{"id":126208,"date":"2021-06-23T11:07:47","date_gmt":"2021-06-23T04:07:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=126208"},"modified":"2021-10-26T15:33:12","modified_gmt":"2021-10-26T08:33:12","slug":"jerinx-nora-dan-kemarahan-yang-salah-sasaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jerinx-nora-dan-kemarahan-yang-salah-sasaran\/","title":{"rendered":"Jerinx, Nora, dan Kemarahan yang Salah Sasaran"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brak!!! Pardi, yang sedari tadi sekrol-sekrol gawainya mendadak menggebrak amben galar di emperan warung Yu Marmi. Kopi di cangkir kami meluber, menggenang di permukaan lepeknya, seiring dengan gebrakan tangan Pardi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang-orang ini udah pada mati hati nuraninya ya, Cak.\u201d ucapnya setengah marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto, menarik badannya yang sejak awal menyandar pada dinding anyaman bambu warung. Tidak keluar kalimat dari mulutnya. Ia hanya mendorong dagu ke arah Pardi diiringi mata yang sedikit membelalak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu ini kenapa, Pi, orang-orang siapa?\u201d tanya saya penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNetijen ini, Lur. Masak yang bikin kontroversi si suami yang diserang malah istrinya, sih\u201d jawab Pardi dengan tatapan masih ke arah gawainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ohhhhhh\u2026 serempak dan tanpa aba-aba kami bertiga merespon jawaban itu. Kami tahu tahu betul yang dimaksud Pardi adalah \u201cserangan\u201d warganet kepada Nora, istri Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead (SID) itu. Di tongkrongan, Pardi memang sudah terkenal sebagai seorang OutSIDer (sebutan untuk pemuda penggemar SID) kawakan sebelum akhirnya menikah dan membuka usaha sablon di seberang Koramil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, harusnya si Jerinx sedari awal sudah mengerti resiko dari sikap yang dia ambil, Di\u201d Kanapi berusaha memberikan pemakluman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudmu, Pi?\u201d kejar Pardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kanapi melipat kakinya, bersiap menjelaskan. \u201cBegini lho, Di, si Jerinx kan sudah sejak awal memilih mengambil posisi kontra di tengah hiruk pikuk pandemi ini. Statement-nya kan selalu kontroversial gitu. Pake segala bilang kalau Korona ini hoaks dan konspirasi. Kan berbahaya kalau seorang public figure yang punya banyak penggemar bikin pernyataan yang menyesatkan seperti itu? Ketika penjara tidak membuatnya melunak, wajar dong jika orang-orang dekatnya ikut dirujak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi bagian Jerinx kontroversial, aku setuju, Pi\u2026tapi kan itu nggak serta merta memberikan kita hak untuk merundung istrinya. Sampe brand-brand yang kerja sama Nora ikut diprovokasi. Itu kan membawa dampak ekonomis. Bukan kah itu namanya bengis. Zalim.\u201d Pardi tampak mbesengut membela idolanya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLagian\u2026\u201d pembelaan Pardi belum selesai rupanya, \u201cApa sih kemungkinan terburuk yang bisa terjadi jika Jerinx tetap pada sikapnya menjadi kontroversial? Dia kan cuma mengungkapkan opininya di ruang publik. Kalau memang opininya melanggar hukum, silakan dilaporkan ke polisi lagi. Kalau opininya dirasa konyol ya silakan ditertawakan. Kalau opininya bodoh tinggal tidak usah dibaca. Jangan malah keluarganya yang diserang!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar itu kami bertiga terdiam. Kami bertiga tahu kecintaan Pardi kepada SID dan Jerinx. Selalu terlihat pendar emosional di matanya ketika Ia berbicara tentang band dari Bali itu. Pardi bahkan menikahi seorang Ladyrose (sebutan untuk pemudi penggemar SID) yang Ia kenal dari perjalanan menumpang truk menuju konser SID di sebuah kota di pesisir utara Pulau Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak tahan dengan suasana hening, saya pun menyenggol ujung lutut Cak Narto yang sedari tadi diam. Tapi, Ia tetap bergeming.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi, Di\u2026\u201d Saya pun akhirnya mulai berargumen, semata agar keheningan malam ini terhenti, \u201cKalaupun Jerinx tidak setuju dengan narasi formal bahwa Covid itu nyata dan berbahaya, menurutku Ia tak perlu sefrontal itu ke pihak lain. Sampai menyerang selebriti dan lembaga-lembaga. Pake kata-kata yang pedas pula. Track record netijen kita kan sudah terbukti. Jangankan cuma seleb lokal, perusahaan raksasa sekelas Microsoft aja digergaji. Organisasi bulutangkis dunia aja dibikin hilang akunnya. Maka kalau Ia cuma diserang istrinya menurutku kok masih wajar ya. Ada aksi ada reaksi. Hehehe&#8230;\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi menjaga perasaan kawan, saya memilih mengakhiri pernyataan dengan tertawa datar. Tapi seperti putus asa, Pardi tampak tak lagi bergairah untuk berdebat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGimana menurut Sampean, Cak?\u201d Kanapi memaksa Cak Narto bersuara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHah&#8230;\u201d Ia hanya melenguh, terlihat tidak tertarik dan kembali menyandarkan punggungnya pada dinding warung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAyolah, Cak! setidaknya Sampean hibur sedikit si Pardi ini\u2026idolanya baru keluar penjara sekarang malah istrinya yang dirujak netijen. Kasihan betul ini, Cak.\u201d Kanapi mengatakan itu dengan nada sejenis mengolok. Sejurus kemudian Cak Narto menggerus kreteknya yang tinggal beberapa isap itu pada permukaan asbak di depan kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGini lho, nDessss.