{"id":12393,"date":"2019-09-06T12:15:05","date_gmt":"2019-09-06T05:15:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=12393"},"modified":"2019-09-06T15:21:02","modified_gmt":"2019-09-06T08:21:02","slug":"waspada-kalimat-kalimat-ini-menandakan-rencana-bakal-jadi-wacana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/waspada-kalimat-kalimat-ini-menandakan-rencana-bakal-jadi-wacana\/","title":{"rendered":"Waspada! Kalimat-Kalimat Ini Menandakan Rencana Bakal Jadi Wacana"},"content":{"rendered":"<p>Sedang merencanakan liburan atau pertemuan dengan sahabat dalam waktu dekat ini? Atau sebentar lagi rencana itu hampir terlaksana? Jika iya, betapa beruntungnya kalian. Karena banyak di luar sana orang-orang yang merencakan liburan atau pertemuan bahkan saat jauh-jauh hari, berujung pada kegagalan rencana. Rencana pun berakhir jadi sebuah wacana dan terkadang lenyap begitu saja seolah-olah tidak pernah dibicarakan sebelumnya.<\/p>\n<p>Ada konsisten pasti ada inkonsisten. Inkonsisten diartikan sebagai ketidak-konsistenan seseorang terhadap sesuatu yang sedang dihadapi. Ketidak konsistenan ini bukan hanya pada ucapan janji. Ketidak konsistenan juga bisa muncul dalam perbincangan seputar rencana pertemuan yang menimbulkan batalnya rencana dan akhirnya jadi wacana. Ketidak konsistenan itu bisa dilihat melalui beberapa kalimat yang jadi indikasinya.<\/p>\n<p><strong>1. Aku ngikut aja deh<\/strong><\/p>\n<p>Merencanakan pertemuan dengan teman lama di akhir pekan atau di <a href=\"https:\/\/tirto.id\/musim-liburan-telah-tiba-bijaklah-agar-tidak-stres-dctT\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">musim libur<\/a> adalah hal yang sangat menyenangkan. Sekian lama tidak bertemu, saling <a href=\"https:\/\/mojok.co\/fmg\/ulasan\/otomojok\/kereta-ekonomi-pemersatu-hati-yang-rindu-pemisah-hati-yang-tak-ingin-terpisah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">rindu<\/a>, lalu bersama mereka kita merencanakan sebuah pertemuan. Perbincangan rencana reuni itu pasti akan menjadi topik hangat yang bisa meramaikan ruang obrolan WAG.<\/p>\n<p>Sudah seru menyatakan saling kangen, lalu muncul pertanyaan, \u201cdi mana nih kita ketemunya?\u201d oleh salah satu teman. Pertanyaan itu kemudian disusul oleh jawaban, \u201caku ngikut aja deh\u201d, \u201ciya aku ngikut kalian aja\u201d, \u201cngikut cuy\u201d dan kalimat-kalimat lain yang senada menyatakan kata \u201cngikut\u201d. Waspada! Kalimat itu bisa mengindikasikan batalnya rencana <em>meet up<\/em> atau berlibur bersama.<\/p>\n<p>Kalimat \u201caku ngikut aja deh\u201d muncul karena ketidaktahuan atau kebingungan seseorang atas suatu tempat yang akan dijadikan lokasi pertemuan. Hanya saja jika kalimat ini digunakan oleh banyak orang bisa jadi pertanda ketidak konsistenan. Karena adanya kalimat itu juga dapat mengarahkan rencana pada sebuah ketidakpastian. Sudah buat rencana ketemu, tapi tempat ketemunya belum dipastikan. Alamat rencana jadi wacana.<\/p>\n<p><strong>2. Terserah sih enaknya dimana<\/strong><\/p>\n<p>Meskipun kalimat ini bisa dikategorikan sebagai kalimat ajaibnya cewek (seperti kata orang kebanyakan), ternyata saat sedang merencanakan pertemuan tidak jarang kalimat ini juga diucapkan oleh cowok.<\/p>\n<p>Setelah tanggal ketemuan sudah pasti, ternyata ada hal lain yang belum dipastikan\u2014adalah lokasi ketemu. Hal yang biasanya terakhir dibicarakan setelah basa-basi kangen dan tanggal ketemu adalah lokasi ketemuan. Ya nongkrong dimana gitu atau jalan kemana gitu. Tapi saat ditanyakan dimana tempat ketemuan jawaban yang didapat adalah \u201cterserah sih enaknya dimana\u201d. <em>Ding dong<\/em>\u2014siap-siap rencana batal.<\/p>\n<p>Siapa yang suka bilang kangen, bilang ketemu, tapi saat ditanya ketemuan dimana jawabnya malah, \u201cterserah sih enaknya di mana.