{"id":12250,"date":"2019-09-05T11:00:55","date_gmt":"2019-09-05T04:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=12250"},"modified":"2019-09-05T13:31:42","modified_gmt":"2019-09-05T06:31:42","slug":"tidak-ada-tempat-bagi-rasisme-di-dunia-ini-sekalipun-dalam-sepak-bola","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-ada-tempat-bagi-rasisme-di-dunia-ini-sekalipun-dalam-sepak-bola\/","title":{"rendered":"Tidak Ada Tempat Bagi Rasisme di Dunia Ini, Sekalipun Dalam Sepak Bola"},"content":{"rendered":"<p>Di zaman modern seperti saat ini, rasisme memang selalu menjadi musuh bersama dalam kehidupan sehari-hari. Sebelumnya, saya pikir rasisme hanya terjadi di kalangan sesama orang Indonesia dalam memanggil berdasarkan asal daerah orang tersebut\u2014bahkan warna kulit. Namun, tentu sekira 20 tahun lalu pemikiran saya masih sempit, belum sempat terpikirkan apa efek dari rasisme atau mengapa seseorang begitu membenci orang lain sehingga <a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-kebencian-terhadap-etnis-tionghoa-bFLp\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">merendahkan ras<\/a> tertentu.<\/p>\n<p>Kala itu, yang saya pikirkan hanyalah bermain dengan sebanyak mungkin teman tanpa mempedulikan dari mana mereka berasal dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/iad\/esai\/agama-saya-agama-warisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">apa agama mereka<\/a>. Yang saya dan teman-teman tahu, kami bermain untuk mendapatkan keceriaan dan keseruan tanpa mengenal waktu. Kami berhenti hanya pada saat merasa lelah. Kemudian beristirahat sejenak, lalu kembali bermain hingga diminta pulang oleh orang tua kami.<\/p>\n<p>Hal itu bukan hanya dongeng atau isapan jempol belaka. Pada masanya, beberapa tahun silam semua orang pernah merasakan hal tersebut\u2014pada waktu kecil. Sampai akhirnya\u2014entah kapan dan dari mana asalnya\u2014perilaku rasis menggerogoti rasa kemanusiaan seseorang dalam berbagai bidang, salah satunya dalam olahraga\u2014sepak bola.<\/p>\n<p>Seperti yang terjadi baru-baru ini pada lanjutan gelaran Liga Premier Inggris beberapa pekan lalu saat menghadapi Wolverhampton Wanderers, pemain Manchester United, Paul Pogba, menerima serangan rasisme dari pendukung United sendiri saat gagal mengonversi pinalti menjadi gol. Ucapan tidak pantas hingga menyebutkan nama binatang ditujukan kepada Pogba sebagai bentuk kekecewaan dari beberapa fans.<\/p>\n<p>Kecewa itu wajar, apalagi sebagai fans yang ingin melihat tim kesayangannya dapat memenangkan pertandingan. Namun, perilaku rasis terhadap pemain sendiri tentu tidak dapat dibenarkan. Karena insiden tersebut, sontak Manchester United dan beberapa pemain memberikan dukungan kepada Pogba melalui akun media sosial resminya masing-masing.<\/p>\n<p>Tercatat ada nama David de Gea, Marcus Rashford, Jesse Lingard, bahkan rekrutan anyar Manchester United, Harry Maguire pun ikut menyuarakan dukungannya terhadap Paul Pogba, yang pada intinya setuju jika rasisme sudah selayaknya dihilangkan dari segala tatanan kehidupan sosial\u2014termasuk dalam sepak bola. Dan sudah selayaknya, banyak fans datang berbondong-bondong ke stadion untuk mendukung tim kesayangannya, bukan untuk menghina pemain lawan dengan nada rasis.<\/p>\n<p>Selain Paul Pogba, pemain yang baru-baru ini terkena serangan rasisme adalah Romelu Lukaku, pemain rekrutan anyar Inter Milan dari Manchester United, saat timnya bermain dengan Cagliari. Yang janggal dan terasa aneh bagi saya adalah, justru para fans ultras Inter Milan cenderung mengatakan bahwa aksi para fans Cagliari bukanlah merupakan masalah besar di Italia. Mengutip dari Goal Indonesia, dalam surat terbuka, disebutkan oleh Curva Nord bahwa hal itu termasuk bagian dari dukungan yang diberikan untuk tim kesayangan mereka (Cagliari) dan merupakan bentuk pengakuan atas kualitas pemain.<\/p>\n<p>Ayolah, ada banyak cara dalam mengakui kualitas pemain lawan. Seperti yang dilakukan oleh para fans Real Madrid beberapa tahun silam kepada Ronaldinho yang ketika itu berseragam Barcelona. Kala itu, Ronaldinho bermain baik dan menciptakan satu gol yang indah. Pada waktu yang bersamaan, para fans Madrid memberi <em>standing applause<\/em> sebagai bentuk penghargaan kepada pemain tim lawan yang\u2014harus dinilai secara objektif\u2014bermain sangat baik sampai menciptakan gol indah.<\/p>\n<p>Lagipula, dari banyaknya cara memberi dukungan kepada tim, kenapa harus memilih menyampaikan ungkapan rasis? Jika memang niatnya ingin menjatuhkan mental lawan, saya pikir tidak perlu sebegitunya. Bahkan yang saya sering dengar melalui layar kaca, jika ingin meruntuhkan mental salah satu pemain lawan, biasanya para fans menyoraki dengan kata \u201c<em>boo<\/em>\u201d sekeras mungkin. Dan tak jarang, cukup dengan menerima hal tersebut, pemain lawan menjadi gugup dan hilang konsentrasi.<\/p>\n<p>Jauh sebelum itu, seorang Mario Balotelli pun pernah merasakan hal yang sama, diserang dengan ungkapan rasis saat bermain. Lalu, tak lama setelah diganti dengan pemain lain, Super Mario\u2014julukan Balotelli\u2014menangis, karena seharusnya dalam sepak bola tidak lagi ada kasus rasis yang melibatkan suporter pun pemain.<\/p>\n<p>Lain halnya dengan Daniel Alves, mantan bek kanan Barcelona itu memiliki cara tersendiri dalam menanggapi kasus rasis yang diterimanya. Dalam suatu pertandingan, saat hendak mengambil sepakan pojok dia dilempar pisang oleh fans tim lawan. Alih-alih merasa kesal, dia malah langsung memakan pisang tersebut dan tetap melanjutkan pertandingan.<\/p>\n<p>Sejatinya, selain memiliki nilai bisnis yang terbilang tinggi, sepak bola dimainkan dan menjadi pertunjukkan yang menyenangkan, bukan mengkhawatirkan\u2014apalagi menakutkan. Dan demi terciptanya hal itu, perilaku rasis tidak perlu lah diberi panggung, di mana pun dan dalam kondisi apa pun.\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/waspada-pelecehan-seksual-masih-terjadi-dan-merajalela-di-krl\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Waspada, Pelecehan Seksual Masih Terjadi dan Merajalela di KRL<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seto Wicaksono<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelumnya, saya pikir rasisme hanya terjadi di kalangan sesama orang Indonesia dalam memanggil berdasarkan asal daerah orang tersebut\u2014bahkan warna kulit.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":12289,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,401,2637,711],"class_list":["post-12250","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-agama","tag-kritik-sosial","tag-rasisme","tag-sepak-bola"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12250"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12250\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}