{"id":123344,"date":"2021-06-01T11:00:30","date_gmt":"2021-06-01T04:00:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=123344"},"modified":"2021-11-16T12:49:24","modified_gmt":"2021-11-16T05:49:24","slug":"kenapa-ada-ponggol-setan-tapi-nggak-ada-ponggol-syari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-ada-ponggol-setan-tapi-nggak-ada-ponggol-syari\/","title":{"rendered":"Kenapa Ada Ponggol Setan, tapi Nggak Ada Ponggol Syar&#8217;i?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana pekerjaan lain pada umumnya, memasak juga seringkali menemukan titik jenuhnya. Kalau hal tersebut terjadi, tidak ada pilihan lain selain beli makanan di luar.\u00a0 Itulah yang saya alami beberapa hari yang lalu. Kehabisan ide menu masakan berpadu dengan rasa bosan karena terlalu sering berkutat dengan asap dapur membuat saya memutuskan untuk beli makanan siap santap untuk menu makan malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ketika melihat banyak gerobak penjual ponggol setan di sepanjang jalan, saya jadi tergerak untuk menemukan jawab: kenapa ada ponggol setan tapi tidak ada ponggol syar\u2019i? Padahal kan biar seimbang harusnya kalau ada ponggol setan, juga ada ponggol syar\u2019i, dong? Syar\u2019i aja, deh. Biar lebih aman. Sebab, nggak mungkin juga kan kasih nama ponggol malaikat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat yang belum tau, ponggol setan itu sebenarnya nasi bungkus biasa, Hyung. Hanya saja lauknya bercitarasakan pedas dan dijual hanya pada sore sampai malam hari. Tapi, seumur-umur tinggal di Tegal, belum pernah tuh saya lihat ada yang jualan ponggol syar\u2019i! Sejauh mata memandang setan semua, eh, ponggol setan semua, kenapa, ya? Dan setelah dilakukan analisis mendalam, saya akhirnya menemukan alasan mengapa sampai detik ini tidak pernah ditemukan adanya ponggol syar\u2019i.<\/span><\/p>\n<h4><b>Lebih fleksibel<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai sebuah kata, \u201csetan\u201d memang lebih (((fleksibel))). Dijadikan sebagai umpatan? Oke. Untuk mendeskripsikan kelakuan manusia yang nggak ada akhlak pun oke. Termasuk kalau di-gathuk-ke ke makanan.\u00a0 Asal makanan itu pedas, merah membara seperti api\u2014sumber penciptaan setan, cocok-cocok aja disambung dengan kata \u201csetan\u201d, seperti : Bakso setan, rawit setan, ponggol setan, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda dengan syar\u2019i. Okelah kalau syar\u2019I itu dilekatkan dengan industri fashion. Baju-baju dengan ukuran besar dan panjang yang menutupi aurat, layak menyandang nama baju syar\u2019i. Lha kalau makanan namanya ponggol syar\u2019i, nanti penampakannya bagaimana? Apa iya semuanya dibuat jadi serba panjang? Orek tempenya dibikin panjang-panjang dan nasinya dibungkus daun dengan cara memanjang? Itu mah lontong!<\/span><\/p>\n<h4><b>Setan sudah biasa \u201cdizalimi\u201d manusia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun berat, tapi fakta ini sulit dibantah. Setan, sudah biasa \u201cdizalimi\u201d manusia. Ketika ada hal-hal buruk atau nyeleneh, setan dan kawan-kawannya seringkali jadi kambing hitam. Ada orang yang nggak kelihatan ngantor, tapi duitnya banyak, dikira piara tuyul. Ada bocah rewel, dianggap ketempelan genderuwo sampai-sampai si bocah harus ditenggelamkan di bak. Bahkan termasuk untuk urusan penamaan makanan. Cabai rawit yang merah pedas, sama kang sayur dan ibu-ibu disebut sebagai rawit setan. Ada nasi ponggol bercitarasa pedas yang dijual malam hari, dikasih nama ponggol setan. Duh. Nggak ada harganya banget setan di mata manusia.<\/span><\/p>\n<h4><b>Minim konflik<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penggunaan nama setan dkk sebagai nama makanan itu minim konflik. Memangnya kalian pernah baca, ada berita Aliansi Setan Bergerak mendemo warung yang menyediakan menu dengan embel-embel setan? Atau petisi menolak penggunaan nama setan pada makanan, yang dikeluarkan oleh Paguyuban Setan Sejahtera? Belum pernah ada, tho? Coba kalau makanan pakai embel-embel keagamaan. Wah, bisa dikecam, tuh. Orang orang bisa pada demo karena dianggap penistaan agama. Bahaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pribadi meskipun suka dengan makanan pedas, tapi untuk menyebut makanan yang pedas dengan embel-embel \u201csetan\u201d di belakangnya kok ya masih abot. Ponggol ya ponggol aja. Rawit ya rawit aja. Bukannya takut para setan bakal tersinggung. Tapi, di benak saya ini, makanan itu kan sesuatu yang penuh keberkahan, halah kok namanya disandingkan dengan makhluk yang dikenal tukang bikin rusuh??? Ra mashoook!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wawancara-dengan-cheetos-jagung-bakar-sumber-micin-yang-sebentar-lagi-punah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Wawancara dengan Cheetos Jagung Bakar, Sumber Micin yang Sebentar Lagi Punah<\/strong>\u00a0<\/a><b>dan<\/b><b>\u00a0artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dyan-arfiana-ayu-puspita\/\"><b>Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buat yang belum tau, ponggol setan itu sebenarnya nasi bungkus biasa, Hyung. Hanya saja lauknya bercitarasakan pedas.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":66814,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[11660,462,440,11749,2857],"class_list":["post-123344","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner-terminal","tag-makanan","tag-pedas","tag-ponggol-setan","tag-tegal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123344","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123344"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123344\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/66814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}