{"id":123379,"date":"2021-05-31T11:01:43","date_gmt":"2021-05-31T04:01:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=123379"},"modified":"2021-12-28T15:29:27","modified_gmt":"2021-12-28T08:29:27","slug":"mengenal-salon-de-the-francois-kafe-sarang-aktivis-legendaris-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-salon-de-the-francois-kafe-sarang-aktivis-legendaris-di-jepang\/","title":{"rendered":"Mengenal Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois, Kafe Sarang Aktivis Legendaris di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sejak kapan ceritanya warung kopi (warkop) identik sebagai markasnya para aktivis, \u201cprovokator\u201d, dan jenis-jenis kaum \u201csubversif\u201d lainnya. Mulai dari para sosialis Paris yang hobi ngopi di kafe, sampai hipster Amerika yang demen mabok St@rb#ck. Sepertinya banyak banget kisah para \u201canti-establishment<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang bermula dari pojok kedai kopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa harus di warung kopi sih? Kenapa nggak di tempat lain aja? Mungkin karena selain warkop biasanya buka 24\/7 (kebanyakan sih tutup suka-suka yang punya), warkop juga menyajikan minuman dan jajanan yang harganya cocok untuk para pejuang demokrasi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang sebagian besar anak kos<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bagi kalian yang juga mungkin sering nongkrong, diskusi, debat, public speaking<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">essay writing, dan aktivitas-aktivitas serupa di warkop. Kegiatan aktivis hobi nongkrong di warkop sekiranya bukan kearifan lokal kita aja. Sebab, di Jepang, ada kafe yang jadi tujuan wisata karena sejarahnya sebagai sarang aktivis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terletak di Kyoto, Jepang, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois menjadi pemandangan yang cukup unik bila dibandingkan bangunan-bangunan yang berada di sekitarnya. Dibangun sebagai kafe dan tempat berkumpul bagi golongan terpelajar, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois didirikan oleh Sh\u014dichi Tateno setelah sang pemilik bercita-cita untuk mendirikan kafe dengan spirit sosialisme dan seni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai latar belakang, Sh\u014dichi Tateno sendiri merupakan salah satu tokoh aktif dalam gerakan buruh Jepang yang muncul sekitar tahun 1930-an, dan nantinya bahkan keuntungan dari kafe yang didirikannya seringkali dia sumbangkan untuk Partai Komunis Jepang yang saat itu masih illegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibangun pada 1934, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois sebelumnya merupakan rumah perkotaan tradisional Jepang yang dibongkar oleh Tateno untuk dijadikan sebagai kafe bergaya Eropa. Nama dari cafe ini sendiri diambil dari kecintaan Sh\u014dichi pada pelukis berkebangsaan Prancis, Jean-Fran\u00e7ois Millet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama masa berdirinya, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois telah menarik berbagai macam orang dengan ideologi yang berbeda-beda ke dalamnya. Namun, golongan pengunjung yang menjadi langganan paling sering adalah para kaum cendekia dari kelompok sosialis dan komunis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah dibahas singkat sebelumnya, keuntungan yang dihasilkan dari warkop satu ini menjadi sumber keuangan rahasia bagi Partai Komunis Jepang saat itu. Namun selain menjadi penghasil uang kas, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois juga menjadi salah satu tempat distribusi dari koran anti-fasis Jepang, &#8220;Doy\u014dbi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, walau aktivitas gelap kafe ini terbilang sudah cukup rahasia, dan tempatnya yang juga nggak persis di samping jalan raya (bahasa gaulnya hidden gem), desas-desus mengenai sang pemilik yang merupakan aktivis anti-fasis akhirnya sampai juga di kuping pemerintah fasis Jepang. Pada 1937, beberapa waktu setelah perang Sino-Jepang bermula, Sh\u014dichi dan beberapa aktivis lainnya dipenjarakan oleh pemerintah atas dasar mengganggu ketertiban dan aksi-aksi subversif. Dengan begitulah untuk sementara kafe basecamp<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya aktivis ini terpaksa untuk ditutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya kisah eksistensi tempat ngopi ini nggak berakhir di situ aja. Sekeluarnya dari penjara, Sh\u014dichi kembali membuka kafe-nya dan mulai berpikir untuk re<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">design. Dengan bantuan dari beberapa temannya\u2014termasuk seorang teman dari Italia, Alessandro Bencivenni\u2013Sh\u014dichi mengubah konsep kafe-nya dengan sentuhan gaya Baroque dan Renaissance. Tidak hanya itu, karena hukum melarang penamaan sesuatu menggunakan bahasa &#8220;musuh&#8221;, Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois sempat berubah nama menjadi \u201cMiyako Sab\u014d\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau Perang Pasifik berkecamuk pada 1941, kafe terus berjalan seperti biasa tanpa ada gangguan yang signifikan. Bisnis terus berjalan dengan normal hingga akhirnya terpaksa untuk ditutup pada akhir 1944 karena persediaan makanan yang menurun dan frekuensi serangan bom dari Sekutu yang terus meningkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seusai perang, \u201cMiyako Sab\u014d\u201d diubah kembali ke nama sebelumnya. Dan dengan berakhirnya rezim fasis di Jepang, Sh\u014dichi Tateno kembali bebas melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya dilarang oleh pemerintah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sayangnya keadaan bebas ini nggak bertahan lama. Memasuki Perang Dingin, kondisi Jepang yang saat itu menjadi sekutu Amerika melawan \u201cbahaya merah\u201d Rusia dan Tiongkok, membuat aktivitasnya tetep harus dilakukan secara diam-diam. Bagi kalian yang tertarik mau ngeliat tempatnya, sampai sekarang tempatnya masih buka dan bisa dijadiin nongkrong kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir lagi, memang bener sih kalau kafe tuh jadi tempat terbaik untuk diskusi atau bahkan sekedar ngobrol aja. Sekiranya konsep warkop dan angkringan tidak pernah hadir di benak manusia, kira-kira diskusi paling enak dilakuin di mana lagi ya?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/aktivis-mahasiswa-tuh-yang-kayak-gimana-sih\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aktivis Mahasiswa tuh yang Kayak Gimana sih?<\/a> Aktivis Mahasiswa tuh yang Kayak Gimana sih? dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raffyanda-muhammad-indrajaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Raffyanda Muhammad Indrajaya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_top\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salon de th\u00e9 Fran\u00e7ois didirikan Sh\u014dichi Tateno setelah sang pemilik bercita-cita untuk mendirikan kafe dengan spirit sosialisme dan seni.<\/p>\n","protected":false},"author":1123,"featured_media":67296,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[6301,11737,11642,1213,6856,10604,11736],"class_list":["post-123379","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-aktivisme","tag-antiofasisme","tag-gaya-hidup-terminal","tag-jepang","tag-kafe","tag-perang-dunia","tag-salon-de-the-francois"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123379","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1123"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123379"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123379\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/67296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123379"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123379"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123379"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}