{"id":12040,"date":"2019-09-03T12:15:20","date_gmt":"2019-09-03T05:15:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=12040"},"modified":"2019-09-03T13:51:32","modified_gmt":"2019-09-03T06:51:32","slug":"saya-benci-disebut-bucin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-benci-disebut-bucin\/","title":{"rendered":"Saya Benci Disebut Bucin!"},"content":{"rendered":"<p>Di era ini, ungkapan \u2018<em>bucin<\/em>\u2019 alias \u2018budak cinta\u2019 sering sekali terdengar di masyarakat. Entah siapa yang mempopulerkan, kekuatan internet membuat penyebarannya jadi pesat. Kadang, niatnya mau romantis, tapi jadi bahan <em>nyinyir<\/em> segenap masyarakat (terutama <em>netijen <\/em><span style=\"text-decoration: line-through;\">yang tidak budiman<\/span>).<\/p>\n<p>Sejak kecil, saya suka membaca <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/karya-sastra-berkualitas-eqB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">karya sastra<\/a>. Puisi dan cerpen sudah menemani kehidupan saya sejak bangku SD. Novel juga sih, tapi yang tidak terlalu tebal, yang tak sampai seratus halaman. Setelah masuk SMP, mulailah saya berkenalan dengan novel yang lebih panjang, yang beratus-ratus halaman.<\/p>\n<p>Salah satu tema yang menarik untuk dijadikan karya sastra yakni cinta! Kisah atau tulisan romantis sering memiliki tempat tersendiri bagi pembaca. Semua orang pasti ingin dicintai. Membaca sastra bertema cinta sering kali membuat kita berkhayal bahwa kitalah tokoh utamanya. Saya pun demikian, ada keindahan tersendiri saat membaca dan berkhayal.<\/p>\n<p>Tapi sayang, di era ini, semenjak kata <em>bucin<\/em> merajalela di Indonesia, terutama di kalangan milenial, banyak orang yang jadi ragu menuliskan hal romantis di media sosial atau di surat untuk kekasih. Kenapa? Karena malas disebut <em>bucin<\/em>.<\/p>\n<p>Banyak pula orang yang mengklaim bahwa pembaca kisah cinta adalah kaum <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengapa-bucin-kepo-dan-bahasa-slang-lainnya-harus-benar-benar-kita-tahu-artinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>bucin<\/em><\/a>. Alhasil, sebagian orang pun jadi malas membacanya. Ah, padahal minat baca warga di negeri ini sudah minim, apakah akan jadi semakin minim?<\/p>\n<p>Perlahan tapi pasti, saya jadi tidak suka istilah <em>bucin<\/em>. Memang apa salahnya jika kita mengungkapkan kata romantis atau bersikap romantis melalui tindakan? Mengapa langsung diklam sebagai kaum <em>bucin<\/em>?<\/p>\n<p>Saya adalah tipikal kaum milenial yang sering menggunakan media sosial sebagai tempat curhat. Salah satu topik curhat saya tulis yakni tentang cinta, meski tak terlalu sering. Tapi setiap saya menulis hal-hal berbau cinta di akun media sosial, pasti ada pesan protes yang menghampiri, kurang lebih isinya:<\/p>\n<p><em>\u201cApaan sih, bucin banget!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Atau&#8230;<\/p>\n<p><em>\u201cDasar bucin!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Atau&#8230;<\/p>\n<p><em>\u201cJangan bucin-bucin donk!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Sebuah protes yang menyedihkan. Ayolah, saya hanya ingin berekspresi. Kalau sering disebut <em>bucin<\/em>, saya jadi sering menghalangi ekspresi saya. <em>Nggak<\/em> enak <em>lho<\/em> siebut <em>bucin<\/em>!<\/p>\n<p>Tidak hanya saya yang protes soal ini. Banyak teman saya yang sebenarnya ingin bersikap romantis, tapi justru disebut sebagai <em>bucin<\/em>. <em>Apaan<\/em> sih, <em>nggak<\/em> asik banget hidup di zaman sekarang, apa-apa dikit <em>di-nyinyir-in<\/em>. Memangnya kalian tidak ingin diperlakukan romantis? Memangnya kalian tak ingin dicintai dengan manis? Siapa sih yang tidak ingin diperlakukan baik oleh pasangannya?<\/p>\n<p>Kata-kata dan perlakuan romantis, itu kadang memang perlu <em>lho<\/em> diungkap. Sebagian pasangan justru menganggap bahwa hal tersebut merupakan salah satu \u201cjiwa\u201d dan \u201cseni\u201d dari menjalin hubungan kasih.