : Alasan Waktu Berangkat Lebih Lama dari Waktu Pulang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu pergi ke tempat wisata yang belum pernah dikunjungi, mana yang lebih lama, waktu berangkat ke tempat tujuan atau waktu pulang? Ketika lagi touring menuju daerah yang belum pernah didatangi, waktu terasa lama ketika berangkat atau ketika perjalanan pulang? Atau nggak perlu terlalu jauh. Ketika kita bangun kesiangan untuk pergi ke kantor ataupun sekolah lalu berangkat dengan terburu-buru agar nggak terlambat, terasa lebih lama atau lebih cepat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, pada umumnya orang akan menjawab bahwa waktu berangkat, seringkali lebih lama dari waktu pulang. Awalnya saya juga agak heran, mengapa ini bisa terjadi. Padahal, jarak dan rute yang ditempuh sama. Tapi, mengapa waktu berangkat seringkali terasa lebih lama daripada waktu pulang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, beberapa peneliti sudah memberikan penjelasan ilmah terkait dengan \u201crelativitas\u201d waktu ini. Hal ini disebut dengan return trip effect. Salah satu penelitinya adalah Niels van de Ven. Psikolog asal Belanda ini pada 2011 mengeluarkan<\/span><a href=\"https:\/\/link.springer.com\/article\/10.3758\/s13423-011-0150-5\"> <span style=\"font-weight: 400;\">hasil penelitian<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang fenomena tersebut. Niels menyebutkan bahwa fenomena tersebut bisa terjadi\u2014dengan menyandarkan diri pada teori familiaritas\u2014lantaran seseorang masih asing terhadap rute yang ditempuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, begini. Misalkan kita melakukan suatu rutinitas. Dalam melakukan rutinitas, yang biasanya terjadi adalah kita nggak perlu mengeluarkan effort yang terlalu besar lantaran sudah hafal dengan apa saja yang harus dilakukan. Kalau melakukan tugas baru, istilahnya di sana kita merasa \u201cmbabat alas\u201d dulu yang tentu membutuhkan waktu lebih lama daripada melakukan rutinitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berangkat ke tempat baru, kita cenderung menduga-duga lama waktu tempuh yang bakal dihabiskan sampai ke tempat tujuan. Namun, saat waktu tempuh ke tempat tujuan lebih lama dari yang diharapkan, kita mungkin menyesuaikan harapan waktu tempuh perjalanan pulang hampir sama dengan perjalanan waktu berangkat tadi. Dan, tiba-tiba saja, kita merasakan, \u201cLho, kok waktu balik dari sana cepet banget, ya. Perasaan tadi pas waktu berangkat, lama banget.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak usah jauh-jauh deh. Ambil contoh saat kita berharap untuk mendapatkan pasangan idaman. Wuh, pasangan itu rasanya susah banget untuk didapatkan. Tapi waktu kita sudah menurunkan tensi untuk berharap, lhadalah kok tiba-tiba malah dia yang balik berharap kepada kita. Saat ngejar, itu terasa melelahkan. Tapi saat merelakan, eh, yang terjadi malah sebaliknya. Kadang semesta gitu banget bercandanya. Saat mengharap lebih malah nggak dapat, saat nggak berharap lagi malah datang semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Niels, hal ini disebut dengan a violation of expectation atau sebuah pelanggaran harapan. Niels sendiri, melakukan kurang lebih dua penelitian tentang hal ini. Pada penelitian pertamanya, dia memberhentikan bus yang baru pulang dari pokoknya semacam acara pameran. Niels langsung saja menanyakan pada mereka, siapa saja yang merasakan waktu pulang lebih cepat daripada waktu berangkat ke pameran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, yang paling banyak menjawab adalah yang pada waktu berangkat memiliki harapan sampai lebih cepat namun ternyata, waktu yang ditempuh lebih lama. Pokoknya yang paling berharap itu yang merasa jalan pulang lebih cepat. Padahal loh, rutenya ya itu-itu saja. Sama saja. Hanya gara-gara harapan, waktu berangkat lebih lama dan waktu pulang lebih cepat. Kalau mau diterapkan, ya udah nggak usah banyak berharap terhadap apa-apa biar enteng hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi kedua yang dilakukan, ya sebenarnya sama saja. Hanya objeknya adalah mereka harus naik sepeda untuk bolak-balik. Setali tiga uang dengan penelitian pertama, yang merasakan return trip effect, adalah mereka yang menaruh harapan besar sampai lebih cepat ke tempat tujuan tapi malah lebih lama dari harapan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya Niels, tulisan<\/span><a href=\"https:\/\/thepsychologist.bps.org.uk\/volume-25\/edition-8\/experiencing-time-daily-life\"> <span style=\"font-weight: 400;\">The Psychologist<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ini juga menjelaskan alasan mengapa return trip effect bisa terjadi. Dalam tulisan tersebut, Dan Zakay sebagai penulisnya mengatakan bahwa ini bisa terjadi lantaran tenggat waktu. Seseorang yang melakukan perjalanan \u2018berangkat\u2019 dengan disiplin juga buru-buru agar sampai tujuan tepat waktu, bikin otak berubah jadi kondisi fokus. Dan dalam kondisi tersebut, mau ada hambatan atau nggak, bakal bikin waktu yang ditempuh terasa panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba aja dah, setiap bangun kesiangan lalu buru-buru pergi ke kantor atau sekolah. Waktu di jalan itu kayak lama banget. Richard A. Block yang seorang psikolog juga mengiyakan pendapat ini. Return trip effect bisa terjadi lantaran fokus kita yang tertuju terhadap \u2018waktu\u2019. Kita jadi cenderung sering berpikir, \u201cDuh udah jam berapa ini. Telat nggak ya!\u201d sambil sering liatin jam tangan. Ada semacam beban yang harus diselesaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kalau waktu perjalanan pulang, ya beban itu udah nggak ada dan perasaan dikejar-kejar waktu juga udah nggak ada. Rileks, santai, dan chill aja gitu pas pulang. Dan, eh, tiba-tiba udah sampe rumah gitu aja. Selain dua-tiga penelitian ini ada beberapa lagi sebenarnya. Tapi, saya rasa ini sudah cukup menjelaskan tentang mengapa perjalanan berangkat seringkali terasa lebih lama dari pada perjalanan pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ntar, kalau misal mau ke mana-mana, biar nggak terasa lama, nggak usah mengira-ngira kapan sampainya atau kira-kira dalam waktu sekian jam sampai atau tidak. Jalani saja tanpa banyak berharap tanpa banyak ekspektasi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"http:\/\/memahami%20strategi%20decoy%20effect%20agar%20nggak%20%E2%80%98\/\">Memahami Strategi Decoy Effect agar Nggak \u2018Tertipu\u2019 untuk Beli Produk dengan Harga Paling Mahal<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/firdaus-al-faqi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Firdaus Al Faqi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lama banget.<\/p>\n","protected":false},"author":585,"featured_media":126479,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[11678,4463,12038,12037],"class_list":["post-126394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-pendidikan-terminal","tag-perjalanan","tag-relativitas","tag-return-trip-effect"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/585"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126394"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126394\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/126479"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}