\u201d Diucapkan oleh satu orang tidak masalah, tapi akan jadi masalah jika hampir semua orang \u00a0bilang \u201cterserah sih enaknya dimana\u201d. Karena akan jadi pertanda ketidak konsistenan yang bikin rencana jadi wacana. Sebaiknya waspada dansiapkan <em>plan B!<\/em><\/p>\n<p><strong>3. Duh tapi aku bokek!<\/strong><\/p>\n<p>Beruntunglah ketika ada seseorang yang mengambil jalan tengah soal dimana tempat <em>meet up<\/em>. Ini berarti tanggal dan tempat sudah bisa dipastikan. Bahagia karena akan reuni dengan teman lama semakin menggebu. Rasanya sudah tidak sabar dan ingin lekas hari-hari berlalu cepat agar segera bertemu.<\/p>\n<p>X: \u201cOke, kita ketemu di kafe POJOKAN ya? Iya yang POJOK bukan yang di tengah-tengah. Hahaha!\u201d<\/p>\n<p>Y: \u201cDuh, tapi aku bokek!\u201d<\/p>\n<p>Z : \u201cIya nih, aku juga. Maklum masih tanggal tua. Belum gajian kitorang\u2026 \ud83d\ude41 \u201c<\/p>\n<p>X: \u201cSembarang rek, sembarang!\u201d<\/p>\n<p>Bisa jadi kalimat \u201cduh, tapi aku bokek!\u201d adalah kode buat dapat traktiran. Tapi apa daya, karena sama-sama terjebak dalam masa bokek, ya mau tidak mau harus pakai sistem BDD alias <em>bayar dhewe-dhewe.<\/em> Masih tanggal tua tapi tanggal ketemuan sudah dipastikan. Waspadai kalimat semacam itu. \u201cDuh, aku bokek\u201d jadi pertanda seseorang berubah tidak konsisten dengan keinginan <em>meet up<\/em>-nya. Bisa jadi rencana akan berujung jadi wacana.<\/p>\n<p><strong>4. Eh, maaf aku absen dulu, ternyata aku ada janji lain sebelumnya<\/strong><\/p>\n<p>Semua sudah dipastikan dan tinggal eksekusi. Ternyata H- beberapa menit sebelum pertemuan dilakukan, beberapa orang justru menghilang dan <em>slow respon<\/em> di WAG. Konfirmasi ulang pun dilakukan, \u201cwoi, ini jadi nggak?\u201d Tidak ada respon. Lalu kalimat, \u201cini aku udah mau berangkat nih.\u201d Dijawab <em>slow respon<\/em>.<\/p>\n<p>Setelah berjam-jam melebihi jam <em>meet up<\/em> yang sudah ditetapkan, ternyata banyak anggota WAG yang \u00a0<em>slow respon<\/em> bahkan tidak merespon sama sekali. Karena tidak mendapat tanggapan, beberapa orang yang siap menuju lokasi pun mulai putus asa.<\/p>\n<p>Y : \u201cEh, maaf aku absen dulu, ternyata aku ada janji sebelumnya.\u201d<\/p>\n<p>Z : \u201cIya nih, aku lupa aku udah bikin janji sebelumnya. Aku juga absen dulu ya. Semoga bisa ketemu lain waktu.\u201d<\/p>\n<p>X : \u201casdjwkkfckksnorioktpmbftdcvbn!!!111!!\u201d<\/p>\n<p>Jika sudah begitu yang harus dilakukan adalah sabar dan berpikir positif. Bukannya lebih enak jika beristirahat di rumah dan menghemat pengeluaran karena batal <em>meet up<\/em>? Hidup itu simpel kok, mereka-mereka aja yang ribet. <em>wqwq\u00a0<\/em>(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-penasaran-dengan-cerita-horor-kkn-desa-penari-indikasi-seseorang-ber-iq-tinggi-benarkah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tidak Penasaran dengan Cerita Horor KKN Desa Penari Indikasi Seseorang Ber-IQ Tinggi: Benarkah?<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ade-vika-nanda-yuniwan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ade Vika Nanda Yuniwan<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rencana pun berakhir jadi sebuah wacana dan terkadang lenyap begitu saja seolah-olah tidak pernah dibicarakan sebelumnya.<\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":12529,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[401,249,3173,2842],"class_list":["post-12393","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kritik-sosial","tag-pertemanan","tag-rencana","tag-wacana"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12393","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12393"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12393\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12529"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12393"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12393"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12393"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}