{"id":123330,"date":"2021-05-31T13:00:35","date_gmt":"2021-05-31T06:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=123330"},"modified":"2021-12-28T16:29:07","modified_gmt":"2021-12-28T09:29:07","slug":"3-sisi-positif-ngomongin-dosen-yang-para-mahasiswa-perlu-tahu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-sisi-positif-ngomongin-dosen-yang-para-mahasiswa-perlu-tahu\/","title":{"rendered":"3 Sisi Positif Ngomongin Dosen yang para Mahasiswa Perlu Tahu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tergelitik membaca tulisan Mas Moh Rivaldi Adul dengan judul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-bukan-agen-perubahan-tapi-agen-perebahan-dan-perghibahan-dosen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa Bukan Agen Perubahan tapi Agen Perebahan dan Pergibahan Dosen <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">yang asik untuk ditanggapi, yang menganggap gibahin dosen itu salah besar dan harus segera tobat. Kayaknya anggapan tersebut sangat dangkal, nge-gibah atau ngomongin dosen tidak sepenuhnya salah. Ada sisi positifnya juga lho, Mas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Patut disadari bahwa sebagai mahasiswa kita dituntut untuk peka terhadap lingkungan sosial, maupun tatanan struktural, dengan alasan mahasiswa adalah penerus tongkat estafet kepemimpinan. So, jika kita tidak dilatih untuk peka dan dan bersikap kritis pada lingkungan sosial, perubahan yang dicita-citakan dari dulu akan sulit terealisasi. Lha wong mahasiswa aja pada menutup mata akan keadaan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini ngomongin dosen bagi saya adalah hal yang sah-sah saja atau hal yang lumrah, tentunya dengan batas kewajaran atau etika kesopanan masing-masing. Lebih tepat adalah review perkuliahan, biar lebih halus bahasanya agar tidak mengaburkan makna dari gibah itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, ngomongin dosen yang dianggap salah ketika sudah pada batas ketidakwajaran. Saya istilahkan hal tersebut sebagai maido, yang berarti mengolok-olok. Tentu sebagai insan akademis tidak dibenarkan menggunakan kata umpatan yang membuat sakit hati orang lain apalagi sengaja melukainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kita tidak perlu duduk bersama menentukan garis yang tidak boleh dilewati. Sebagai insan yang berpikir, kita sendiri sudah tau kata-kata apa yang tidak boleh diucapkan dan bahasan mana yang tak perlu diulik saat ngomongin dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski kegiatan ini nggak bisa dibilang baik, sebenarnya ada beberapa sisi positif ngomongin dosen.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, muhasabah diri. Kita pasti perlu introspeksi diri terlebih ketika masih duduk di bangku perkuliahan. Dosen yang dianggap killer bagi mahasiswa biasanya lebih bisa memberikan efek kejut untuk menyadarkan mahasiswa agar tidak mengulanginya lagi. Ketika dosen tersebut memberikan efek kejut, misalnya tidak meluluskan, kita tidak boleh langsung menyalahkan, memaki, apalagi sampai dibuat story. Intropeksi diri dulu aja, jangan-jangan memang kitanya yang salah. Seringnya sih, emang kitanya yang salah.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, ajang diskusi sampai pagi. Dosen yang sering menjadi bahan perbincangan adalah dosen yang lemah dalam memberikan argumen. Bahkan kita tidak bisa memahami penjelasannya. Hal ini menjadi topik yang akan seru jika dibahas di warkop, akan bisa berlanjut sampai pagi diskusi terkait penjelasan dosen yang nggak jelas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, untuk bekal oleh tingkat. Kita punya tanggung jawab moral untuk membagikan pengalaman perkuliahan kepada adik tingkat. Kenapa? Agar tidak terjerumus dalam jurang ketidaklulusan yang mengakibatkan penundaan pernikahan. Maka dari itu review perkuliahan\u2014kata halus dari ngomongin dosen\u2014sangat dibutuhkan untuk mahasiswa baru sebagai bekal menjalani kerasnya bangku perkuliahan. Karakter, penilaian, dan kedisiplinan adalah materi wajib dalam memberikan wejangan untuk adik tingkat. Ketidaktahuan mereka tentang seluk beluk dosen sering menjadi bumerang bagi mahasiswa yang masih dalam masa perkembangan. Jadi, ngomongin dosen dengan segala dinamikanya itu perlu dan penting. No debat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa manfaat review perkuliahan alias ngomongin dosen bagi para mahasiswa. Gibah, pada titik tertentu memang memuakkan. Postingan Lambe Turah adalah contoh sahih. Tapi, jika gibah dibalut dengan esensi akademis, hal tersebut bisa memberi efek positif. Intinya, ngomongin dosen itu nggak salah-salah amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal ngomonginnya nggak di kantor jurusan, nah itu baru goblok.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-bukan-agen-perubahan-tapi-agen-perebahan-dan-perghibahan-dosen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mahasiswa Bukan Agen Perubahan tapi Agen Perebahan dan Perghibahan Dosen<\/a> dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-rizal-firdaus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Muhammad Rizal Firdaus<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_top\" rel=\"noopener\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski kegiatan ini nggak bisa dibilang baik, sebenarnya ada beberapa sisi positif ngomongin dosen.<\/p>\n","protected":false},"author":1090,"featured_media":29324,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[469,10753,34,9092,11643],"class_list":["post-123330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-dosen","tag-gibah","tag-mahasiswa","tag-perkuliahan","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1090"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123330"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123330\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/29324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}