\u201d Meski terlihat tak bertenaga tapi saya menduga kalimat yang akan keluar dari mulut Cak Narto pasti akan panjang. \u201cDi masa ontran-ontran Korona seperti saat ini, semua orang tampaknya memang dalam mode marah-marah. Wajar. Situasi yang serba tak menentu. Orang banyak di-PHK. Banyak yang usahanya gulung tikar. Banyak yang ditinggalkan orang tercinta. Lantas kalau ada orang yang berdiri di posisi kontra dengan pandangan umum konsekuensinya ya jelas di-brakoti sama masyarakat. Sampek sini paham, to?\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto dengan cepat menyelipkan kretek di ujung bibir dan membakarnya lantas melanjutkan kalimatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku tidak sedang ingin ikut dalam palagan \u00adbrakot-brakotan netijen kepada Jerinx dan Istrinya, lho, Di\u2026\u201d Cak Narto melirik ke arah Pardi. \u201cMaksudku begini, di tahun kedua pagebluk Korona ini kalaupun harus ada yang diserang, dikecam, dikuliti, bahkan diadili itu sebenarnya ya pemerintah kita ini\u2026 kemarahan netijen ini salah sasaran sejak awal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSampean mbok jangan ikut-ikutan bikin pendapat kontroversial to, Cak!\u201d Ujar Kanapi mengingatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha gimana, Jerinx itu kan sebenarnya seperti kita-kita ini juga. Terombang-ambing di tengah ke-tidak jelas-an kebijakan pemerintah dalam mengelola pandemi. Tapi, bedanya Ia frontal dalam berpendapat di ruang publik dan kita hanya berani rasan-rasan di sini. Jika ada pihak yang tersinggung dengan kata-katanya yang pedas dan menohok, itu masalah pilihan reaksi saja. Tidak ada kata-kata yang membuat emosi, kita lah yang memasukkan emosi dalam kata-kata. Tidak ada rakyat yang pantas dipenjara hanya karena kata-kata.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi kan kata-katanya itu provokatif lho, Cak\u2026berbahaya jika ada penggemarnya yang percaya dengan narasi si Jerinx, Cak!\u201d Kali ini saya berusaha menggunting argumen Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau ada penggemarnya yang terprovokasi memangnya mereka bisa apa, sih? Kuncinya kan di kepastian dan penegakan hukum. Kalau ada yang ikut narasi Jerinx dan melanggar hukum, dengan tidak taat prokes di tempat umum, misalnya, ya ditindak saja, to. Kan sesederhana itu. Kalau harus ada pihak yang harus disalahkan menurutku, ya pemerintah, sejak awal tidak ada ketegasan dan kepastian. Dari awal pandemi rakyat disuguhi atraksi politisi, sirkus korupsi dana bansos, institusi kesehatan yang menggunakan alat rapid test bekas, dan berbagai ke-absurdan-an lainnya. Sejenak kita marah, lalu kemudian kita lupa, dan mencari siapa lagi yang patut disalahkan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nampak segaris kemarahan di ujung mata Cak Narto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalian itu sadar nggak sih, nDes, kondisi kebatinan Jerinx sebagai orang Bali. Buminya sudah dieksploitasi sedemikian rupa. Masyarakatnya dibikin bergantung dengan pariwisata. Begitu pandemi di depan mata dan ekonomi rakyat Bali amburadul yang mereka dapatkan hanya ketidakpastian. Diam-diam pemerintah menggelontorkan dana untuk men-endorse pariwisata Bali, dan tak berselang lama harapan itu ditumbangkan juga dengan kebijakan-kebijakan last minute. Maksudku, mbok ya jangan menghakimi Jerinx seolah dia kriminal gitu, lah, yang sesuai aja porsinya. Yang tepat sasaran gitu, lho. Kalau kalian hidup dalam ketidakpastian dan disuguhi atraksi absurd tak berkesudahan, maka percaya kepada konsipirasi itu rasanya cukup beralasan. Hehehe\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cak Narto tersenyum simpul seolah memberikan penghiburan kepada Pardi. Sejurus kemudian saya meraih papan karambol di bawah amben dan segera kami lupakan semua keriuhan dunia maya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan yang tak begitu deras membasahi tanah di emperan warung Yu Marmi malam itu. Angin yang datang bersamanya meniup tirai kumal yang bergantung pada daun jendela, entah sejak kapan. Daun pohon srikaya berterbangan membawa keputusasaan. Kilat di cakrawala seolah mengisyaratkan bahwa hanya harapan yang bisa membuat bertahan. Gelegar guntur yang bersahutan seakan berkata bahwa tak ada yang bisa diharapkan dengan meneriakan kemarahan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-bisa-diteladani-kaum-muda-dari-sosok-jerinx\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Hal yang Bisa Diteladani Kaum Muda dari Sosok Jerinx<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suwatno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suwatno<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mbok ya jangan menghakimi Jerinx seolah dia kriminal gitu, lah, yang sesuai aja porsinya. Yang tepat sasaran gitu, lho.<\/p>\n","protected":false},"author":1529,"featured_media":69639,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[9507,5257,1624,905,6546,11643,9194],"class_list":["post-126208","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-bali","tag-corona","tag-jerinx","tag-netizen","tag-nora","tag-pojok-tubir-terminal","tag-sid"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126208","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1529"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126208"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126208\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/69639"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}