{"id":124123,"date":"2021-06-05T12:00:54","date_gmt":"2021-06-05T05:00:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=124123"},"modified":"2021-11-16T12:43:09","modified_gmt":"2021-11-16T05:43:09","slug":"3-alasan-papa-zola-boboiboy-layak-dinobatkan-sebagai-dad-bod-masa-kini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-papa-zola-boboiboy-layak-dinobatkan-sebagai-dad-bod-masa-kini\/","title":{"rendered":"3 Alasan Papa Zola \u2018BoBoiboy\u2019 Layak Dinobatkan sebagai &#8216;Dad Bod&#8217; Masa Kini"},"content":{"rendered":"<p>Membaca ulasan Mas Agus Mulyadi di Mojok beberapa waktu lalu yang membahas \u201cDad Bod\u201d dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/agm\/pojokan\/tren-menunjukkan-perempuan-lebih-suka-pria-dad-bod-berperut-buncit-ketimbang-pria-berperut-six-pack\/\">tulisannya, <\/a>mengingatkan saya akan tokoh Papa Zola dalam film animasi <em>BoBoiBoy.<\/em> Tapi ini debatable, ya. Siapa tahu Saudara punya figur lain yang lebih pas. Suaminya sendiri barangkali?<\/p>\n<p>Istilah \u201cDad Bod\u201d sendiri merujuk lelaki yang perutnya buncit. Saat ini, jujur kita akui saja bahwa pria-pria berperut buncit banyak disukai kaum perempuan. Banyak yang mengaku merasa nyaman jika berada dalam circle para \u201cDad Bod\u201d ini alih-alih para cogan yang lebih memilih ke fitness center demi menjaga proporsionalitas tubuhnya.<\/p>\n<p>\u201cNarsis!\u201d ungkap salah seorang teman dekat perempuan saya dulu sewaktu saya lebih memilih nge-gym rutin ketimbang menemuinya dadakan. Itu dulu. Saat saya sedang senang-senangnya mengejar target perut bak papan cucian berjenjang kotak-kotak alias six pack. Nggak heran, menurut\u00a0American Psychological Association, kepribadian narsistik memang ditandai dengan perhatian kepada diri sendiri secara berlebihan.<\/p>\n<p>Kita kembali lagi ke Papa Zola, sesuai judul tulisan ini. Saya pikir seorang Papa Zola memang layak dinobatkan sebagai representasi \u201cDad Bod\u201d masa kini. Begini alasannya.<\/p>\n<p><em><strong>Pertama<\/strong>, <\/em>Papa Zola memiliki bentuk khas \u201cDad Bod\u201d. Fisik Papa Zola saya pikir merepresentasikan apa yang dimaksud Mas Agus Mulyadi dalam tulisannya. Dengan perutnya yang buncit, Papa Zola sukses mewakili para lelaki masa kini yang suka mager alias males gerak, doyan rebahan tinimbang sepedahan, hahaha.<\/p>\n<p>Sebenarnya stigma orang buncit sebagai orang yang mager nggak pas juga, sih. Lha wong dia makan mulutnya gerak, pencernaan jalan, masih mau dibilang mager? Belum lagi gimana caranya dia makan kalau nggak dibeli dulu? Gimana beli makanannya coba? Ya pasti dia bergerak. Entah jalan kaki, entah pesan online. Lah duitnya? Kan dia kerja, gerak juga. Jadi nggak mungkin nggak gerak, pasti gerak, meski nggak banyak.<\/p>\n<p>Saya menjadikan diri saya sendiri sebagai contoh \u201cDad Bod\u201d ini. Dulu saya sangat menjaga proporsi tubuh saya. Jabatan instruktur fitness pernah saya sandang\u2014meski tak lama, keburu kerja bidang administrasi. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Setelah memasuki jenjang pernikahan, zona nyaman pun saya rasakan. Mulai malas berolahraga. Lebih memilih nonton Netflix ketimbang jogging. Apalagi sejak WFH di masa pandemi berjalan, tambah malas berolahraga. Tak ayal, perut pun tambah membuncit.<\/p>\n<p>Apalagi selama masih banyak yang dagang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membela-harkat-dan-martabat-gorengan-yang-disinggung-lee-jae-hong-pelatih-fisik-timnas-indonesia\/\">gorengan<\/a>, berjamuran restoran fast food, maka perut buncit akan selalu potensial dalam setiap peradaban, hiya toh? Dan nggak heran juga karena Indonesia memang negeri subur makmur loh jinawi, berlimpah makananannya, bertaburan kulinernya, hehehe.