<\/p>\n<p><em>Bucin<\/em>, alias budak cinta&#8230; <em>nggak<\/em> asik banget, \u2018kan, istilahnya? Mengapa harus sebut-sebut budak? Konotasi budak, biasanya negatif. Kesannya, jadi memadu cinta dengan cara tidak sehat. Padahal, yang mereka sebut <em>bucin<\/em> itu, masih dalam tahap percintaan yang wajar menurut saya. Romantisme yang standar dari sudut pandang saya. Memangnya seperti apa sih standar mencintai bagi kalian?<\/p>\n<p>Mungkin tak semua orang benci disebut <em>bucin<\/em>, tapi untuk sebagian orang&#8230; istilah <em>bucin<\/em> bisa jadi dianggap sebagai penghinaan. Ya&#8230; siapa sih yang mau disebut sebagai budak?<\/p>\n<p>Terkadang, saya tak masalah jika disebut <em>bucin<\/em>. Saat <em>mood<\/em> sedang baik, itu tak masalah, anggap saja bahan bercanda. Tapi ada masa dimana saya sedang benar-benar ingin mengekspresikan perasaan melalui kata-kata, lalu diejek sebagai <em>bucin<\/em>. Di saat itulah, saya benci istilah <em>bucin<\/em>.<\/p>\n<p>Ah, saya sudah mulai muak dan benci dengan kata <em>bucin<\/em>. Saya akui, memang kadang kata romantis saya berlebihan, atau malah <em>garing<\/em>. Tapi tolong <em>donk<\/em>, jangan sebut saya <em>bucin<\/em>. Saya jadi benci dengan istilah <em>bucin<\/em>.<\/p>\n<p>Untuk kalian yang sering mengejek dengan kata <em>bucin<\/em>, coba <em>deh<\/em> mulai dikurangi. Bisa jadi, kalian telah menghalangi seseorang dalam mengekspresikan cintanya. Padahal, mungkin dia butuh waktu sangat panjang untuk berani berekspresi pada orang yang dia cinta. Tidak semua orang mulus dalam pendekatan, sering kali harus melalui proses panjang.<\/p>\n<p>Mungkin, sebagian dari kalian hanya iseng mengucap kata <em>bucin<\/em>. Mungkin, kalian justru marah ketika mendapat protes dari pihak yang kalian sebut bucin. Memang sering dianggap sepele, tapi coba bayangkan efeknya, bisa jadi berefek buruk pada sang lawan bicara. Bisa jadi setelahnya, dia selalu penuh keraguan dalam memperlakukan pasangannya. Atau parahnya, bisa jadi dia benar-benar kehilangan sisi romantisnya.<\/p>\n<p>Coba kalian bayangkan jika kekasih kalian ada di posisi itu. Bayangkan jika dia jadi malas untuk mencintai kalian dengan romantis. <em>Nggak<\/em> asik \u2018kan? <em>Masa<\/em> sih kalian tidak ingin diperlakukan dengan berbagai sisi romantisme?<\/p>\n<p>Ya, sebaiknya, mulai berpikir dari berbagai sisi, tentang penggunaan kata bucin dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau memang kalian sudah paham betul sifat lawan bicara, sudah yakin bahwa dia tak akan sakit hati, mungkin tidak apa, asal jangan berlebihan juga. Semua yang berlebihan itu tidak baik.\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hewan-hewan-ini-lebih-bucin-dari-fiersa-besari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hewan-hewan Ini Lebih Bucin dari Fiersa Besari<\/a>\u00a0atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Nursyifa-Afati-Muftizasari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nursyifa Afati Muftizasari<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin tak semua orang benci disebut bucin, tapi untuk sebagian orang&#8230; istilah bucin bisa jadi dianggap sebagai penghinaan. <\/p>\n","protected":false},"author":261,"featured_media":12064,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[546,3057,497,688,383,167],"class_list":["post-12040","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anak-muda","tag-benci","tag-bucin","tag-budak-cinta","tag-curhat","tag-pacaran"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12040","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/261"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12040"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12040\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12064"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12040"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12040"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12040"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}