{"id":124870,"date":"2021-06-10T14:30:48","date_gmt":"2021-06-10T07:30:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=124870"},"modified":"2021-10-24T18:59:25","modified_gmt":"2021-10-24T11:59:25","slug":"alasan-sebenarnya-mahasiswa-mengerjakan-skripsi-ratusan-halaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-sebenarnya-mahasiswa-mengerjakan-skripsi-ratusan-halaman\/","title":{"rendered":"Alasan Sebenarnya Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Ratusan Halaman"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, tulisan ini beranjak dari tulisan mas Nasrulloh Alif, yang berjudul <em>\u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bikin-skripsi-sampai-ratusan-halaman-itu-buat-apa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bikin Skripsi Ratusan Halaman Itu buat Apa, sih?<\/a><\/em>\u201d. Sedangkan untuk posisi tulisan ini sendiri, saya sedikit bingung memposisikannya sebagai anti tesis atau hanya sekadar legitimasi dari tulisan mas Nasrulloh Alif. Mungkin para pembaca dapat menilainya sendiri, dengan menyimak lebih lanjut tulisan saya ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, saya sendiri sepakat dengan tulisan Mas Nasrulloh Alif dalam konteks tertentu, dengan beberapa dalih yang menyertainya. Terutama perihal betapa tidak efektifnya skripsi beratus halaman, seperti buang-buang duit untuk cetak, yang ujung-ujungnya jadi bungkus brambang. Belum lagi berapa pohon yang harus ditebang untuk skripsi-skripsi cetak itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika Mas Nasrulloh Alif hanya melihat dari sisi pembuat skripsi saja, alias mahasiswa, saya rasa kurang objektif. Justru banyak sekali teman-teman saya, seperjuangan mahasiswa akhir, mereka malah nggak menginginkan sama sekali mengerjakan skripsi hingga ratusan halaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, keinginan mereka nggak semudah itu untuk diaktualisasikan. Saya sendiri yang merupakan salah satu mahasiswa yang menginginkan halaman nggak banyak-banyak, yang penting berkualitas dan berbobot, justru terbentur banyak halangan yang mengakibatkan keinginan saya nggak terwujud.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa faktor mengapa mahasiswa mengerjakan skripsi ratusan halaman, meskipun ia tidak menginginkannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Dosen yang otoritatif<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu faktor yang paling dominasi perihal banyaknya halaman adalah dosen. Entah mengapa, kebanyakan dosen berpikiran bahwa skripsi yang baik adalah yang tebal. Bahkan ada dosen saya yang mengizinkan untuk bertele-tele, sehingga terkesan memiliki banyak halaman. Lah, kan guoblok, itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti dalam skripsi saya sendiri. Pada mulanya berjumlah nggak sampai ratusan halaman, melainkan hanya sekitar puluhan halaman saja. Dan menurut saya itu sudah menjawab rumusan masalah dan tujuan penelitian saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ketika saya konsultasikan dengan dosen pembimbing saya, beliau malah menyuruh menambahi isi skripsi saya dengan berbagai alasannya. Hingga ketika skripsi saya mencapai seratus lebih, baru dosen saya nggak komentar lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya saya nggak mau menentang dan nurut-nurut saja layaknya domba kepada penggembala. Namun, perlu kalian ketahui bahwa, seidealis-idealisnya mahasiswa yang menentang ketidaklogisan mengerjakan skripsi beratus halaman kepada dosennya, ketika dosen sudah menggunakan otoritasnya dengan berbagai ancaman yang menyertainya, lantas mahasiswa bisa apa? Toh, mahasiswa itu hanya ingin lulus saja, sudah cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri mengakui, bahwa sepinter-pinternya dosen, secerdas-cerdasnya dosen, sebanyak-banyaknya gelar yang dimiliki dosen, kalau mereka sudah menggunakan ego, saya yakin bahwa mahasiswa nggak bakal bisa melawan juga. Ya, bisa sih, tapi siap-siap menerima konsekuensinya saja. Mungkin ini juga dialami kebanyakan mahasiswa di Nusantara ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nilai tidak diukur dari kualitas, melainkan kuantitas<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini yang terjadi dengan kating saya. Entah mengapa, kating saya yang skripsinya hanya setebal buku arisan mendapatkan nilai C+. Sedangkan, mahasiswa pada umumnya yang mengerjakan skripsi hingga ratusan halaman mendapatkan nilai minimal B. Lantas, apakah skripsi kating saya memang tidak berkualitas, atau karena jumlah halaman skripsinya yang minim?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau menurut pengalaman saya, dan beberapa pengamatan saya kepada teman-teman saya sendiri, bahwa jumlah halaman sangat menentukan nilai skripsi mahasiswa. Ketika sidang skripsi berlangsung, saran dosen penguji skripsi yang sangat sering ditemui adalah saran untuk menambahkan isi skripsi mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah itu saran menambahkan argumen-argumen yang nggak jelas melebar ke mana-mana, bahkan saran agar menyertakan foto-foto bukti penelitian skripsi pun harus dimasukkan. Kalau dipikir-pikir, bukankah ini benar-benar memang mengejar banyaknya jumlah halaman, bukan kualitas?<\/span><\/p>\n<h4><b>Kultur skripsi ratusan halaman<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang beberapa mahasiswa yang meskipun memiliki keinginan mengerjakan skripsi dengan jumlah halaman sedikit, tapi ketika tau temannya mengerjakan skripsi berjumlah ratusan halaman, seketika itu juga ia akan minder. Mahasiswa tersebut bakal bimbang dan berubah pikiran untuk mengerjakannya pula seperti temannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep skripsi ratusan halaman yang bersumber dari perintah dosen, malah berujung jadi kultur dalam ruang lingkup mahasiswa akhir. Gara-gara kebanyakan mahasiswa mengerjakan hingga ratusan halaman, bikin mahasiswa yang berniat mengerjakan dengan jumlah halaman yang sedikit menjadi nggak pede.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu kalian ketahui, pikiran mahasiswa akhir itu benar-benar chaos. Sedikit pengaruh dari luar terkait skripsi, koyak sudah idealismenya. Mereka kerap menemui diri mereka dalam persimpangan hidup saat mengerjakan skripsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa faktor yang telah saya sebutkan di atas, kita jadi tahu bahwa mahasiswa mengerjakan skripsi hingga ratusan halaman itu nggak mutlak atas dasar keinginan batinnya. Melainkan banyak faktor yang melatarbelakanginya, bahkan memaksanya untuk mengerjakan skripsi hingga ratusan halaman.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bikin-skripsi-sampai-ratusan-halaman-itu-buat-apa-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bikin Skripsi Sampai Ratusan Halaman Itu buat Apa, sih?<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mohammad-maulana-iqbal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Mohammad Maulana Iqbal&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Mohammad Maulana Iqbal\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa tuh sebenernya nggak mau ngerjain skripsi ratusan halaman. Tapi, kadang keadaannya nggak mendukung mereka buat idealis.<\/p>\n","protected":false},"author":886,"featured_media":66542,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[11854,11858,469,11678,11857],"class_list":["post-124870","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-artikel-balasan","tag-bimbingan","tag-dosen","tag-pendidikan-terminal","tag-skripsi-ratusan-halaman"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124870","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/886"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124870"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124870\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124870"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124870"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124870"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}