<\/p>\n<p>Saya nggak bisa membayangkan apa yang terjadi jika akhirnya ada \u201cGerakan Anti Makanan Siap Saji\u201d atau \u201cMasyarakat Anti Jajanan Gorengan\u201d gara-gara orang takut perutnya buncit. Sudah pasti pada bangkrut usaha kuliner tersebut dari level pedagang gorengan jalanan hingga restoran fast food.<\/p>\n<p><strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, di balik body-nya yang memang uyelable, ternyata Papa Zola sangat humble dan family man. Pun memiliki jiwa sosial yang memang tinggi, buktinya blio rela membela kebenaran dari kezaliman di muka bumi. Wow, uwu sekali. Dan figur-figur seperti ini banyak kita temukan di sekitar kita. Donatur-donatur yang rendah hati dan nggak sayang mengeluarkan donasinya untuk kepentingan sosial. Nggak heran banyak perempuan yang merasa nyaman dan nggak merasa insecure berada dekat tipe pria ini yang kadang kala akrab dipanggil \u201cOm\u201d.<\/p>\n<p><strong><em>Ketiga<\/em><\/strong>, saat Papa Zola masih muda, dia tampaknya sangat ambisius. Dia ingin menjadi banyak hal. Ia pernah mengatakan ingin menjadi pahlawan super, guru matematika, wasit sepak bola, dan guru pendidikan jasmani. Dan akhirnya ia realisasikan saat usia dewasa. Selain mempunyai kemampuan super, Papa Zola pun didapuk menjadi guru untuk mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani di Sekolah Rendah Pulau Rintis.<\/p>\n<p>Ambisi Papa Zola tersebut saya pikir merepresentasikan para pejuang ekonomi saat ini\u2014yang karena kondisi dan peluang terbatas, akhirnya harus bisa apa saja di tengah situasi pandemi yang belum berakhir. Banyak yang mencoba peruntungan berdagang online, namun banyak pula yang banting stir memilih membuka usaha kecil-kecilan. Mulai dari berdagang sayur-sayuran hingga menjadi driver ojek online atau mobil online saat usahanya bangkrut. Artinya, kita nggak harus memegang teguh idealisme saat masih kuliah dulu\u2014yang bekerja harus sesuai jurusan kuliah. Realita pascalulus kuliah ternyata bukan fiksi, melainkan fakta yang harus dihadapi.<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: YouTube <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=dlB7NCLRgS4\">Monsta<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/penjaskes\/stop-membersihkan-telinga-pakai-cotton-bud\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stop Membersihkan Telinga Pakai Cotton Bud Kalau Nggak Mau Cedera<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Suzan Lesmana&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/suzan-lesmana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Suzan Lesmana<\/a>\u00a0<\/span>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karakter Papa Zola dalam serial BoBoiBoy adalah representasi dad bod masa kini. Iya, dad bod yang identik dengan perut buncit itu.<\/p>\n","protected":false},"author":1247,"featured_media":124176,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12908],"tags":[11663,11793,10087,1212,11799],"class_list":["post-124123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-anime","tag-anime-terminal","tag-boboiboy","tag-karakter-kartun","tag-kartun","tag-papa-zola"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1247"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124123"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124123\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/124176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}