{"id":122571,"date":"2021-05-26T11:00:55","date_gmt":"2021-05-26T04:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=122571"},"modified":"2022-01-06T16:57:38","modified_gmt":"2022-01-06T09:57:38","slug":"mengupas-jawaban-terserah-perempuan-hingga-tujuan-komunikasi-mereka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengupas-jawaban-terserah-perempuan-hingga-tujuan-komunikasi-mereka\/","title":{"rendered":"Mengupas Jawaban Terserah Perempuan hingga Tujuan Komunikasi Mereka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam sebuah kelas pragmatik waktu itu, ada sebuah topik yang dibahas dengan menarik, yakni mengenai politeness and gender<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pada waktu itu, ada satu kelompok yang sebelumnya memaparkan materi kemudian lima kelompok lain memberikan pertanyaan pada kelompok yang presentasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena hari itu bukan kelompokku yang presentasi, maka kami berkesempatan untuk memberikan pertanyaan. Pertanyaan kelompokku adalah; Adanya perbedaan tuturan antara laki-laki dan perempuan menurut Mills (2004) dilakukan bukan untuk menunjukkan posisi perempuan yang subordinat, melainkan untuk mencapai tujuan komunikasi masing-masing jenis kelamin. Secara eksplisit, Mills mengatakan bahwa tujuan komunikasi laki-laki dan perempuan itu berbeda, lalu apa tujuan komunikasi laki-laki dan apa tujuan komunikasi perempuan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kukirimkan pertanyaan itu pada presentator, aku berdiskusi terlebih dahulu dengan teman sekelompokku mengenai pertanyaanku tadi, Ahmad Riza Fauzi. Kala itu terjadi diskusi yang sangat seru antara kami berdua. Riza bukannya menghiraukan pertanyaanku, dia malah membuka diskusi lain. Ia masih sempat-sempatnya bertanya hal yang sangat umum terkait komunikasi-pergenderan-. Tanya Riza padaku, \u201cMbak kalau cewek ditanya \u2018pengen makan apa\u2019 terus jawabnya \u2018terserah\u2019, itu kek mana Mbak?\u201d dilanjut dengan bumbu-bumbu curhat yang entah based on<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">his<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">experience atau bukan, \u201cAkhirnya diajak makan bakso, malah ngambek, soalnya pengennya nasi kucing *tiga emot tersenyum mengeluarkan air mata*\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur waktu itu aku tertawa membaca pertanyaan Riza. Itu adalah pertanyaan umum yang mungkin sampai sekarang belum ada orang yang mau memaparkan jawabannya. Dan sedihnya, karena memang nggak ada yang mau memaparkan jawabannya, jawaban \u2018terserah\u2019nya perempuan ketika ditanya mau makan apa sering dijadikan dasar pembentukan stigma bahwa perempuan adalah makhluk yang sangat rumit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal sebetulnya, jika menyandarkan argumen pada pernyataan Simone de Beauvoir, sangat masuk akal ketika perempuan sering menjawab terserah ketika diberi pertanyaan mau apa pun pertanyaannya. Bukan karena wanita selalu benar, melainkan karena konstelasi sosial yang ada. Konstelasi sosial sejak dahulu kala, menurut de Beauvoir menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua atau second sex. Kedudukan perempuan yang berada di kelas nomor dua itulah, menjadikan mereka sebagai makhluk yang jarang mengambil keputusan. Perempuan bukan tidak pandai untuk menentukan sesuatu atau tidak mampu menentukan sesuatu, tapi tatanan sosial menganggap apa yang diputuskan perempuan pastilah sebuah petaka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berapa banyak argumen ahli atau non-ahli yang mengamini hal tersebut, bahkan ormas sebesar NU pun pernah mengeluarkan keputusan dari bashul masail<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">tahun 1961 yang isinya menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi kepala desa kecuali dalam keadaan memaksa. Rujukannya apa? Jelas pada kitab mizan kubro yang di dalamnya ada bunyi hadist \u201cTidak akan pernah sukses suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan\u201d (Saadah &amp; Farida, 2019). Ada beberapa lagi pembahasan bashul masail yang dimaklumatkan oleh NU yang menurut Saadah dan Farida (2019) menjadi penghalang terciptanya hubungan gender yang adil, tapi kupikir pemaparan di atas sudah cukup mendukung argumenku yang mempercayai bahwa perempuan dalam hal pengambilan keputusan, tidak begitu dipertimbangkan eksistensinya. Setidaknya itu jawaban yang dapat kupersembahkan untuk pertanyaan Riza, teman sekelompokku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya mengenai jawaban dari presentator terhadap pertanyaanku tadi, mereka percaya bahwa tujuan komunikasi laki-laki dan perempuan memang berbeda. Laki-laki cenderung berkomunikasi untuk menunjukkan kekuatan yang mereka punya, sedangkan perempuan melakukan komunikasi untuk tujuan menjaga solidaritas dengan mitra bicaranya. Jika ditinjau dari segi kebahasaan, laki-laki tidak lebih sering mengucapkan terima kasih atau meminta maaf dibanding perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku seratus persen setuju dengan pernyataan mereka, tapi aku ingin jawaban yang lebih dari itu, sebenarnya. Aku pernah membaca tulisan milik Deborah Tannen dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">You Just Don\u2019t Understand<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Di halaman awal, Tannen memaparkan bahwa tujuan laki-laki dan perempuan berbahasa itu memang sangatlah berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh cara pandang mereka terhadap dunia. Jika laki-laki memandang dunia sebagai sebuah kontestasi, perempuan memandang dunia sebagai sebuah koneksi. Pandangan tersebut terbentuk dalam benak laki-laki dan perempuan sesuai dengan bagaimana tatanan sosial memperlakukan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh tatanan sosial, laki-laki dianggap sebagai makhluk unggul yang kuat, sehingga apapun yang muncul dari dirinya baik dari segi sikap, perilaku, bahasa, harus menunjukkan kekuatan. Sementara itu, perempuan dianggap sebagai makhluk nomor dua yang bahkan untuk berdiri di atas kakinya sendiri ia tidak mampu. Pandangan tersebut membuat perempuan harus mengumpulkan kekuatan dengan membentuk koneksi antar sesamanya karena jika ia hanya berdiri sendiri, ia akan dianggap sebagai sebuah makhluk lemah yang tak berdaya. Fakta tersebut mengingatkanku pada sebuah dialog dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Moxie<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cFemales gotta stick together. Number one untapped resource, women. Lady Power.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-harusnya-nggak-benci-laki-laki-karena-kesetaraan-itu-saling-melengkapi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perempuan Harusnya Nggak Benci Laki-Laki Karena Kesetaraan Itu Saling Melengkapi <\/a><\/b><b>dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/layliyatul-faiqiyah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Layliyatul Faiqiyah<\/a><\/b><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h6>\n<h6><b><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><\/b>\u00a0<b><i><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/i><\/b><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terserah~<\/p>\n","protected":false},"author":578,"featured_media":56465,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1718,11674,2164,122,2082],"class_list":["post-122571","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gender","tag-hubungan-terminal","tag-komunikasi","tag-perempuan","tag-terserah"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122571","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/578"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122571"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122571\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122571"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122571"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122571"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}