{"id":125752,"date":"2021-06-18T11:00:28","date_gmt":"2021-06-18T04:00:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=125752"},"modified":"2021-10-26T15:59:21","modified_gmt":"2021-10-26T08:59:21","slug":"perbedaan-cara-menyajikan-teh-antara-orang-sunda-dan-orang-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-cara-menyajikan-teh-antara-orang-sunda-dan-orang-jawa\/","title":{"rendered":"Perbedaan Cara Menyajikan Teh Antara Orang Sunda dan Orang Jawa"},"content":{"rendered":"<p>Selama 20 tahun hidup di tanah Sunda, khususnya di Bandung, saya sebenarnya tidak terlalu suka teh. Baik manis ataupun tawar, ataupun beragam teh lainnya, sesungguhnya saya tak terlalu suka. Pada masyarakat Sunda, orang biasa menyajikan teh sebagai hidangan untuk tamu. Biasanya, sih, disajikan dengan sedikit gula. Itu pun gulanya sangat sedikit, sehingga manisnya benar-benar sebagai pemanis. Dengan begitu, gula tidak mendominasi rasa teh, melainkan rasa tehnya yang jauh lebih terasa.<\/p>\n<p>Walau menjadi salah satu minuman yang bisa dan biasa disajikan, hal tersebut tidak membuat orang Sunda mengutamakan menyajikan teh ketika ada tamu berkunjung. Teh sama derajatnya dengan kopi, air tawar, atau minuman lain yang rasanya lebih kuat seperti air jeruk atau air soda.<\/p>\n<p>Kalau orang rumah tidak ada pilihan lain selain teh, biasanya orang Sunda akan bertanya lebih dahulu kepada tamu, \u201cTehnya mau pakai gula atau tidak?\u201d, untuk memastikan tamu lebih suka teh manis atau tawar. Biasanya, kan, tamu suka sok-sokan menolak, \u201cAh, tidak usah, tidak perlu repot-repot.\u201d Tapi ketika sedikit dipaksa, \u201cTidak apa-apa, teh manis atau teh tawar?\u201d Barulah mereka akan menjawab dengan mesem-mesem, \u201cTeh manis saja kalau begitu, hehehe.\u201d<\/p>\n<p>Singkatnya, bagi orang Sunda, teh adalah menu minuman yang biasa saja, tidak diunggulkan atau diutamakan, dan terdapat pilihan ketika memesannya: manis atau tawar.<\/p>\n<p>Kebiasaan memandang teh pada orang Sunda ternyata berbeda dengan orang Jawa. Hal tersebut saya sadari setelah merantau kuliah ke Semarang. Dalam pengamatan saya, orang Jawa secara umum pasti menyukai teh manis. Teh manis seolah-olah menjadi primadona minuman di segala bentuk acara.<\/p>\n<p>Asumsi bahwa orang Jawa sudah pasti menyukai teh manis tak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman secara nyata. Ketika saya berbicara orang Jawa, hal tersebut tentu bukan hanya merujuk pada orang Semarang sebagai kota yang saya singgahi, melainkan berlaku secara umum untuk orang Jepara, Magelang, Kendal, Yogyakarta, Pati, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Di daerah orang Jawa, ketika saya masuk ke warung atau kedai makanan, dan saya memesan teh, pastilah yang datang teh manis. Padahal saya hanya berkata \u201cteh\u201d, tanpa kata lanjutan \u201cmanis\u201d. Kalau saya berkata es teh atau teh hangat, yang datang pun pasti teh manis. Sang pedagang pun tidak pernah bertanya terlebih dahulu, \u201cManis atau tawar?\u201d Padahal, kan, saya bisa saja ingin memesan teh tawar hangat.<\/p>\n<p>Kalau saya sedang ingin memesan teh tawar, saya sudah harus sigap dan berkata lengkap ketika memesan, \u201cMinumnya teh tawar, Mas\/Mbak.\u201d Karena kalau saya hanya menyebut teh, alhasil yang datang pastilah teh manis. Hal itu semacam menjadi kemutlakan ketika kita memesan teh di daerah orang Jawa tinggal, bahwa memesan teh berarti sama dengan teh manis.<\/p>\n<p>Kesadaran bahwa orang Jawa menganggap teh manis sebagai menu yang istimewa tak berhenti di situ. Dalam banyak acara yang saya kunjungi, baik itu acara nonformal seperti mengunjungi rumah teman atau acara formal seperti pengajian, minuman yang dihidangkan pasti teh manis. Pasti. Mutlak. Tingkat keniscayaannya sudah mencapai seratus persen dalam benak saya.<\/p>\n<p>Ketika mengunjungi beberapa teman, mereka biasanya menyediakan teh manis dalam jumlah yang banyak. Teh manis biasa disajikan langsung dengan tekonya. Sehingga kalau mau minum lagi, kita tinggal menuangkannya sendiri. Dari fenomena tersebut saya menangkap bahwa teh manis memiliki posisi yang tinggi dalam pandangan orang Jawa.<\/p>\n<p>Di masjid-masjid pun, baik ketika ada pengajian ataupun tidak, teh manis selalu ada. Ketika ada pengajian, jamaah diberi teh manis. Gelas-gelas berisikan teh manis hangat disodorkan ke depan setiap jamaah. Kalaupun tidak ada kajian, teh manis tersedia di dispenser. Sehingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-tempat-tinggal-bagi-mahasiswa-prasejahtera\/\">mahasiswa yang prasejahtera<\/a> bisa me-refill teh manis ke dalam tumblernya.<\/p>\n<p>Di tempat makan, rumah teman, hingga acara pengajian, teh manis selalu setia menemani. Sangat berbeda dengan ketika saya di Bandung, kalau mau pesan teh manis ya harus spesifik, es teh manis atau teh manis hangat. Kalau sedang berkunjung ke rumah teman ya pasti ditawari pilihan, mau teh manis atau teh tawar. Kalau ada pengajian rasanya tak pernah disuguhi secara langsung teh manis.<\/p>\n<p>Perbedaan tersebut sebenarnya tentu sangat sederhana, hanya pandangan dan kebiasaan soal cara menyajikan teh. Tapi, dari hal sederhana itu sedikit menggambarkan betapa kayanya khazanah kuliner orang Indonesia. Jayalah terus teh manis di komunitas orang Jawa, dan tetap setialah orang Sunda pada pilihan manis atau tawar!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/teh-prendjak-kamu-jahat-tapi-enak\/\">Teh Prendjak, Kamu Jahat tapi Enak<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/akbar-malik-adi-nugraha\/\">Akbar Malik Adi Nugraha<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Teh, kamu teh mau teh manis atau teh tawar?<\/p>\n","protected":false},"author":687,"featured_media":125785,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[11660,11355,2894,6047,2976],"class_list":["post-125752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner-terminal","tag-minum-teh","tag-orang-jawa","tag-orang-sunda","tag-teh"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/687"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=125752"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125752\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/125785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=125752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=125752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=125752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}