{"id":122329,"date":"2021-05-24T11:00:43","date_gmt":"2021-05-24T04:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=122329"},"modified":"2021-11-16T13:01:57","modified_gmt":"2021-11-16T06:01:57","slug":"3-cara-memupuk-nasionalisme-selain-menyanyikan-indonesia-raya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-cara-memupuk-nasionalisme-selain-menyanyikan-indonesia-raya\/","title":{"rendered":"3 Cara Memupuk Nasionalisme selain Menyanyikan &#8216;Indonesia Raya&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain UMR-nya yang rendah, paling tidak, pemerintah Yogyakarta punya akal <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">bulus <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang tinggi. Ya, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/nusantara\/2021\/05\/20\/gerakan-indonesia-raya-bergema-di-diy-menuai-pro-kontra\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">menginisiasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebuah gerakan bertema Indonesia Raya Bergema yang mewajibkan masyarakat baik itu buruh, adik-adik mahasiswa, pekerja sektor informal, dan lain sebagainya untuk menyanyikan Lagu Kebangsaan \u201cIndonesia Raya\u201d di Hari Kebangkitan Nasional kemarin. Alasannya, untuk memupuk nasionalisme warga Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari mulai pabrik-pabrik, pasar, hingga jalanan di Jogja melakukan penghormatan serta penghayatan yang luar biasa dengan menyanyikan lagu \u201cIndonesia Raya\u201d secara serentak. Tapi, sayangnya, menurut saya, menyanyikan \u201cIndonesia Raya\u201d secara serentak saja kurang bernas untuk menumbuhkan rasa nasionalis dan patriotis rakyat Indonesia. Lihat saja, selama 12 tahun saya sekolah dan menyanyikan lagu ini di hari Senin, saya malah sering mumet-mumet liat kondisi bangsa ini. Apalagi pemerintahnya. Nggak ada sama sekali rasa nasionalisme dalam diri saya ketika melihat betapa ngaconya pemerintahan di negeri ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, ide pemerintah, yang tentu saja adalah kumpulan orang-orang paling nasionalis, untuk memupuk rasa nasionalisme dan patriotisme warganya patut diapresiasi. Di tengah-tengah kesemrawutan data BPJS yang bocor, UMR rendah, KPK yang dikebiri, dan penanganan Covid-19 yang plin-plan, mereka punya solusi brilian <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">untuk menutupi kegagalan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> agar warganya bisa tetap cinta bangsa dan negara macam TNI dan Polri. Balik lagi, menurut saya, menyanyikan \u201cIndonesia Raya\u201d saja tidak cukup. Berikut hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah agar orang-orang seperti saya bisa menjadi nasionalis (kembali?).<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Lakukan Tes Wawasan Kebangsaan secara masif di seluruh Indonesia<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">270 juta rakyat Indonesia punya latar belakang yang beragam. Potensi untuk membangkang pada negara sangatlah besar. Tengok Aceh, Papua, Maluku, dan daerah lain yang dulu pernah dan bahkan masih menginginkan daerahnya untuk keluar dari Indonesia. Hal ini tentu saja merugikan Pak Luhut. Eh, maksud saya negara Indonesia. Dengan melakukan TWK secara masif, paling tidak pemerintah bisa tahu mana warga yang nasionalis dan mana yang tidak. Setelah itu, ya, terserah sih. Mau revitalisasi warga yang kurang nasionalis dengan Indonesia Raya atau menghapal Pancasila, pun, boleh-boleh saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TWK ini punya fungsi yang bagus. Nggak perlu itu menyelesaikan pelanggaran HAM, rasisme, ketimpangan, dan sebagainya. Paling tidak, nasib 270 juta rakyat negara ini nggak akan seburuk 75 pegawai KPK karena mereka sudah tahu kisi-kisi soalnya. Itung-itung latihan kalo nanti mau melamar kerja, hehe. Kalo semua warga udah dapet kerja (plus upah yang layak) mah, kan, pasti akan dengan sendirinya jadi nasionalis.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2\u00a0 Jadilah tuan rumah Piala Dunia senior<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, ketika mendukung Timnas, seluruh permasalahan akan lenyap, paling tidak, untuk sementara. Upah rendah, biaya kesehatan dan pendidikan yang mahal, dan berbagai problematika bangsa ini, menurut saya, akan sejenak terlupakan dan teralihkan karena timnas bisa menyatukan kita semua. Baik orang Papua, Aceh, Maluku, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa akan kompak mendukung timnas kita karena, ya, sepak bola bukan cuman sekadar permainan belaka. Apalagi jika ada wakil pemain yang merepresentasikan daerah tersebut di Timnas. Dan tak ada yang dapat membuat rakyat mampu melupakan persoalan mendasar bangsa ini kecuali melihat Timnasnya main di Piala Dunia.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Perbanyak Ciki Aries!<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, mungkin inilah solusi yang paling solutif dibanding dua hal di atas karena melakukan ini relatif mudah. Ya, Ciki Aries, dengan harga 500 perak, selalu menyajikan kejutan yang tak terduga. Saya pernah dapat uang 10 ribu, 20, ribu, hingga 50 ribu dari modal awal 500 perak! Ini mirip seperti investasi saham, lho! Bayangkan saja, jika pemerintah mau memberikan setidaknya satu dus ciki Aries kepada setiap keluarga, niscaya kebutuhan mereka sehari-hari bisa terpenuhi dan nasionalisme mereka terpupuk karena sudah semakin sejahtera. Cocok untuk daerah yang punya upah rendah jam kerja tinggi. Selain mendapatkan uang, tentu ada semacam rasa terhibur karena dapat fresh money dari ciki. Oleh karena itu, bansos-bansos seharusnya juga menyertakan ciki Aries!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itulah beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah selain mewajibkan menyanyikan Indonesia Raya untuk memupuk nasionalisme warganya. Sejatinya, modern problem requires modern solution! Salam NKRI! Merdeka!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dalam-politik-konsep-relawan-paslon-adalah-hal-yang-paling-menjengkelkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dalam Politik, Konsep Relawan Paslon Adalah Hal yang Paling Menjengkelkan\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raihan-rizkuloh-gantiar-putra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Raihan Rizkuloh Gantiar Putra<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282136338016&amp;text&amp;app_absent=0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dijamin tokcer.<\/p>\n","protected":false},"author":1039,"featured_media":85955,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[1413,2756,3193,1203,11643],"class_list":["post-122329","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-diy","tag-indonesia-raya","tag-kpk","tag-nasionalisme","tag-pojok-tubir-terminal"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122329","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1039"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=122329"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/122329\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=122329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=122329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=122329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}