{"id":123735,"date":"2021-06-02T07:00:45","date_gmt":"2021-06-02T00:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=123735"},"modified":"2021-06-04T10:35:39","modified_gmt":"2021-06-04T03:35:39","slug":"harga-parkir-dan-makanan-nuthuk-di-jogja-adalah-warisan-feodal-paling-ra-mashok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/harga-parkir-dan-makanan-nuthuk-di-jogja-adalah-warisan-feodal-paling-ra-mashok\/","title":{"rendered":"Harga Parkir dan Makanan &#8216;Nuthuk&#8217; di Jogja Adalah Warisan Feodal Paling Ra Mashok"},"content":{"rendered":"<p><em>Harga parkir dan makanan di tempat wisata Jogja mahal? Oh, itu memang warisan feodal.<\/em><\/p>\n<p>Lagi-lagi Jogja jadi buah bibir. Sayang sekali, kali ini bukan perkara UMR humble atau angka positif COVID-19 yang langgeng membahayakan. Sebenarnya masalah yang jadi buah bibir itu sudah \u201comongan lawas\u201d. Bahkan sejak Jogja jadi jujugan wisata yang masyur diromantisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Yak, perkara harga makanan \u201cnuthuk\u201d alias memukul. Maksudnya adalah harga makanan yang semena-mena mahalnya. Mungkin banyak dari Anda yang sudah bosan dengan perkara ini. Toh, masalah harga nuthuk ini tidak pernah usai. Bahkan beberapa orang di media sosial merasa harga nggatheli ini sebagai sebuah hal normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum tuntas geger perkara harga makanan, muncul lagi geger serupa. Kali ini yang disorot adalah harga parkir. Salah satu akun media sosial mengeluhkan harga parkir mobil yang dipandang terlalu mahal. Apalagi untuk harga parkir di pinggir jalan raya tanpa valet. Kalau 10 ribu sampai 15 ribu mungkin masih oke meskipun tetap kemahalan. Ini sampai 25 ribu rupiah!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak teori konspirasi berseliweran perkara harga nuthuk ini. Yang paling dianggap logis ya perkara sewa lahan yang kelewat mahal. Baik sewa lahan untuk warung ataupun \u201csewa\u201d lahan parkir. Banyak yang mengamini perkara ini karena Jogja memang terkenal punya harga tanah mahal. Mungkin sudah pantas bersaing dengan Beverly Hills di Amerika Serikat sana. Jadi maklum, sajian yang sederhana seperti pecel lele bisa seharga dinner di hotel. Dan parkir mobil di jalan bisa seharga parkir valet di hotel berbintang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teori ini memang logis dan mudah diterima. Semudah menerima kenyataan bahwa Jogja sudah tidak murah lagi. Jadi cukup sekian jawaban dari kisruh harga parikr dan makanan ra mashok di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enak saja! Jawaban seperti di atas hanya seperti upah nulis di soal esai. Seadanya dan tidak menelisik dari sudut pandang yang lebih dalam. Masalah makanan dan parkir di Jogja tidak sesederhana itu. Setidaknya menurut apa yang telah saya telisik selama ini. Lantaran, harga nuthuk bisa ditarik akar masalahnya dari budaya yang tertanam di benak masyarakat Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, saya coba untuk memahami logika harga nuthuk ini. Sebagai insan yang tinggal di tengah titik wisata Jogja. Saya punya banyak narasumber yang jelas-jelas mematok harga mahal pada barang atau jasa yang dijual. Sebagai contoh saja, harga air mineral yang biasanya 3 ribuan bisa dijual 6 ribu rupiah bahkan lebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban yang saya terima hampir seragam. Intinya: kan wajar kalau jualan di daerah wisata. Menurut para pedagang, orang yang plesiran harus bisa menerima harga yang lebih mahal ini. Pasalnya, para pedagang memberi kelebihan yaitu tersedia di tengah tempat wisata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa kalau kemahalan, bawa dari rumah saja tho,\u201d jawab salah satu penjual minuman ringan di suatu tempat wisata di pusat Jogja. Ditekankan bahwa orang yang plesir ke Jogja pasti punya cukup uang untuk dihabiskan. Jadi harga makan dan parkir nuthuk (harusnya) tidak perlu dipermasalahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau nggak punya uang, ya jangan plesiran. Piknik itu kalau punya uang saja!