{"id":123242,"date":"2021-05-30T16:00:52","date_gmt":"2021-05-30T09:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=123242"},"modified":"2021-12-21T16:41:58","modified_gmt":"2021-12-21T09:41:58","slug":"liberalisasi-ekonomi-ditinjau-dari-peluit-tukang-parkir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/liberalisasi-ekonomi-ditinjau-dari-peluit-tukang-parkir\/","title":{"rendered":"Liberalisasi Ekonomi Ditinjau dari Peluit Tukang Parkir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPriiit\u2026 \u201c Sederhana namun menggelisahkan. Betapa tidak, bunyi itu adalah tanda untuk mengocek kantong dan\/atau membuka dompet untuk mengambil uang dua ribu untuk bayar parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya berlaku di mall atau kantor. Minimarket, ATM, bahkan warung miso di jalan Adam Malik Siantar pun bayar (enak, Fren). Saya pengin sebut namanya, tapi nggak usah. Jasa misonya tidak akan saya lupakan hanya karena saya disakiti bangabang parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di paragraf sebelumnya dapat dibaca bahwa parkir berbayar di mal atau kantor adalah hal yang lumrah. Tapi, kalau dipikir-pikir makin kurang ajar jugak. Kita menggocek kantong bukan lagi untuk memarkirkan kendaraan, bahkan sekadar lewat atau mengantar penumpang. Portal parkir kini shares the same energy dengan pintu tol. Mau lewat bayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bukan cuma parkir kerah putih yang makin kurang ajar. Bangabang parkir pun kuliat makin sukaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ambil contoh warung miso di jalan Adam Malik Siantar di seberang tadi. Misonya enak, nggak usah dibahas. Parkirnya yang kurang ajar. Nggak peduli mau sebentar atau lama, mau bungkus atau makan di situ, atau mau beli atau enggak. Berhenti = bayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak keberatan membayar parkir tidak peduli resmi atau tidak. Terlebih parkir on street maupun off<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">street yang retribusi maupun pajaknya masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Saya ini anaknya into kemandirian daerah banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, makin ke sini sepertinya ada pergeseran yang geser kali. Dulu, logika parkir harus bayar di toko-toko, atau warung-warung ya karena selama kita berbelanja, kendaraan kita dijaga. Jadi, lahan parkir itu gratis disediakan oleh toko atau warung. Itu bahkan cuma sebagian, karena sebagian besar malah menggratiskan lahan parkir sekaligus pelayanannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang, kita membayar untuk berhenti. Sesaat setelah kunci sepeda motor diputar ke kiri hingga berbunyi \u201cklik\u201d atau \u201cc&#8217;tek\u201d, saat itulah bangabang parkir bangkit dari kursi plastiknya. Bangabang parkir beranjak sangat cepat, bak hiu ketika mencium darah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya cuma bonceng kakak atau ibu saya ke warung miso. Nggak makan di situ. Bungkus. Saya menunggu di motor karena memang nggak bakal lama. Lima menit selesai. TAAAPIII, pas saya mulai mundur; \u201cPriiiit\u201d pun mulai berbunyi dengan syahdu. Saya be like \u201chello!?, kan saya dari tadi di atas motor, ini duit buat apaa?? Like seriously? Omg hellow\u201d. Tentu saja saya ucapkan itu dalam hati. Saya introvert.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasa hancur. Filosofi parkir yang seharusnya adalah sesungguhnya pada hakekatnya dan sebenar-benarnya merupakan bentuk pelayanan konsumen kini telah terkomodifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPriiiit\u201d bukan lagi lambang pelayanan serta pemantik senyum dan \u201cmakasih bang, *klakson dua kali*\u201d. Seiring perkembangan zaman ia malah jadi penghuni catatan pengeluaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keengganan pemilik usaha untuk menggratiskan lahan parkir ini merupakan gambaran nyata liberalisasi ekonomi. Seolah-olah terpatri di kepala bahwa asal bisa diuangkan dan menambah penghasilan, kenapa harus gratis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang dalam ilmu ekonomi ada frasa terkena \u201cthere\u2019s no such things as free lunch\u201d. Tapi, hey! Kan saya udah bayar misonya. Mau lunch, dinner, atau breakfast juga bukan urusan anda! Pokoknya saya bayar. Kenapa pas saya pulang ditagih duit lagi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Protes saya ini bukan semata soal angka. Ini soal filosofi. Mengkomersialkan sesuatu yang seharusnya sudah bagian dari pelayanan adalah gejala. Cara pandang kita sebagai makhluk ekonomi makin parah, hingga mengatasi peran kita sebagai makhluk sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas, saya mendeklarasikan dukungan terhadap parkir on street maupun off street karena menyumbang nominal yang cukup besar ke dalam Pendapatan Asli Daerah. Namun, bukan berarti tidak terdapat masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parkir on street tampaknya masih perlu dibuatkan regulasi baru. Ya, keuntungan daerah itu satu hal. Tapi, memakan bahu jalan hingga menyebabkan kemacetan itu outcome yang tidak main-main. Sekali lagi ini gejala. Bahkan pemerintah yang memang peran utamanya melayani menomorduakan pelayanan setelah keuntungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tidak perlu ada hirarki soal mana yang lebih perlu. Namun, gap yang sudah tidak masuk akal antara pelayanan dan pencarian keuntungan meniscayakan hal tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali lagi kepada kita manusia secara umum, ini merupakan gejala. Bukan tidak mungkin jika suatu saat pemilik warung miso langganan saya di atas menjadi Presiden Republik Indonesia, lahir tarif berjalan di atas trotoar, raskin seharga caviar, atau bahkan sekolah negeri ber-SPP setara tarif bimbel logo gajah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk hal kemacetan mungkin bisa dihadirkan regulasi yang mewajibkan pemilik usaha menyediakan lahan parkir sekian meter untuk mencegah kemacetan. Nggak papa lah bayar, asal jangan dibentak orang lewat pas mau keluar parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara pandang \u201ckalau bisa mendatangkan duit, kenapa harus gratis\u201d pada hakikatnya memang berbahaya. Bagaimana jika suatu siang saya sangat lapar dan memutuskan ke warung miso tadi dengan uang pas satu porsi miso?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-anti-kapitalisme-bukan-orang-gila\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Anti-kapitalisme, Bukan Orang Gila<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dion-kristian-cheraz-pardede\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0Dion Kristian Cheraz Pardede<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/kontakmojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayar terooos.<\/p>\n","protected":false},"author":1299,"featured_media":88183,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[11683,11733,11732,792],"class_list":["post-123242","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-keuangan-terminal","tag-komersialisasi-layanan","tag-lahan-parkir","tag-tukang-parkir"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123242","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1299"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=123242"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/123242\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88183"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=123242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=123242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=123242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}