{"id":124490,"date":"2021-06-11T06:28:59","date_gmt":"2021-06-10T23:28:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=124490"},"modified":"2021-11-16T12:39:06","modified_gmt":"2021-11-16T05:39:06","slug":"inflasi-penyebab-negara-tidak-mencetak-uang-yang-banyak-untuk-mengatasi-kemiskinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inflasi-penyebab-negara-tidak-mencetak-uang-yang-banyak-untuk-mengatasi-kemiskinan\/","title":{"rendered":"Inflasi, Penyebab Negara Tidak Mencetak Uang yang Banyak untuk Mengatasi Kemiskinan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada nggak sih dari kalian yang waktu masih bocil mempunyai pertanyaan kenapa sih negara tidak mencetak uang yang banyak jumlahnya sebagai solusi instan mengentaskan kemiskinan sekaligus sebagai sarana untuk membahagiakan hati rakyat? Apalagi kalau negara punya utang banyak misal sepuluh ribu triliun gitu. Buat bayar utang kan seharusnya tinggal mencetak uang sebesar nominal utang tadi. Cepat, mudah, dan solutif, bukan? Daripada harus capek-capek kerja lembur bagai kuda, mencari uang kesana dan kemari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang pernah punya angan-angan seperti itu berarti kita sefrekuensi, lur. Waktu masih bocil, saya pernah kepikiran hal tersebut sambil membayangkan kalau ada hujan duit dari pemerintah. Jadi si duit diobral dari atas helikopter. Uangnya bisa buat beli cilok sama es krim sepuasnya. Wuih, pasti asyik banget dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Membahagiakan rakyatnya kan gampang, kenapa negara tidak mencetak uang yang banyak ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, mimpi saya agar terjadi hujan duit dari pemerintah sepertinya tak akan pernah terwujud. Ternyata perihal urusan mencetak uang ada aturannya, lho. Terlalu banyak mencetak uang justru menjadi simalakama bagi perekonomian dalam negeri. Simalakama tersebut bernama inflasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inflasi merupakan kondisi di mana harga barang naik disebabkan banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kok bisa? Bisa, lah. Sederhananya ketika negara memutuskan untuk mencetak uang yang sangat banyak, maka jumlah uang yang ada di tangan masyarakat semakin banyak. Sehingga tingkat konsumsi barang juga meningkat yang tidak dibarengi dengan meningkatnya jumlah barang. Ketidakseimbangan antara jumlah uang dan jumlah barang inilah yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya menyebabkan kenaikan harga, terlalu banyak uang yang beredar justru akan menurunkan nilai uang itu sendiri. Jika diibaratkan dengan emas, emas berharga karena jumlahnya yang tidak banyak dan sukar dicari. Seandainya emas mudah ditemukan di sungai, tentu nilainya tak berharga. Hal serupa juga sama dengan uang yang berharga karena sukar dimiliki. Kejadian ini pernah dialami Jerman pasca Perang Dunia. Jerman yang kalah perang diharuskan membayar denda dan memutuskan mencetak uang yang sangat banyak. Hal ini membuat uang beredar sangat banyak di masyarakat sehingga uang tak bernilai. Bahkan saking tak berharganya,\u00a0 saat itu uang dijadikan layangan, bahan bakar buat masak, sampai dibuat sebagai bungkus gorengan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, ada gorengan nggak sih di Jerman?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita perhatikan dengan saksama, sebenarnya nilai mata uang dari waktu ke waktu memang mengalami penurunan. Kira-kira 15 tahun lalu, dengan uang sepuluh ribu kita bisa membeli tiga mangkok bakso sudah lengkap dengan es teh manis. Kalau sekarang, dengan uang sepuluh ribu paling cuma dapat semangkok bakso, belum sama es tehnya. Penurunan nilai uang terhadap bakso disebabkan karena adanya inflasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inflasi nggak selamanya buruk, ya. Justru dengan mengalami inflasi menandakan perekonomian tumbuh karena daya konsumsi masyarakat tinggi. Dengan catatan, inflasinya sehat. Masih di kisaran 10% ke bawah. Enggak kayak di Zimbabwe yang mengalami inflasi sampai 650% alias hiperinflasi. Buat beli sekilo telur saja, kita harus merogoh dua miliar dolar Zimbabwe karena hiperinflasi yang memporak-porandakan perekonomian negara di Benua Afrika tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah alasan kenapa negara tidak mencetak uang yang banyak untuk menutup semua utang dan membahagiakan rakyat. Yang ada rakyat justru menderita gara-gara hal tersebut. Nah, kalau nanti ada yang nanya kenapa negara tidak mencetak uang yang banyak, kalian bisa sodori artikel saya. Mayan, jadi femes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, jangan coba bikin uang sendiri, ya. Selain menyebabkan inflasi, kasihan tenaga dan tinta printer kalian untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berguna. Selain itu, penjara sudah siap menantimu kalau sampai berani mencetak uang secara ilegal. Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, ya. Tapi, ada hal yang jika dilakukan berlebihan dampaknya bikin kamu tambah pintar dan bahagia, membaca artikel di Mojok misalnya.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Eh.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/krisis-ekonomi-membayangi-jangan-dengarkan-lagu-lagu-orba-ayo-menabung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Krisis Ekonomi Membayangi, Jangan Dengarkan Lagu-lagu Orba \u2018Ayo Menabung\u2019!<\/a>\u00a0<\/b><b>dan tulisan<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/annisa-herawati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<b>Annisa Herawati<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillah komisaris.<\/p>\n","protected":false},"author":831,"featured_media":80760,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[1986,11863,11683,5393,11864],"class_list":["post-124490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-ekonomi","tag-inflasi","tag-keuangan-terminal","tag-negara","tag-utang-negara"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124490","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/831"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124490"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124490\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}