\u201d Tegas salah satu tukang parkir yang untungnya saya kenal. Ditambahkan, kalau mau parkir murah bisa parkir di kantong parkir yang tersedia. Yah, meskipun luasnya terbatas dan kadang jauh dari lokasi wisata. \u201cNanti podho wae, harus sewa transport lagi tho,\u201d tukas mas parkir teman saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, inilah kunci untuk memahami logika harga nuthuk. Dan saya cukup yakin, jawaban serupa bisa mudah Anda temukan. Bahkan di grup Facebook yang narimo ing pandumnya makrifat itu. Kuncinya adalah pandangan bahwa wisatawan adalah kelompok manusia dengan latar belakang ekonomi berlebih. Sudut pandang demikian menjadi pemakluman ketika ada \u201charga lain\u201d untuk wisatawan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin cara pandang seperti ini menjadi khas destinasi wisata. Namun, saya ingin menggali logika lebih dalam sampai era feodal. Saya pikir, masyarakat feodal yang menjadi leluhur rakyat Jogja ini mewariskan sudut pandang yang nggatheli tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat feodal kelas bawah bukanlah masyarakat yang doyan plesir. Bahkan banyak yang terjebak di tempat lahirnya sampai meninggal. Lihat saja, bagaimana sebuah desa bisa didominasi satu dua klan yang diakibatkan isolasi ini. Bahkan yang berani merantau saja sudah bisa diacungi jempol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagipula, zaman dulu mau plesiran ke mana? Destinasi wisata alam pada masa itu terlalu wingit untuk jadi jujugan wisata. Dari gunung sampai pantai punya keangkeran sendiri yang mencegah orang menikmati indahnya seenak udel. Hiburan masa itu sangat kolektif dan terpusat di balai desa masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa golongan yang mampu dan mau berdarmawisata? Ya, golongan priyayi dan orang berada. Untuk Anda yang berpenghasilan di bawah UMR Kasultanan Mataram, mohon bersabar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya logika yang saya jelaskan tadi bisa terbentuk. Niat aji mumpung pada pendatang yang plesir dianggap normal. Lha wong jarang-jarang juga ada yang mau berwisata. Apalagi ketika masyarakat kolonial Belanda mulai ngosak-ngasik Jogja. Wah, betapa kagumnya masyarakat melihat manusia gagah besar berkulit putih dan membawa pundi-pundi uang. Sebenarnya ini erat kaitannya dengan budaya ra mashok foto bareng bule. Namun, kita fokus dulu, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha namanya juga aji mumpung, wajar jika akhirnya pola nuthuk harga ini lahir. Sayang sekali, logika dan metode ini dipertahankan ratusan tahun kemudian. Ketika masyarakat sudah berubah, dan plesiran tidak lagi jadi privilege orang berduit semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka wajar jika narasi, \u201cKalau mahal jangan makan (atau parkir) di sini!\u201d Lha wong logika ra mashok ini masih tertanam apik. Memandang wisatawan sebagai kelompok berduit yang bisa dihisap uangnya menjadi hal lumrah. Sayang sekali, budaya (yang katanya) adiluhung tetap meninggalkan logika pekok seperti harga nuthuk ini. Tapi gimana lagi, kan istimewah! Kepala orang yang melintas di jalan bisa dituthuk alias dipukul klitihers. Apalagi dompet wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Anda yang merasa jadi korban nuthuk harga ini, berbahagialah. Anda dipandang sebagai borjuis sekelas kumpeni pada masanya. Ya, meskipun Anda liburan dengan dana minim dan demi kesehatan mental. Nggak apa-apa oleh-oleh khas Jogja tidak cuma bakpia. Namun, juga struk belanja berharga nuthuk. Itung-itung jadi konten yang mudah viral daripada foto estetis yang Anda ambil dengan susah payah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bagi Anda yang masih memandang nuthuk itu baik dan perlu, ya monggo dilanjut. Setidaknya, Jogja akan selalu masyur karena budayanya. Pasalnya, Jogja memang terbuat dari UMR humble, ancaman klitih, dan harga nuthuk.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-destinasi-wisata-terbaik-di-masa-pandemi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span class=\"postTitle\">Jogja, Destinasi Wisata &#8216;Terbaik&#8217; di Masa Pandemi <\/span><\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Prabu Yudianto<\/a> lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belum tuntas geger perkara harga makanan, muncul lagi geger serupa. Kali ini yang disorot adalah harga parkir.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":123736,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[11763,115,446,11643,3224],"class_list":["post-123735","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-harga-parkir","tag-jogja","tag-malioboro","tag-pojok-tubir-terminal","tag-wisata"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123735"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123735\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/123736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}